Badai Listrik AI Data Center: Saat Robot Haus Daya, Majikan Ikut Kena Getah!
Musim dingin datang, membawa serta kabar pahit: badai salju bukan cuma bikin kamu meringkuk di balik selimut sambil scroll TikTok, tapi juga bikin jaringan listrik di 34 negara kelabakan. Parahnya, di tengah krisis ini, para majikan teknologi dengan pusat data AI mereka yang haus daya justru memperkeruh suasana. Bayangkan, asisten rumah tangga AI Anda tiba-tiba minta daya listrik setara satu RT demi memproses meme kucing terbaru. Lucu? Tidak, kalau tagihan listrik Anda yang bengkak! Artikel ini akan mengupas tuntas bagaimana AI, yang katanya bikin hidup lebih mudah, justru jadi biang kerok di balik krisis energi.
Badai Musim Dingin Fern, ditambah suhu ekstrem, berhasil menguji ketahanan jaringan listrik yang sudah megap-megap menopang lonjakan permintaan dari pusat data AI baru. Di Virginia, yang ironisnya dijuluki “gang pusat data” karena konsentrasi data center yang tinggi, harga listrik grosir melonjak hingga $1.800 pada Minggu, dari yang sebelumnya sekitar $200. Ini bukan sekadar angka, ini adalah sinyal bahaya yang nyata bagi dompet Majikan, yang sudah gerah dengan tagihan listrik membengkak.
Menurut Nikhil Kumar dari GridLab, memang masih terlalu dini untuk menyalahkan sepenuhnya AI. Namun, fakta bahwa kebutuhan daya listrik melonjak lebih tajam dari satu dekade terakhir karena pusat data AI, manufaktur domestik, dan elektrifikasi rumah tangga, tidak bisa diabaikan. Jaringan listrik kita, yang usianya hampir seabad, ibarat “Buick kakek”, kata George Gross, profesor teknik kelistrikan dan komputer. Dia menyoroti betapa rentannya sistem ini saat dihadapkan pada bencana alam skala besar.
Bayangkan, ketika satu wilayah kekurangan pasokan listrik, biasanya bisa mengandalkan bantuan dari daerah tetangga. Tapi jika badai melanda area yang sangat luas, seperti yang terjadi baru-baru ini, “begitu banyak yang terjebak dalam masalah yang sama sehingga Anda tidak bisa mendapatkan bantuan dari tetangga,” imbuh Gross. Ini membuktikan bahwa sepintar-pintarnya algoritma AI, dia tidak bisa menciptakan listrik dari udara kosong. Dia butuh infrastruktur fisik yang kokoh, yang dibangun dan dijaga oleh akal manusia.
Pemerintah memang sudah mengeluarkan perintah darurat agar operator grid bisa mengerahkan generator cadangan di pusat data. Tapi, seperti yang dikatakan Joshua Rhodes dari University of Texas at Austin, “Membuat kebijakan di situasi darurat, biasanya tidak menghasilkan kebijakan terbaik.” Ini seperti mencoba memperbaiki mobil balap saat sedang melaju kencang di tengah badai—mustahil!
Ironisnya, di tengah semua kekacauan ini, para raksasa teknologi justru terlihat “tidak peduli berapa harga listrik”, karena bagi mereka, itu “de minimis” dibanding “nilai AI” yang mereka hasilkan. Ini adalah cerminan mentalitas “robot haus cuan” yang melupakan dampak nyata pada lingkungan dan masyarakat. Kita bahkan sudah melihat usaha OpenAI untuk meredam tagihan listrik AI, namun masalahnya jauh lebih luas dari sekadar satu perusahaan. Di sinilah akal Majikan harus mengambil alih.
Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.
AI mungkin bisa menciptakan puisi, menganalisis data, bahkan memprediksi cuaca (meskipun Nvidia punya dukun cuaca AI baru yang katanya lebih jago, cek di sini), tetapi tidak bisa memproduksi energi sendiri atau memperbaiki jaringan listrik yang rusak karena beku. Itu adalah tugas Majikan, tugas manusia.
Agar Anda tidak hanya jadi penonton drama AI yang haus daya ini, tapi bisa benar-benar mengendalikan arah teknologi, penting untuk memahami seluk-beluknya. Jangan sampai AI yang Anda gunakan justru memakan sumber daya lebih banyak dari yang seharusnya. Kuasai AI Master agar Anda tetap menjadi Majikan, bukan babu teknologi yang pasrah melihat tagihan listrik meroket karena robot Anda terlalu banyak “mikir”.
Pada akhirnya, badai salju dan lonjakan harga listrik ini menjadi pengingat yang tajam: kecanggihan AI tidak ada artinya tanpa infrastruktur dasar yang stabil, dan infrastruktur itu, sampai kapan pun, membutuhkan sentuhan akal dan keputusan manusia. Tanpa Majikan yang menekan tombol, AI hanyalah tumpukan kode mati yang tidak bisa menghangatkan rumah, apalagi membayar tagihannya sendiri.
Mendingan beli balsem buat menghangatkan diri, lebih murah daripada membiarkan AI Anda menghisap daya satu kota.
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di The Verge.
Gambar oleh: Getty Images via The Verge