Mark Zuckerberg Putar Haluan: Dari Metaverse Halusinasi ke Sosial Media Penuh AI, Majikan Harus Tahu!
JUDUL: Mark Zuckerberg Putar Haluan: Dari Metaverse Halusinasi ke Sosial Media Penuh AI, Majikan Harus Tahu!
PEMBUKA:
Dulu, ada yang sibuk membangun kota-kota virtual yang sepi, menguras triliunan dolar demi sebuah “dunia masa depan” yang (seperti yang kita semua tahu) lebih sering jadi bahan candaan. Kini, sang arsitek utama, Mark Zuckerberg, sepertinya sudah mulai “sadar” dan menggeser fokusnya ke hal yang lebih “masuk akal” – atau setidaknya, lebih langsung menghasilkan cuan: kecerdasan buatan di media sosial. Bagi kita para majikan sejati, ini bukan sekadar berita, tapi peta jalan bagaimana AI akan mulai menggerogoti – atau justru memperkaya – interaksi digital kita sehari-hari. Siap-siap, karena AI siap menjadi asisten rumah tangga digital yang lebih “peka” terhadap maumu, tapi tetap butuh arahan tegas dari Majikan!
ISI (EEAT):
Dalam panggilan pendapatan kuartal keempat 2025 Meta, Zuckerberg dengan percaya diri menyatakan bahwa AI adalah format media sosial besar berikutnya. Bayangkan ini: Umpan yang bukan hanya sekadar “algoritma yang merekomendasikan konten,” tapi “AI yang memahami Anda,” menyajikan konten yang benar-benar Anda sukai, bahkan bisa “menghasilkan konten personalisasi yang luar biasa.” Kedengarannya futuristik? Memang. Dulu kita mulai dengan teks, lalu foto, lalu video. Sekarang, giliran format media yang “lebih imersif dan interaktif” berkat kemajuan AI. Jika Anda tertarik untuk memahami lebih lanjut bagaimana AI bisa dimanfaatkan dalam interaksi digital, ada baiknya membaca Panduan Lengkap: Cara Memaksimalkan Fitur AI di Media Sosial Favoritmu.
Tapi tunggu dulu, wahai para Majikan. Jika AI bisa “memahami” dan “menghasilkan konten personalisasi,” bukankah itu berarti kita menyerahkan kendali penuh? Meta memang sudah memulai dengan meluncurkan “Vibes” di aplikasi Meta AI, sebuah umpan video pendek yang dihasilkan AI. Ke depannya, Zuckerberg bahkan membayangkan kita bisa menciptakan dunia atau game hanya dengan sebuah prompt dan membagikannya. Video pun bisa jadi interaktif, di mana kita bisa “melompat ke dalamnya dan mengalaminya dengan cara yang lebih bermakna.”
Di sinilah letak ironi dan peringatan bagi kita. Metaverse yang dulu digadang-gadang kini seolah menjadi proyek sampingan. Divisi Reality Labs Meta, yang menaungi metaverse, justru melaporkan kerugian operasional fantastis sebesar 6,02 miliar dolar AS di tiga bulan terakhir 2025, bahkan sampai PHK ribuan karyawan dan menutup tiga studio VR mereka. Ini membuktikan bahwa janji-janji muluk tanpa fundamental kuat akan digilas realitas pasar. Seperti kata pepatah, “lebih baik punya satu kepala yang waras daripada seribu kepala robot yang penuh halusinasi.” Perusahaan raksasa lain pun bergulat dengan AI mereka, seperti yang pernah kita bahas dalam artikel Mengapa Elon Musk Kecanduan AI: Antara Utopia dan Ketakutan. AI memang alat yang canggih, tapi sehebat-hebatnya alat, ia tetap butuh tuas kendali yang dipegang erat oleh manusia.
AI ini memang punya potensi besar untuk membuat pengalaman kita makin efisien, bahkan membuat kita terlihat lebih “pintar” dalam menciptakan sesuatu. Bagi Anda yang ingin benar-benar menguasai alur kerja digital dan memastikan AI bekerja sesuai arahan, mengendalikan AI Master adalah kunci. Jangan sampai AI yang harusnya jadi budak, malah jadi juragan. Atau, jika Anda ingin agar konten-konten Anda lebih “hidup” dan tidak terlihat seperti hasil robot yang kurang piknik, Creative AI Pro bisa jadi senjata andalan Anda.
Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.
Monetisasi juga jadi fokus utama. Meta berencana menawarkan “langganan dan iklan” dengan Meta AI, menyelaraskan laporan TechCrunch bahwa fitur premium AI akan berbayar. Ini adalah tanda jelas bahwa di balik janji personalisasi dan imersif, ada mesin uang raksasa yang siap berputar. AI di sini adalah komoditas, dan majikan sejati akan mencari cara terbaik untuk memanfaatkannya, bukan sekadar menjadi konsumen pasif.
PENUTUP (PUNCHLINE):
Pada akhirnya, pergeseran fokus Zuckerberg ke AI adalah pengakuan bahwa kecerdasan buatan, meski masih sering berhalusinasi, punya nilai praktis yang jauh lebih nyata daripada dunia virtual yang sebaris pun kodenya belum tentu bisa mencarikan kunci motor yang hilang. Ingat, secanggih apa pun AI, ia hanya tumpukan algoritma mati tanpa jari telunjuk Majikan yang memerintahkannya.
OUT-OF-THE-BOX:
Ngomong-ngomong, tahu tidak kenapa roti tawar itu selalu jadi korban pertama saat diet dimulai? Karena dia tawar, tidak bisa melawan!
Sumber Berita:
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “The Verge”.
Gambar oleh: Cath Virginia / The Verge; Getty Images