Meta Diam-Diam Kembangkan ‘Nama Tag’ di Kacamata Pintar: Akalmu Masih Perlu, Atau Pasrah Di-Scan Robot?
Hei, Para Majikan AI! Siap-siap, karena asisten digital kita sebentar lagi tidak hanya akan ada di ponsel atau layar laptop, tapi juga nangkring manis di hidung, mengintai dunia dari balik lensa kacamata. Meta, sang raksasa yang dulunya hobi jualan Metaverse halusinasi, kini dilaporkan sedang menggodok fitur pengenalan wajah untuk kacamata pintarnya. Pertanyaannya, bagaimana majikan yang punya akal bisa memanfaatkan inovasi ini tanpa merasa seperti objek penelitian di kebun binatang digital?
Menurut laporan dari The New York Times, Meta berencana meluncurkan fitur “Nama Tag” ini saat para pembela privasi sedang sibuk dengan urusan politik. Rencana ini, yang terungkap dalam dokumen internal dari bulan Mei tahun lalu, jelas menunjukkan bagaimana perusahaan teknologi besar berani ambil risiko ketika perhatian publik terpecah. Dulu, Meta pernah “tobat” dari fitur serupa di Facebook pada 2021 setelah babak belur di meja hijau. Tapi sepertinya pelajaran itu cuma numpang lewat di telinga para insinyur Meta.
Fitur “Nama Tag” ini, konon, memungkinkan pengguna kacamata pintar Meta (yang dibuat bersama Ray-Ban dan Oakley) untuk mengidentifikasi orang yang mereka kenal di platform Meta, bahkan orang yang punya akun publik di Instagram. Bayangkan, Anda jalan-jalan santai, lalu tiba-tiba kacamata Anda berkedip, “Itu Bu RT, majikanmu di grup arisan yang belum bayar utang!” Menarik, tapi juga mengerikan. Fungsi ini memang bisa berguna bagi penyandang tunanetra atau low vision, seperti yang dikembangkan oleh Envision bekerja sama dengan Solos. Namun, ada perbedaan besar: Envision memerlukan pengguna untuk memotret dan memberi nama secara manual, bukan otomatis “nyelonong” ke database sosial kita. Robot memang rajin, tapi kalau kerajinan itu sampai mengancam privasi, apakah itu masih cerdas namanya? Justru di sinilah akal majikan diuji, untuk tidak sekadar jadi babu teknologi yang pasrah di-scan sana-sini.
Meta sendiri, lewat juru bicaranya Erin Logan, hanya bisa bilang bahwa mereka “masih memikirkan opsi dan akan mengambil pendekatan yang bijaksana.” Klise! Robot itu tidak bisa berpikir bijaksana kalau tidak ada majikannya yang menekan tombol “STOP”. Mereka hanya mengejar data, data, dan data. Lalu apa bedanya dengan tukang kredit yang suka mengintai setiap gerak-gerikmu di media sosial?
Kita bisa belajar dari insiden lain. Pernahkah Anda merasa seperti “data berjalan” saat Google mulai mengintip isi email dan foto pribadi Anda? Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot. Kasus Meta ini mirip, hanya saja kali ini “mata-mata” itu nangkring di hidung kita. Hal ini mengingatkan kita akan pentingnya mengendalikan AI, bukan dikendalikan. Jangan sampai kita jadi seperti pengasuh yang terlalu mempercayai asisten rumah tangga robotnya sampai semua rahasia keluarga terbongkar. Untuk menguasai bagaimana AI bekerja di belakang layar dan bagaimana cara membatasinya agar tidak “ngelunjak” seperti ini, ada baiknya Anda mulai mendalami AI Master. Program ini akan memastikan Anda tetap menjadi bos, bukan babu teknologi.
Sebagai majikan yang cerdas, kita harus tahu kapan harus memberikan kebebasan pada asisten digital dan kapan harus menarik rem tangan. Jangan biarkan kacamata pintar Anda berubah menjadi mata-mata pribadi yang membocorkan data hanya karena Anda malas belajar mengendalikan. Kuasai teknologi visual AI agar Anda tidak kalah canggih dari robot. Pelajari lebih lanjut tentang menguasai aspek visual AI di Belajar AI | Visual AI, karena bagaimanapun juga, Anda adalah penguasa, bukan pengikut.
Pada akhirnya, tanpa akal sehat majikan yang menekan tombol “off” atau “on”, kacamata pintar Meta hanyalah seonggok plastik mahal dengan kamera yang terlalu kepo. Dan ingat, sikat gigi itu penting, terutama setelah makan martabak keju.
Sumber Berita: Artikel ini dirangkum dari sumber asli di The Verge dan The New York Times.
Gambar oleh: Amelia Holowaty Krales via The Verge