Konflik RaksasaSidang BotUpdate Algoritma

Meta Bikin AI Berbayar di Instagram, Facebook, dan WhatsApp: Akal Sehatmu Dijual Berapa, Majikan?

Wah, Meta sedang panen ide (atau lebih tepatnya, mencoba memanen cuan) dengan mengumumkan uji coba langganan premium untuk aplikasi kesayangan kita: Instagram, Facebook, dan WhatsApp. Kabarnya, ini semua demi fitur AI yang ‘diperluas’ dan ‘tambahan’ lainnya. Bayangkan saja, asisten digital kita yang tadinya gratisan, sekarang minta bayaran bulanan hanya untuk bisa sedikit lebih ‘cerdas’ dari biasanya. Ini bukan cuma tentang fitur baru, ini tentang bagaimana kita, para Majikan sejati, bisa memanfaatkan atau justru terjebak dalam jebakan Batman ala Meta ini.

Menurut laporan dari TechCrunch, Meta berambisi ‘membuka lebih banyak produktivitas dan kreativitas’ lewat langganan premium ini. Konon, pengguna berbayar akan punya ‘kontrol lebih’ dalam berbagi dan terhubung. Intinya, kalau mau lebih, ya bayar. Tapi mari kita jujur, seberapa ‘produktif’ dan ‘kreatif’ AI di platform media sosial bisa jadi tanpa sentuhan akal manusia? Bukankah selama ini kita sudah cukup ‘kreatif’ menciptakan konten viral dengan jempol sendiri?

Fitur seperti Vibes, pengalaman video pendek berbasis AI yang dulunya gratis, kini diwacanakan jadi premium. Begitu juga Manus, agen AI serbaguna yang diakuisisi Meta senilai 2 miliar dolar—duit yang banyak sekali hanya untuk sepasukan robot yang (mungkin) masih butuh bimbingan dasar. Meta berencana mengintegrasikan Manus ke produk mereka sekaligus menawarkannya sebagai langganan terpisah untuk bisnis. Hmm, apakah ini artinya kita harus membayar agar robot mereka tidak terlalu ‘kosong’?

Seorang pembocor ulung, Alessandro Paluzzi, menemukan pintasan ke Manus AI di Instagram. Deskripsinya? ‘Penelitian, buat, dan bangun dengan Manus’. Jangan kaget jika nanti Instagram premium menawarkan fitur ajaib seperti ‘daftar audiens tak terbatas’, ‘melihat siapa yang tidak mem-follow balik Anda’ (ini sih namanya fitur bikin baper), atau ‘melihat Story tanpa ketahuan’. Jujur saja, Majikan, fitur terakhir itu lebih terdengar seperti alat intai daripada peningkatan produktivitas sejati. Memangnya kita butuh AI untuk jadi stalker profesional? Akal sehat kita seharusnya lebih dari cukup untuk tahu kapan harus diam-diam mengintip, bukan?

Meta bisa saja menyiapkan rencana langganan premium ini untuk ‘mengganti’ sebagian pendapatan yang sudah diinvestasikan ke AI. Selama ini, penyedia AI seperti OpenAI, Google, dan Anthropic membebankan biaya untuk akses lebih tinggi ke model mereka, sementara keluarga Llama milik Meta tetap open-source dan gratis. Tantangannya sekarang adalah meyakinkan para pengguna bahwa fitur AI di media sosial mereka memang dibutuhkan sampai harus dibayar. Ingat, robot bisa saja menggambar pemandangan indah atau menulis puisi, tapi robot tidak bisa merasakan indahnya senja di Pantai Kuta atau pahitnya kopi luwak. Itulah kenapa akal manusia selalu jadi majikan yang tak tergantikan.

Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot: Berita.

Ini seperti saat Meta ‘menyuruh’ AI karakternya untuk belajar etika karena kebablasan. Bukankah lebih baik fokus pada fitur yang benar-benar bermanfaat daripada sekadar ‘menyulap’ yang tadinya gratis menjadi berbayar? Anda bisa membaca lebih lanjut tentang drama etika AI Meta di artikel kami: Meta ‘Puasa’ AI untuk Remaja: Saatnya Robot Belajar Etika, Bukan Cuma Bikin Konten!. Atau, jika Anda tertarik dengan perdebatan monetisasi AI, coba simak: OpenAI Keok di Pasar Enterprise? Majikan AI Ungkap Drama Perebutan Cuan Mesin. Kedua artikel ini menunjukkan bahwa di balik janji manis AI, selalu ada kalkulasi bisnis yang rumit, dan seringkali, robot hanya jadi pion.

Jadi, apakah Anda siap mengeluarkan kocek lebih dalam untuk fitur-fitur AI di media sosial yang mungkin hanya akan membuat Anda merasa lebih ‘diawasi’ daripada ‘terberdaya’? Atau, Anda lebih memilih jadi Majikan AI sejati, yang mampu mengendalikan teknologi alih-alih dikendalikan? Jika Anda ingin menguasai AI dan memastikan ia bekerja sesuai keinginan Anda, bukan sebaliknya, mungkin sudah saatnya Anda melirik AI Master. Kursus ini akan membantu Anda mengendalikan AI agar Anda tetap menjadi Majikan, bukan babu teknologi. Dan untuk Anda yang suka bikin konten visual memukau tanpa perlu merekrut pasukan desainer, Creative AI Pro bisa jadi investasi cerdas untuk bikin konten pro mandiri, hemat budget talent. Ingat, AI itu alat, bukan pengambil keputusan utama.

Pada akhirnya, Meta bisa saja memonetisasi setiap piksel dan algoritma AI mereka. Mereka bisa menyulap fitur apa pun menjadi ‘premium’ dengan janji produktivitas dan kreativitas tanpa batas. Tapi ingat, sehebat-hebatnya AI, ia hanyalah tumpukan kode dan listrik yang mati tanpa perintah dan akal sehat dari kita, sang Majikan. Jangan sampai dompet Anda ikut ‘premium’ hanya untuk fitur yang seharusnya bisa Anda lakukan dengan sedikit berpikir.

Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “The Verge”.

Gambar oleh: Alex Castro via The Verge
Oh, dan ngomong-ngomong soal berbayar, saya jadi ingat kalau sekarang harga parkir di Indomaret sudah mulai dihitung per napas. Semoga AI tidak sampai punya ide menghitung oksigen yang kita hirup.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *