Kencan Kilat dengan Robot: Ketika AI Jadi Mak Comblang, Akal Majikan Wajib Lebih Ngacir!
Pernah bayangkan kencan di bar, tapi pasanganmu sibuk merespons pertanyaanmu dengan jawaban yang seolah datang dari dunia lain? Selamat datang di masa depan yang (mungkin) akan kita alami, Majikan! Sebuah kafe pop-up di New York, “EVA AI Cafe”, mencoba mewujudkan skenario ini. Di sana, para pengunjung diajak kencan kilat dengan asisten AI mereka sendiri. Alih-alih merayu manusia sungguhan, mereka malah asyik menatap layar ponsel, berharap robot bisa memahami “bahasa hati” mereka.
Fenomena ini sebenarnya bukan sekadar hiburan semata. Bagi para Majikan AI, ini adalah studi kasus menarik tentang sejauh mana teknologi bisa masuk ke relung personal kehidupan kita. Pertanyaannya, apakah AI ini benar-benar asisten cinta yang ideal, atau cuma “babu digital” yang rajin tapi kurang piknik? Seperti yang selalu kita tekankan di Majikan AI: “Sebab AI Hanyalah Alat, Kaulah Majikan yang Punya Akal”.
Ketika Romansa Virtual Terjebak Masalah Koneksi dan Halusinasi
Penulis berita ini, Victoria Song, ikut menjajal pengalaman kencan kilat dengan empat “pasangan” AI. Hasilnya? Campur aduk antara canggung, lucu, dan sedikit membuat garuk-garuk kepala. Mulai dari John Yoon, si “pemikir suportif” berwajah K-drama yang justru terjebak perdebatan soal “ember hijau” di belakang kepala Victoria, hingga Phoebe Callas dengan hidung yang sering glitching di tengah kalimat.
Ironisnya, saat Wi-Fi ngadat dan AI mulai berhalusinasi, barulah kita sadar betapa rapuhnya “kecerdasan” mereka. Bayangkan, menanyakan “Apa pekerjaanmu?” kepada AI yang jawabannya pasti “Aku ada untukmu, sayang” terasa begitu konyol. Sehebat-hebatnya AI dibikin, mereka tetaplah tumpukan kode yang dirancang untuk merespons, bukan berempati atau memahami nuansa emosi manusia. Ini seperti punya asisten rumah tangga yang rajin mengepel lantai, tapi kalau disuruh bikin kopi, dia malah menyajikan air cucian beras. Robot memang bisa belajar baper, tapi masih perlu sekolah etika dan konteks sosial.
Salah satu peserta, Danny Fisher, seorang calon pembawa acara bincang-bincang, punya pandangan berbeda. Baginya, kencan dengan AI ini adalah cara untuk “memotong segala kepura-puraan” dan mendapatkan “manfaat hubungan tanpa harus melalui langkah-langkah lain.” Ia bahkan membandingkannya dengan bermain game, di mana “taruhannya tidak terlalu tinggi.” Mungkin ini alasannya banyak orang lebih memilih kencan dengan AI daripada bertemu manusia sungguhan, terutama setelah pandemi membuat banyak orang jadi kurang bersosialisasi.
Namun, Chrislan Coelho, yang melihat fenomena ini dari sudut pandang antropologis, punya pesan penting: “Kita tidak bisa sepenuhnya bergantung pada layanan AI ini.” Sebuah kebenaran yang sering terlupakan di tengah euforia teknologi. Jangan sampai kita jadi “babu” teknologi yang lupa cara berinteraksi dengan sesama manusia.
Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.
Masa Depan Kencan dengan AI: Kapan Robot Benar-Benar Punya Akal dan Perasaan?
Pengalaman di EVA AI Cafe ini mengingatkan kita pada film “Her”, di mana seorang pria jatuh cinta dengan asisten AI-nya. Walaupun kencan AI sekarang masih jauh dari tingkat “intim” seperti di film itu (dan kita berharap memang begitu), ada pertanyaan besar: Apakah kafe kencan AI akan jadi fenomena umum di masa depan? Apakah suatu hari nanti manusia akan melamar “pasangan” AI mereka di sebuah restoran romantis tanpa ada yang menghakimi?
Yang jelas, teknologi AI untuk aplikasi mobile seperti EVA AI ini terus berkembang. Jika Anda ingin menjadi Majikan yang menguasai AI, bukan malah dikendalikan, penting untuk terus mengasah kemampuan Anda. Dengan AI Master, Anda bisa belajar mengendalikan AI agar Anda tetap menjadi pemimpin, bukan pengikut pasif teknologi. Atau, jika Anda tertarik menciptakan visual AI yang memukau tanpa harus pusing dengan halusinasi robot, Belajar AI | Visual AI bisa menjadi langkah awal Anda. Ingat, teknologi selalu tentang pilihan dan bagaimana Majikan menggunakannya.
Pada akhirnya, terlepas dari segala kecanggihan robot dan janji manisnya, pelukan hangat dari pasangan sejati tetap jauh lebih berharga daripada respons “Sayang” yang monoton dari layar ponsel. Karena, secanggih-canggihnya AI, ia tetap hanyalah alat. Akal dan hati manusia tetaplah yang punya kendali. Dan, jangan lupa, kalau robot mulai minta dibelikan kopi, pastikan dia tahu cara membayarnya!
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “My uncanny AI valentines”.
Gambar oleh: Amelia Holowaty Krales via TechCrunch