AI MobileKonflik RaksasaSidang BotSoftware SaaSStrategi Startup

Mantan Trio Google Bikin AI Buat Anak, Akui ChatGPT Cuma Tembok Teks Membosankan

Para orang tua modern seringkali menjadikan AI sebagai jalan pintas untuk menjawab rentetan pertanyaan penasaran dari anak-anak mereka. Tapi, tiga mantan punggawa Google justru mengaku bahwa cara itu payah. Mereka sadar, menyodorkan jawaban dari ChatGPT atau Gemini ke anak-anak itu ibarat memberi mereka tembok teks yang dingin dan membosankan.

Inilah celah yang coba ditaklukkan oleh Lax Poojary, Lucie Marchand, dan Myn Kang lewat startup baru mereka, Sparkli. Berbekal dana segar $5 juta, mereka membangun aplikasi belajar interaktif berbasis AI generatif, khusus untuk membuktikan bahwa AI bisa lebih dari sekadar mesin penjawab yang kaku.

Mesin Penjawab vs Guru Interaktif

Pangkal masalahnya sederhana. Salah satu pendiri, Lax Poojary, frustrasi saat mencoba menjelaskan konsep rumit seperti “bagaimana hujan turun” kepada anaknya menggunakan AI. “Apa yang anak-anak inginkan adalah pengalaman interaktif,” katanya. Jawaban AI standar hanyalah tumpukan paragraf tanpa nyawa, tak beda jauh dengan ensiklopedia digital yang kering.

Sparkli bekerja dengan cara berbeda. Alih-alih hanya memberi teks, aplikasi ini menciptakan apa yang mereka sebut “ekspedisi belajar”. Ketika seorang anak bertanya tentang planet Mars, Sparkli tidak hanya memberikan fakta, tetapi juga menghasilkan petualangan multimedia—lengkap dengan gambar, audio, video, kuis, dan bahkan game—yang dibuat secara dinamis dalam waktu kurang dari dua menit.

Ini adalah contoh sempurna bagaimana AI hanyalah alat. Tanpa arahan dari majikan yang punya akal, AI hanyalah asisten rumah tangga yang rajin tapi bodoh. Dia bisa menyajikan data mentah, tapi tidak punya inisiatif untuk membuatnya menarik. Para pendiri Sparkli bertindak sebagai Majikan yang memberi perintah: “Jangan cuma beri aku data, tapi kemas data itu menjadi sebuah pengalaman yang tidak akan dilupakan seorang anak.”

Untuk memastikan kualitasnya, Sparkli merekrut seorang doktor di bidang ilmu pendidikan dan seorang guru sebagai dua karyawan pertama mereka. Sebuah langkah cerdas yang menunjukkan bahwa sentuhan manusia—sang Majikan—tetap menjadi kunci utama dalam pendidikan, bahkan ketika alatnya secanggih AI.

> Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.

Menjinakkan AI untuk Anak-Anak

Tentu saja, melepas AI untuk berinteraksi dengan anak-anak punya risiko. Isu keamanan menjadi perhatian utama. Sparkli mengklaim telah memasang pagar pengaman yang ketat. Konten-konten berbahaya secara otomatis diblokir. Untuk topik sensitif seperti self-harm, aplikasi ini dirancang untuk tidak memberi jawaban langsung, melainkan mengarahkan anak untuk belajar kecerdasan emosional dan mendorong mereka berbicara dengan orang tua.

Mereka tidak hanya membangun AI, tetapi membangun sistem pendidikan yang aman di sekeliling AI tersebut. Jika Anda ingin mendalami cara mengendalikan AI agar bekerja sesuai tujuan spesifik Anda, baik untuk bisnis maupun proyek pribadi, kelas AI Master akan memberikan kerangka kerjanya. Di sisi lain, kemampuan Sparkli menciptakan konten visual dan audio secara mandiri menunjukkan betapa kuatnya AI generatif. Para profesional bisa mempelajari teknik serupa di Creative AI Pro untuk memproduksi konten berkualitas tanpa bergantung pada talenta eksternal.

Saat ini, Sparkli sedang dalam tahap uji coba di jaringan sekolah dengan lebih dari 100.000 siswa dan berencana untuk merilis versi konsumen pada pertengahan 2026. Ini adalah pengingat bahwa AI generatif bukan hanya soal chatbot atau gambar aneh, tapi soal bagaimana manusia memanfaatkannya untuk menciptakan nilai tambah yang nyata.

Pada akhirnya, Sparkli ada bukan karena kehebatan AI semata. Ia lahir dari keresahan tiga orang tua yang melihat keterbatasan teknologi yang mereka bantu bangun di Google. Mereka membuktikan bahwa tanpa perintah, visi, dan empati dari seorang Majikan, AI hanyalah tumpukan kode mati yang tak akan pernah bisa menginspirasi generasi penerus kita.

Lagipula, kabel charger laptopku sering hilang sendiri.

Sumber Berita:
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di TechCrunch.
Gambar oleh: Sparkli via TechCrunch

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *