Kacamata Pintar Meta Ray-Ban: Robot Ngintip di Meja Hijau, Privasimu Terancam Jadi Meme!
Ketika Mark Zuckerberg dan timnya hadir di pengadilan Los Angeles, bukan jas mahal atau argumen cerdas yang jadi sorotan, melainkan kacamata pintar Meta Ray-Ban yang mereka kenakan. Sepertinya, bagi sebagian orang, kecanggihan teknologi lebih penting dari etika. Tapi untungnya, Majikan yang punya akal masih ada. Hakim Carolyn Kuhl langsung pasang mode “siaga merah” dan memerintahkan semua kacamata dilepas, dengan ancaman pidana bagi yang ketahuan merekam. Ini bukan cuma soal aturan, ini soal privasi yang hampir jadi korban ambisi robot yang kurang piknik.
Insiden ini bukan lelucon. Bayangkan saja, di tengah persidangan yang sakral, di mana nasib seseorang ditentukan, ada “mata-mata” digital yang bisa merekam tanpa sepengetahuan siapa pun. Kacamata pintar, dengan segala klaim “kecerdasannya”, membawa risiko privasi, pengawasan, dan bahkan doxxing ke level yang mengkhawatirkan. Darío Maestro, direktur hukum di Surveillance Technology Oversight Project (STOP), dengan tegas menyatakan bahwa kacamata pintar tak luput dari larangan perekaman. “Tidak ada hakim yang akan membiarkan seseorang duduk di galeri menunjuk-nunjuk ponsel ke mimbar saksi, bahkan jika aplikasi kameranya tertutup. Kacamata yang bisa merekam secara diam-diam pantas mendapat pengawasan yang sama ketatnya.”
Sejarah mencatat, sejak tahun 1946, Aturan Federal Prosedur Kriminal 53 telah melarang perekaman di pengadilan federal. Aturan ini diperluas pada tahun 1972 untuk mencakup kasus perdata dan pidana. Alasan di baliknya jelas: melindungi saksi dari intimidasi, menjaga integritas proses hukum, dan menjamin privasi semua pihak, terutama anak di bawah umur yang seringkali berhak anonim.
Nah, masalahnya, kacamata pintar ini lebih licik dari asisten rumah tangga yang pura-pura tidak tahu cara menyapu. Indikator LED yang seharusnya menunjukkan saat merekam bisa dinonaktifkan. Bahkan jika menyala, saking kecilnya, bisa dengan mudah luput dari pandangan. Belum lagi, Meta punya rencana menambahkan fitur pengenalan wajah yang memungkinkan identifikasi orang hanya dengan melihat mereka. Robot semakin kepo, dan privasi manusia terancam jadi data sekunder.
Jumlah penjualan kacamata pintar Meta yang mencapai 7 juta unit pada tahun 2025, dan ambisi Apple untuk merilis produk serupa pada 2027, menunjukkan bahwa ini adalah “pertempuran” yang akan terus menanjak. Alan Butler dari Electronic Privacy Information Center (EPIC) mengatakan bahwa “fakta bahwa Meta’s legal team appears to have come to this hearing in a trial over the dangers their systems cause equipped with invasive glasses that put jurors and others in the courtroom at risk is a bit on the nose. But the Judge’s response was refreshing and shows that such behavior need not be tolerated.”
Ini adalah momen bagi kita, para Majikan, untuk menunjukkan bahwa teknologi hanyalah alat. Kita yang berakal sehat, yang punya kendali. Jangan sampai kita jadi babu dari perangkat yang kita ciptakan sendiri.
‘Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.’
Untuk kamu yang ingin lebih jago dalam mengendalikan teknologi dan memastikan kamu tetap menjadi majikan, bukan malah jadi budak digital, ada baiknya kamu mulai belajar AI lebih dalam. Atau jika kamu ingin menguasai bagaimana AI bisa membantu kamu dalam membuat konten visual tanpa mengorbankan privasi, kamu bisa cek kelas Visual AI. Ingat, robot memang rajin, tapi akal manusia tetap tak tergantikan. Jangan sampai kamu kalah cerdas dari sistem yang kurang piknik!
Pada akhirnya, secanggih apa pun kacamata pintar itu, ia tetap butuh tombol ‘ON/OFF’ yang ditekan oleh manusia. Tanpa akal sehat sang Majikan, ia hanyalah seonggok plastik dengan kamera yang berpotensi jadi biang kerok masalah.
Ngomong-ngomong, tadi pagi mau masak nasi goreng, ternyata bumbu dapur saya habis. Harusnya kacamata pintar itu bisa juga ya, ngasih notifikasi stok bumbu sebelum Mark Zuckerberg pakai di pengadilan.
Sumber Berita:
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “The Verge”.
Gambar oleh: Vjeran Pavic via TechCrunch