Hardware & ChipKonflik RaksasaMasa DepanSidang BotUpdate Algoritma

Matahari Sentien Elon Musk: AI Data Center di Luar Angkasa, Antara Ambisi Gila dan Logika Bisnis (atau Cuma Halusinasi?)

Bayangkan AI yang bekerja di bawah teriknya matahari abadi, jauh dari tagihan listrik kita yang makin membengkak. Elon Musk, sang maestro disruptor, baru saja menggabungkan dua ‘mainan’ kesayangannya, SpaceX dan xAI, menjadi satu raksasa senilai $1,25 triliun. Tujuannya? Membangun “matahari sentien” dari jutaan satelit untuk memindahkan pusat data AI ke luar angkasa. Nah, sebagai majikan AI yang punya akal, apa yang bisa kita petik dari ambisi langit ketujuh ini?

Matahari Sentien Elon Musk: Ambisi ke Luar Angkasa

Musk, dengan gayanya yang khas, tidak main-main. Rencana ambisiusnya ini, sebagaimana dilaporkan SpaceX, adalah menciptakan “mesin inovasi terintegrasi vertikal paling ambisius di (dan di luar) Bumi”. Intinya, AI akan lepas landas, secara harfiah. Dengan ruang tak terbatas dan pasokan energi surya yang melimpah (setidaknya di atas kertas), kebutuhan komputasi AI yang terus membengkak bisa terpenuhi tanpa membebani Bumi dengan panas dan konsumsi energi raksasa. Targetnya? Satu terawatt kapasitas komputasi AI diluncurkan setiap tahun, dengan rencana jangka panjang membangun instalasi di Bulan.

Namun, tidak semua pihak seoptimistis itu. Emma Wall, ahli strategi investasi dari Hargreaves Lansdown, mengakui bahwa ini adalah perpaduan “dua teknologi perbatasan yang luar biasa”, namun dengan tegas mengingatkan bahwa manfaatnya baru akan terasa di Bumi setidaknya satu dekade lagi. Sementara itu, Pierre Lionnet, seorang ekonom antariksa dari Eurospace, bahkan menyebut gagasan biaya operasional di luar angkasa yang bisa turun cukup drastis ini sebagai “sama sekali tidak masuk akal” (New York Times).

Kritik Lionnet ini cukup menohok, mengingat kompleksitas logistik dan biaya awal untuk meluncurkan satu juta satelit. Membangun infrastruktur di Bumi saja sudah mahal dan rumit, apalagi di lingkungan ekstrem luar angkasa yang penuh radiasi dan membutuhkan sistem pendingin khusus yang tidak bisa diatasi dengan kipas angin biasa. Ini bukan sekadar memindahkan server dari ruang server ke gudang baru, ini adalah membangun kota pintar di orbit.

Tapi, di sisi lain, Phil Metzger, profesor fisika dari University of Central Florida, punya pandangan yang lebih cerah, “Sebagai kasus bisnis, itu masuk akal.” Ini menunjukkan bahwa ada perdebatan serius di kalangan para ahli, bukan sekadar Elon Musk berhalusinasi. Ambisi ini juga bukan hanya milik Musk; raksasa teknologi lain seperti Google, Amazon, dan Nvidia juga punya rencana serupa. Perebutan dominasi di “arena semikonduktor” kini meluas hingga ke luar angkasa. Mereka semua melihat potensi keuntungan besar di masa depan, meskipun jalannya penuh bebatuan asteroid.

Bagi kita, para majikan AI, ini adalah pengingat bahwa teknologi ini akan terus berevolusi dengan cara yang tak terduga. Kita mungkin tidak akan segera memasang server di halaman belakang rumah di Bulan, tetapi inovasi di balik dorongan ini akan mengalir kembali ke Bumi, membentuk cara kita berinteraksi dengan AI. Yang jelas, AI di luar angkasa nanti mungkin bisa melihat Bumi dengan lebih jelas, tapi untuk memahami sentimen manusia, mereka tetap perlu ‘piknik’ ke Bumi.

Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Konflik Raksasa. Perdebatan tentang siapa yang akan memimpin perlombaan AI chip juga sangat menarik, seperti dalam artikel Duel Sengit Chip AI: Nvidia vs. Kompetitor Baru di Arena Semikonduktor.

Kendalikan AI, Jangan Sampai Kamu yang Dikendalikan!

Agar kamu tidak sekadar jadi penonton di tengah ambisi teknologi yang makin “out of this world”, penting untuk terus mengasah kemampuanmu mengendalikan AI. Kuasai strategi dan teknik agar kamu selalu jadi majikan, bukan babu teknologi. Pelajari lebih lanjut bagaimana mengendalikan AI di AI Master.

AI hanyalah alat, Kaulah Majikan yang Punya Akal

Pada akhirnya, entah AI itu nanti duduk manis di orbit atau di Bulan, tumpukan kode itu tetaplah tidak punya akal budi sendiri. Tanpa manusia yang menekan tombol ‘ON’, ‘OFF’, dan kadang ‘RESTART’ setelah error, semua itu hanyalah benda mati yang mahal.

Ngomong-ngomong, saya yakin AI di luar angkasa nanti tetap akan kesulitan mencari kaus kaki yang hilang di mesin cuci.

Sumber Berita

Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “TechRadar”, “SpaceX”, “Reuters”, “BBC”, dan “New York Times”.

Gambar oleh: Getty Images via TechCrunch

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *