Microsoft Paint Bisa Sulap Kucing Jadi Donat (Katanya): AI Makin Cerdas, Akal Sehat Majikan Makin Diuji!
Dulu, Microsoft Paint cuma aplikasi ‘pelarian’ saat bosan, tempat kita menggambar gunung dan rumah dengan ‘garis patah-patah’ yang tak pernah sempurna. Kini, si Paint yang legendaris ini naik kelas, atau setidaknya begitu klaim Microsoft, dengan fitur AI baru yang konon bisa membuat buku mewarnai dari perintah teks. Tapi, sebagai majikan yang punya akal, pertanyaan kita adalah: apakah ini benar-benar peningkatan atau cuma atraksi sulap AI agar laptop Copilot Plus mereka laku?
Microsoft memang sedang gencar menyuntikkan ‘kecerdasan’ buatan ke aplikasi-aplikasi bawaan Windows 11. Selain Paint, Notepad juga kebagian jatah dengan kemampuan menulis, menulis ulang, dan merangkum teks otomatis. Cukup masukkan perintah, dan voilà, teks akan muncul. Mirip asisten yang rajin tapi kadang salah dengar, bukan?
Namun, sorotan utama ada pada fitur ‘Coloring book’ di Paint. Dengan perintah seperti ‘kucing lucu di atas donat’, AI akan menyajikan empat hasil gambar kerangka siap diwarnai. Kedengarannya canggih, bukan? Faktanya, hasil generasinya… ehem, masih perlu banyak piknik. Seperti yang terlihat dari contoh gambar, tidak semua ‘kucing’ benar-benar ‘di atas donat’, bahkan ada yang mukanya belum lengkap. Ini bukan kreativitas, ini namanya AI yang masih perlu banyak jam terbang di TK seni rupa.
Fitur ini kabarnya hanya tersedia di PC Copilot Plus. Jelas sekali, ini bukan tentang memenuhi kebutuhan mendesak para ‘maestro’ seni digital di Paint, melainkan cara Microsoft untuk mempromosikan perangkat Windows 11 yang katanya ‘super cerdas’ itu. Jadi, lain kali AI menawarkan untuk menggambar kucing di atas donat, pastikan Anda juga menyiapkan gambar donat dan kucing terpisah, jaga-jaga kalau AI-nya lagi kurang fokus.
Sisi positifnya, Paint juga mendapat ‘fill tolerance slider’ yang tidak terbatas pada perangkat Copilot, memberikan kontrol lebih baik saat mengisi warna. Ini seperti memberikan tongkat estafet yang lebih panjang kepada pelari yang sudah tahu arah, sementara AI masih sibuk mengikat tali sepatu sendiri.
Notepad juga menunjukkan kemajuan dengan kemampuan streaming hasil AI, di mana pratinjau teks muncul cepat tanpa menunggu hasil lengkap. Ini cukup praktis, seperti asisten yang membisikkan jawaban sebelum Anda selesai bertanya, walau terkadang bisikannya perlu dikoreksi. Selain itu, Notepad kini mendukung format Markdown seperti garis coret dan daftar bertingkat. Fitur-fitur ini memang fungsional, tapi apakah kita perlu AI untuk sekadar menggarisbawahi atau membuat daftar? Mungkin AI bisa diajari membuat daftar belanja bulanan, agar tidak lupa beli sabun mandi.
Ini mengingatkan kita pada artikel sebelumnya tentang Microsoft Paint yang ‘gak sengaja’ bikin karya seni abstrak, alih-alih kucing di atas donat. Atau mungkin ini bagian dari strategi besar, seperti yang kita bahas di ‘AI di Perusahaan Anda Cuma Jadi Pajangan Mahal? Saatnya Ubah Mentalitas, Bukan Cuma Infrastruktur!’, di mana AI lebih sering jadi etalase daripada solusi nyata.
Bagi majikan yang ingin melatih AI-nya agar tidak lagi halu saat menggambar kucing di atas donat, atau ingin menciptakan konten visual yang lebih ‘tidak robot banget’, ada banyak jalan. Misalnya, dengan menguasai visual AI melalui program Belajar AI | Visual AI. Atau, jika Anda ingin AI Anda tidak hanya cerdas tapi juga punya ‘cita rasa’ dalam kreasi, Creative AI Pro bisa jadi jawabannya. Sebab, AI hanya alat, dan kualitas hasilnya sangat bergantung pada seberapa piawai majikan mengendalikan.
Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.
Pada akhirnya, sehebat apa pun fitur AI yang disuntikkan ke aplikasi sehari-hari, ingatlah: tombol ‘Undo’ atau ‘Print’ tetap harus ditekan oleh tangan manusia. Tanpa akal sehat dan arahan jelas dari Majikan, AI hanyalah tumpukan kode yang berusaha keras meniru kecerdasan, kadang dengan hasil yang bikin geleng-geleng kepala.
Mungkin suatu hari nanti, AI akan cukup pintar untuk membedakan antara ‘kucing di atas donat’ dan ‘kucing dengan muka ngantuk di samping tumpukan adonan’, atau setidaknya tahu kapan harus menyeduh kopi pahit.
Sumber Berita: Artikel ini dirangkum dari sumber asli di The Verge.
Gambar oleh: Microsoft / The Verge