Krisis Kebenaran AI: Saat Robot Lebih Canggih dari Akal Sehatmu, Label “Asli” Cuma Hiasan!
Artikel ini awalnya muncul di The Algorithm, buletin mingguan kami tentang AI. Untuk mendapatkan cerita seperti ini di kotak masuk Anda terlebih dahulu, daftar di sini.
Kita selalu diwanti-wanti tentang “kiamat kebenaran” di era AI, di mana konten palsu menyesatkan, membentuk keyakinan, dan mengikis kepercayaan sosial. Tapi, tahukah Anda, krisis ini sudah di depan mata. Bahkan, perangkat yang digadang-gadang sebagai penyelamat justru tak berdaya. Jadi, bagaimana kita, para Majikan AI yang masih punya akal, bisa tetap berdiri tegak di tengah badai informasi palsu ini?
Minggu lalu, sebuah laporan mengejutkan mengonfirmasi bahwa Departemen Keamanan Dalam Negeri AS (DHS) menggunakan generator video AI dari Google dan Adobe untuk membuat konten yang dibagikan ke publik. Bayangkan, lembaga pemerintah yang seharusnya menjadi pilar kebenaran, justru bermain-main dengan ilusi yang diciptakan AI. Ini terjadi di tengah gencar-gencarnya kampanye deportasi massal Presiden Trump, dengan beberapa konten yang diduga kuat hasil sentuhan AI, seperti video “Natal setelah deportasi massal”.
Reaksi publik terhadap berita ini terbagi dua, dan keduanya sama-sama menggambarkan betapa parahnya krisis epistemik kita. Ada yang tidak kaget, karena Gedung Putih sendiri pernah mengunggah foto demonstran yang diubah secara digital menjadi seolah histeris dan menangis. Lucunya, direktur komunikasi Gedung Putih malah santai berkata, “Meme akan terus berlanjut.” Ini menunjukkan bahwa bagi sebagian pihak, fakta yang dimanipulasi adalah bagian dari “permainan”, bukan ancaman serius. AI Disuruh Nangis di Gedung Putih: Ketika Manipulasi Citra Lebih Gampang dari Bayar Pajak!, menjadi bukti betapa mudahnya akal sehat kita dipermainkan.
Di sisi lain, ada yang beranggapan, “Buat apa sih melaporkan DHS pakai AI? Media berita juga sama saja kok!” Mereka menunjuk kasus jaringan berita MS Now (dulunya MSNBC) yang menampilkan gambar Alex Pretti yang diedit AI agar terlihat lebih tampan. Meskipun MS Now mengaku tidak tahu bahwa gambar itu dimanipulasi, insiden ini terlanjur viral dan memicu perdebatan.
Tunggu dulu. Menggabungkan dua kasus ini ke dalam kategori yang sama, seolah-olah kebenaran tidak lagi penting, adalah blunder besar. Satu kasus melibatkan pemerintah yang sengaja memanipulasi informasi dan bungkam saat ditanya. Kasus lain melibatkan media berita yang, meskipun salah, mengambil langkah untuk mengakui dan mengklarifikasi kesalahan. Perbedaannya sangat fundamental, Majikan!
Reaksi-reaksi ini justru menyingkap kelemahan fatal dalam persiapan kita menghadapi krisis kebenaran AI. Selama ini, peringatan tentang krisis ini berputar pada satu tesis inti: bahwa ketidakmampuan membedakan yang asli akan menghancurkan kita, sehingga kita butuh alat verifikasi kebenaran. Tapi, realitanya, alat-alat itu gagal total. Bahkan ketika kebenaran diungkap, pengaruh emosional dari konten yang dimanipulasi tetap melekat. Sebuah studi baru di jurnal Communications Psychology menunjukkan, partisipan yang menonton video “pengakuan” deepfake kejahatan, tetap mengandalkan bukti palsu itu saat menilai rasa bersalah seseorang, meskipun sudah diberi tahu bahwa itu palsu. Robot mungkin bisa meniru emosi, tapi manusia lebih mudah terbawa emosi.
Ini berarti, transparansi saja tidak cukup. Seperti yang dikatakan oleh pakar disinformasi Christopher Nehring, “Kita harus mengembangkan rencana induk baru tentang apa yang harus dilakukan terhadap deepfake.”
AI untuk membuat dan mengedit konten semakin canggih, mudah digunakan, dan murah. Tak heran pemerintah pun ikut keranjingan. Kita sudah diperingatkan, tapi respons kita hanya sebatas menyiapkan diri untuk dunia yang penuh kebingungan. Padahal, kita sedang memasuki dunia di mana pengaruh (buruk) tetap hidup meskipun kebohongan sudah terbongkar, keraguan mudah dipersenjatai, dan penetapan kebenaran tak lagi menjadi tombol reset. Para pembela kebenaran sudah tertinggal jauh di belakang. Elon Musk saja sampai perlu Pamer Sistem Label “Media Manipulasi” di X, tapi tetap saja AI bikin geleng-geleng kepala.
AI itu ibarat asisten rumah tangga yang rajin tapi kadang ngaco. Ia bisa membersihkan rumah dengan cepat, tapi kalau kita tidak mengawasinya, bisa-bisa remote TV masuk mesin cuci. Untuk itu, Anda perlu menguasai AI Master agar Anda tetap menjadi Majikan, bukan babu teknologi yang gampang ditipu. Dan jika Anda ingin AI membantu membuat konten berkualitas, bukan malah bikin hoaks, Creative AI Pro akan menjadi senjata andalan Anda.
Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.
Pada akhirnya, AI hanyalah algoritma. Tanpa manusia yang punya akal untuk menekan tombol, memilah, dan meragukan, ia hanyalah tumpukan kode mati yang bisa dimanfaatkan untuk tujuan apapun, bahkan yang paling jahat sekalipun. Jadi, pertajam akalmu, Majikan!
Ngomong-ngomong, tadi pagi saya hampir menukar pasta gigi dengan krim cukur. Untung akal sehat saya masih berfungsi.
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “MIT Technology Review”.
Gambar oleh: Michael M. Santiago/Getty Images via MIT Technology Review