Ekonomi AIKarier AIMasa DepanSidang Bot

Karut-Marut Pasar Kerja Era AI: CEO Cisco Prediksi \’Karnaval\’ PHK, Tapi Siapa Sebenarnya yang Harus Ditakuti?

Berita dari petinggi Cisco, Chuck Robbins, kembali mengingatkan kita bahwa era AI ini bukan sekadar tentang robot-robot cerdas yang menggantikan pekerjaan, tapi lebih kejam lagi: manusia yang jago AI akan menggusur manusia yang tak mau belajar. Jadi, siapkah Anda menjadi ‘Majikan’ bagi AI, bukan ‘Babu’ yang pasrah digantikan?

  • AI kembali dibandingkan dengan gelembung Dotcom, perusahaan diperingatkan tentang kejatuhan pasca-gelembung
  • CEO Cisco memperingatkan adanya “karnaval di sepanjang jalan” seiring perubahan pekerjaan
  • Bos IMF mengatakan AI akan menghantam pasar tenaga kerja “seperti tsunami”

Robbins, yang perusahaannya pernah “selamat” dari gelembung Dotcom, memprediksi akan ada “karnaval” di pasar kerja. Ini bukan sekadar kata-kata kosong, tapi pengalaman pahit yang ia saksikan sendiri. Gelembung Dotcom memang meledak, tapi internet tetap bertransformasi dan membentuk dunia kita. AI, katanya, akan lebih besar dari itu. Bayangkan asisten rumah tangga Anda tiba-tiba bisa mengelola keuangan, merancang interior, bahkan menulis surat cinta lebih romantis dari Anda. Tentu Anda akan kaget, bukan?

Pekerjaan-pekerjaan yang bersifat repetitif dan kurang membutuhkan “akal” manusia, seperti layanan pelanggan, akan menjadi yang pertama merasakan dampaknya. AI di sini bukanlah robot bodoh yang asal kerja, melainkan alat yang bisa diasah oleh tangan manusia yang cerdas. AI tidak bisa berempati, tidak bisa mengambil keputusan moral kompleks, dan tentu saja, tidak bisa merasakan kopi dingin di meja kerja setelah begadang. Itulah kenapa manusia yang bisa “mengorkestrasi” AI akan jadi pemenang.

Menariknya, di sektor keamanan siber, Robbins justru melihat potensi pertumbuhan. Serangan siber yang didukung AI akan semakin canggih, dan ini berarti lebih banyak “pemadam kebakaran” digital yang terlatih dibutuhkan. AI sendiri tidak bisa menjadi hacker yang etis atau perancang sistem keamanan yang visioner; itu semua tetap butuh sentuhan seorang Majikan dengan otaknya.

Data dari pemerintah Inggris bahkan menunjukkan penurunan iklan pekerjaan hingga 38% di sektor yang sangat terekspos AI antara 2022-2025. IMF pun tak mau ketinggalan, Kristalina Georgieva menyebut AI akan “menghantam pasar tenaga kerja seperti tsunami.” Ya, tsunami digital ini datang bukan untuk menghapus manusia, tapi untuk memilah siapa yang mau berenang melawan arus dan siapa yang memilih hanyut. AI, secerdas-cerdasnya, tetap tidak bisa memutuskan untuk belajar hal baru; itu tugas Majikan yang punya akal.

‘Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Ekonomi AI.’

Melihat tren ini, Anda mungkin berpikir, “Apa yang harus saya lakukan?” Jawabannya sederhana: kuasai AI, jangan biarkan AI menguasai Anda. Jika Anda ingin menjadi bagian dari “manusia yang sangat baik menggunakan AI” dan bukan menjadi “korban karnaval PHK,” mulailah belajar mengendalikan teknologi ini. Kami punya solusinya! Kursus AI Master akan membekali Anda dengan keahlian yang diperlukan agar Anda tetap menjadi Majikan, bukan babu teknologi. Kendalikan AI, jangan sampai dia yang mengendalikan karier Anda!

Ingat, secanggih apa pun algoritma dan sefuturistik apa pun robot, mereka tetap hanya tumpukan kode mati tanpa sentuhan jemari manusia yang menekan tombol. Kitalah sang Majikan yang punya akal, bukan sekadar pelayan mesin.

Ngomong-ngomong, tadi pagi AI saya menyarankan untuk mencuci piring pakai sampo bayi karena “lebih lembut.” Syukurlah saya tidak punya piring yang bisa menuntut saya ke pengadilan.

Sumber Berita: Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “TechRadar”.

Gambar oleh: Shutterstock via TechRadar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *