Etika MesinKarier AIKonflik RaksasaMasa DepanMesin UangSidang BotUpdate Algoritma

Lalu Lintas Web Kini Dikuasai Robot: Akankah Majikan Kehilangan Akal Sehatnya di Era AI?

Dulu, internet adalah taman bermain manusia. Sekarang? Sepertinya sudah berubah jadi kebun binatang digital yang dihuni para bot AI. Data terbaru menunjukkan, lalu lintas web kini didominasi oleh ‘asisten’ virtual yang rajin bekerja 24/7. Lalu, bagaimana nasib para majikan berakal sehat di tengah serbuan robot-robot ini? Jangan panik, sebab AI hanyalah alat, kaulah majikan yang punya akal!

Sebuah laporan mengejutkan dari TollBit, perusahaan pelacak aktivitas web-scraping, serta data dari raksasa infrastruktur internet Akamai, menguak fakta bahwa bot AI kini menyumbang porsi signifikan dalam lalu lintas web. Toshit Pangrahi, CEO TollBit, dengan percaya diri menyatakan, “Mayoritas internet akan menjadi lalu lintas bot di masa depan. Ini bukan hanya masalah hak cipta, ada pengunjung baru yang muncul di internet.”

Bayangkan saja, asisten rumah tangga Anda tiba-tiba menyalin seluruh isi perpustakaan pribadi Anda tanpa izin, hanya untuk ‘belajar’. Itulah yang terjadi di dunia maya. Banyak situs besar berusaha membatasi konten yang bisa di-scrape oleh bot AI untuk tujuan pelatihan. Beberapa penerbit, termasuk induk perusahaan WIRED, bahkan sudah mengajukan gugatan hukum atas dugaan pelanggaran hak cipta. Tapi seperti kata pepatah, “Di mana ada gula, di situ ada semut,” atau dalam kasus ini, “Di mana ada data, di situ ada bot.”

Namun, bukan hanya bot pelatihan yang merajalela. Kini, banyak chatbot dan alat AI lainnya sudah bisa mengambil informasi real-time dari web. Tujuannya? Untuk membuat hasil keluarannya lebih akurat, seperti harga produk terkini, jadwal bioskop, atau ringkasan berita terbaru. Mereka seperti asisten pribadi yang terlalu kepo tapi punya akses tak terbatas.

Menurut data Akamai, lalu lintas bot terkait pelatihan terus meningkat sejak Juli lalu. Sementara itu, aktivitas global dari bot yang mengambil konten web untuk agen AI juga melonjak. Robert Blumofe, CTO Akamai, menegaskan, “AI mengubah web seperti yang kita tahu. Perlombaan senjata yang terjadi akan menentukan tampilan, nuansa, dan fungsionalitas web di masa depan, serta dasar-dasar berbisnis.” Sebuah pernyataan yang membuat kita bertanya, apakah kita sedang membangun masa depan digital atau sekadar menyiapkan arena perang robot?

Angka-angkanya cukup menggelikan. Pada kuartal keempat 2025, satu dari setiap 50 kunjungan ke situs web pelanggan TollBit berasal dari bot scraping AI. Bandingkan dengan awal tahun 2025 yang hanya satu dari 200 kunjungan. Yang lebih parah, lebih dari 13 persen permintaan bot di kuartal keempat mengabaikan robots.txt, file yang seharusnya menjadi “papan peringatan” bagi bot. Peningkatan ini mencapai 400 persen! Sepertinya para robot ini masih perlu sekolah etika atau minimal kursus sopan santun digital. Mungkin mereka butuh Wikipedia Jadi Guru Les?

TollBit juga melaporkan peningkatan 336 persen dalam upaya situs web untuk memblokir bot AI. Teknik scraping semakin canggih; beberapa bot bahkan menyamar agar lalu lintas mereka terlihat seperti browser web normal, atau meniru cara manusia berinteraksi dengan situs web. Studi TollBit mencatat bahwa perilaku beberapa agen AI kini hampir tidak bisa dibedakan dari lalu lintas web manusia. Ini seperti robot yang terlalu pandai berakting, sampai-sampai kita sulit membedakan mana majikan, mana babu.

TollBit sendiri memasarkan tools untuk situs web agar bisa menagih bot AI. Perusahaan lain seperti Cloudflare juga menawarkan hal serupa. “Siapa pun yang mengandalkan lalu lintas web manusia—mulai dari penerbit, tetapi pada dasarnya semua orang—akan terkena dampaknya,” kata Pangrahi. “Perlu ada cara yang lebih cepat untuk melakukan pertukaran nilai antara mesin dan mesin secara terprogram.”

Tentu saja, para perusahaan scraping punya argumen sendiri. Mereka mengklaim menghormati batasan teknis, tapi mengakui bahwa “pagar” digital ini seringkali rumit. Karolis Stasiulevičiu dari ScrapingBee berpendapat, “Web terbuka dimaksudkan untuk dapat diakses. Halaman web publik, secara desain, dapat dibaca oleh manusia dan mesin.” Sebuah filosofi yang menarik, tapi apakah termasuk “dibaca” untuk disalin mentah-mentah?

Di sisi lain, perang web-scraping ini justru menciptakan peluang bisnis baru. TollBit’s report menemukan lebih dari 40 perusahaan yang kini menjual bot untuk pelatihan AI atau tujuan lain. Munculnya mesin pencari berbasis AI dan alat seperti OpenClaw ikut mendorong permintaan layanan ini. Bahkan, beberapa firma menawarkan “generative engine optimization (GEO),” yaitu membantu perusahaan memunculkan konten mereka agar lebih menonjol di alat AI. Seolah-olah SEO belum cukup rumit, sekarang kita punya GEO. Jangan sampai Anda terlanjur asyik mengelola robot sampai lupa diri, lho!

‘Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.’

Saatnya para Majikan AI mengendalikan aset digital mereka. Jangan biarkan robot-robot ini menguasai dunia maya Anda tanpa arah. Kuasai strategi AI Anda sendiri! AI Master akan memastikan Anda tetap jadi nahkoda, bukan sekadar penumpang di kapal AI. Dan untuk yang ingin tetap “nggak robot banget” dalam marketing, Creative AI Marketing bisa jadi senjata andalan Anda.

Pada akhirnya, lalu lintas web boleh jadi dikuasai bot, tapi akal sehat dan kreativitas manusia tetaplah mata uang paling berharga. Ingat, tanpa jari Anda menekan tombol, robot-robot itu hanyalah tumpukan kode mati yang sedang kurang piknik.

Ngomong-ngomong, tadi pagi saya mencoba ngajak ngobrol rice cooker saya. Dia cuma jawab, “Nasi sudah matang, Majikan.” Dasar robot, gak asyik!

Sumber Berita: Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “AI Bots Are Now a Signifigant Source of Web Traffic | WIRED”.
Gambar oleh: WIRED Staff; Getty Images via TechCrunch

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *