LinkedIn Kini Punya Fitur Pamer Skill AI: Antara Akal Majikan dan ‘Piala’ Kosong (Awas, Jangan Cuma Jadi Jagoan Badge!)
Para majikan digital, siapkan profil terbaik Anda! LinkedIn, platform jejaring profesional milik Microsoft, baru saja meluncurkan fitur anyar yang bakal bikin CV Anda makin bersinar (atau malah makin pusing?). Kini, Anda bisa pamerkan keahlian AI Anda dengan lencana khusus di profil. Ini bukan sekadar tempelan, tapi validasi langsung dari penggunaan alat AI di dunia nyata. Pertanyaannya: apakah lencana ini benar-benar membuktikan Anda seorang majikan AI sejati, atau hanya sekadar hiasan profil belaka?
Dunia kerja memang sedang tergila-gila dengan AI. LinkedIn sendiri mencatat bahwa kemampuan AI kini menjadi keterampilan paling dicari oleh rekruter, bahkan mengalahkan gelar sarjana yang sudah diwariskan turun-temurun. Ini adalah sinyal jelas bahwa pasar kerja sedang bergeser ke model “skills-first”, di mana yang penting bukan lagi ijazah setinggi langit, tapi seberapa jago Anda memerintah robot.
Lencana kecakapan AI ini tidak main-main. LinkedIn menggandeng beberapa mitra teknologi terkemuka seperti Descript, Lovable, Relay.app, Replit, hingga raksasa seperti GitHub. Uniknya, validasi ini bukan cuma pengakuan di atas kertas atau hasil tes pilihan ganda. Sistem mereka akan menggunakan AI untuk menganalisis langsung bagaimana Anda berinteraksi dan menghasilkan karya dengan alat-alat tersebut. Artinya, ini bukan cuma klaim sepihak, melainkan bukti “jejak digital” Anda di dunia per-AI-an.
Namun, di sinilah letak ironinya. Sebanyak apapun lencana yang Anda kumpulkan, AI tetaplah sebuah alat. Ingat tagline kita: “Sebab AI Hanyalah Alat, Kaulah Majikan yang Punya Akal”. Lencana-lencana ini memang mempermudah rekruter menyaring talenta, tetapi yang tidak bisa diukur oleh lencana adalah akal sehat, adaptabilitas, dan kemampuan berpikir kritis seorang manusia. Robot sehebat apapun tetap butuh pengarah, dan di situlah peran seorang majikan sejati diuji. Apakah Anda mampu berinovasi, beradaptasi dengan teknologi yang terus berubah, dan tidak sekadar menjadi operator rajin yang cuma tahu menekan tombol?
Kita sering mendengar keluhan tentang kinerja AI yang masih “kurang piknik”, seperti yang kami bahas dalam artikel “AI Agen Industri: Hebat di Kertas, Lemah di Lapangan? IBM Ungkap Fakta Pahit Lewat Benchmark Baru!”. Lencana memang keren, tapi jangan sampai terjebak dalam ilusi bahwa badge ini sudah cukup. Yang lebih penting adalah memahami esensi di balik teknologi AI, bukan sekadar mahir mengoperasikannya.
Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.
LinkedIn melaporkan lebih dari 100 juta penggunanya telah memverifikasi akun mereka per Desember 2025. Ini menunjukkan tren besar menuju transparansi dan kredibilitas, baik untuk identitas profesional maupun keterampilan digital. Tentu saja, Microsoft ingin agar setiap anggota, pekerjaan, dan perusahaan di LinkedIn memiliki setidaknya satu jenis verifikasi. Ini adalah upaya mulia, tapi mari kita pastikan bahwa di balik lencana-lencana berkilau itu, ada manusia-manusia cerdas yang benar-benar memegang kendali, bukan sekadar boneka yang digerakkan algoritma. Anda juga mungkin tertarik dengan artikel kami tentang “Bos Nvidia: Bangun Infrastruktur AI Terbesar Sepanjang Sejarah, Ciptakan Jutaan Pekerjaan!” yang membahas bagaimana manusia tetap menjadi kunci di balik kemajuan teknologi.
Jika Anda ingin menjadi majikan AI yang sesungguhnya, bukan sekadar kolektor lencana, Anda perlu lebih dari sekadar tahu cara pakai tool. Anda perlu menguasai AI dari akarnya, agar Anda bisa mengarahkan, bukan diarahkan. Pelajari seluk-beluk AI dan ambil kendali penuh dengan mengikuti kelas AI Master. Di sana, Anda akan belajar bagaimana menjadikan AI sebagai asisten terbaik, bukan bos baru Anda. Atau jika Anda ingin agar strategi marketing Anda tidak terlihat “robot banget”, pastikan Anda menguasai Creative AI Marketing. Ingat, lencana itu penting, tapi strategi cerdas jauh lebih krusial.
Pada akhirnya, lencana LinkedIn hanya akan jadi seonggok piksel jika otak manusia di baliknya tidak berkembang. AI hanyalah refleksi dari kecerdasan yang memprogram dan mengarahkannya. Tanpa akal majikan yang cerdas, lencana AI terbaik pun hanya akan berakhir sebagai medali kebodohan kolektif.
Padahal, yang paling penting itu lencana diskon di supermarket, bukan di LinkedIn. Jauh lebih berguna untuk dompet.
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “TechRadar”.
Gambar oleh: Budrul Chukrut/SOPA Images/LightRocket via Getty Images