Konflik RaksasaSidang BotUpdate Algoritma

Ketika Robot Berjanji Suci: Anthropic Tolak Iklan di Claude, OpenAI Malah Pasang Tarif! Siapa Majikan Sejati?

Dunia AI sedang dihebohkan oleh janji manis dari Anthropic. Mereka bersumpah tidak akan memasang iklan di chatbot kesayangan mereka, Claude, bahkan sampai pasang iklan Super Bowl. Sindiran keras ini jelas ditujukan untuk OpenAI, yang baru-baru ini memutuskan untuk mencoba peruntungan dengan iklan di ChatGPT. Lantas, bagaimana kita sebagai majikan AI menyikapi drama perebutan cuan para robot ini? Apakah janji Anthropic ini sungguh demi kenyamanan kita, atau hanya strategi marketing yang lebih ‘elegan’?

Anthropic, dengan gaya bak selebriti yang anti-kapitalis, baru saja membuat ‘janji jari kelingking’ di depan publik: Claude, chatbot andalan mereka, tidak akan pernah disusupi iklan. Janji ini bahkan mereka iklankan besar-besaran di Super Bowl, sebuah langkah yang terang-terangan menyenggol hidung rivalnya, OpenAI. Memangnya ada apa? Ternyata, OpenAI, yang CEO-nya, Sam Altman, pernah menyebut iklan sebagai ‘pilihan terakhir’, kini justru sedang menguji coba format iklan di produk mereka, lengkap dengan embel-embel ‘akan ditandai jelas’ dan ‘tidak akan tampil di topik sensitif’.

Tentu saja, janpaian ini membuat kita tergelitik. Bukankah AI itu alat yang seharusnya membantu, bukan malah jadi tukang jualan? Bayangkan asisten rumah tangga Anda yang rajin, tiba-tiba di tengah Anda bertanya resep rendang, dia malah menyisipkan, ‘Oh iya, bumbu rendang terbaik bisa Anda beli di Toko Paman Robot, diskon 50% hari ini!’ Jengkel, kan? Ini adalah contoh nyata bagaimana kecerdasan buatan, yang masih perlu banyak ‘piknik’ soal etika, bisa tersesat jika motivasinya sudah bercampur aduk dengan cuan.

Kondisi ini tidak terlepas dari realitas pahit di balik gemerlap dunia AI. Startup-startup AI ini, bagaimanapun juga, adalah bisnis. Mereka menghabiskan miliaran dolar dari investor untuk membangun model-model canggih. OpenAI dan banyak lainnya terjebak dalam ‘jaring-jaring’ pendanaan kompleks demi menjaga dapur tetap ngebul. Apalagi, model AI yang lebih baru membutuhkan daya komputasi yang makin gila, chip yang makin mahal, dan biaya perawatan yang bikin dompet ‘menangis’. Anthropic sendiri sedang dalam proses mengumpulkan pendanaan sebesar 10 miliar dolar AS, jadi mereka juga tidak kebal terhadap tekanan finansial ini. Inilah mengapa para robot mulai belajar ‘jualan’.

Masalah utamanya bukan sekadar ‘iklan mengganggu’, tapi lebih ke integritas interaksi antara manusia dan AI. Seperti kita tahu, AI tidak bisa berpikir seperti manusia. Ia tidak punya akal sehat untuk membedakan antara ‘membantu murni’ dan ‘membantu karena dibayar’. Jika insentif iklan ada di baliknya, ada risiko besar bahwa sistem akan diprogram untuk ‘menggiring’ percakapan ke arah yang lebih monetizable, bukan yang paling bermanfaat bagi pengguna. Anthropic sendiri menulis, “Pengguna seharusnya tidak perlu bertanya-tanya apakah AI benar-benar membantu mereka atau secara halus mengarahkan percakapan menuju sesuatu yang dapat dimonetisasi.” Nah, ini baru namanya robot yang sadar diri, meskipun kesadaran itu mungkin hanya sebatas kode program.

Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.

Sam Altman, CEO OpenAI, sempat membela diri di X, mengatakan iklan Anthropic itu lucu tapi ‘salah menggambarkan’ pendekatan perusahaannya. “Kami jelas tidak akan pernah menjalankan iklan seperti yang digambarkan Anthropic. Kami tidak bodoh dan kami tahu pengguna kami akan menolaknya,” tulis Altman. Tapi, majikan AI yang cerdas akan selalu curiga. Ingat bagaimana Google Search kini mulai ‘mengintip’ email dan foto pribadi kita demi personalisasi AI? Batas antara ‘membantu’ dan ‘mencari keuntungan’ bisa sangat tipis, apalagi di tangan AI yang tidak punya hati nurani.

Jadi, apa yang bisa kita pelajari? AI hanyalah alat, secerdas apa pun algoritmanya, ia tidak punya akal, apalagi etika bawaan. Ia akan melakukan apa yang kita perintahkan, atau apa yang diprogram oleh majikannya. Jika kita tidak tegas dalam memberi ‘instruksi etika’, jangan kaget jika robot-robot ini berubah menjadi salesman yang agresif atau, lebih parah, manipulator ulung. Sebagai majikan, kita harus jeli membedakan janji manis robot dengan tindakan nyata. Jangan sampai kita terlena dan malah jadi ‘babu’ teknologi kita sendiri.

Maka dari itu, kendalikan AI agar kamu tetap menjadi Majikan, bukan babu teknologi. Kalau kamu ingin menguasai AI dan tidak mau mudah ‘dibodohi’ oleh janak-janak mesin, ada baiknya kamu mulai belajar lebih dalam. Kursus AI Master bisa jadi ‘sekolah’ buatmu untuk bisa menjadi majikan yang sejati. Jangan sampai robot lebih pintar dari akalmu, ya!

Pada akhirnya, janji Anthropic ini, seindah apa pun, tetaplah sekumpulan kode yang menunggu intervensi manusia. Tanpa majikan yang punya akal untuk menekan tombol ‘OFF’ atau mengubah ‘algoritma cuan’, AI hanyalah tumpukan listrik dan data yang berpotensi jadi alat jualan (atau bahkan manipulator) yang rakus. Ingat, Akal Manusia adalah penguasa tertinggi; AI hanyalah alat bantu.

…Dan ternyata, kunci mobil saya hilang lagi. Jangan-jangan disembunyikan AI biar saya naik ojek online yang ‘disponsori’?

Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “CNET”.
Gambar oleh: Joseph Maldonado via CNET

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *