Jaringan Ngadat, AI Nangis Darah: Siapkah Infrastruktur Anda Menyambut Kiamat Kuantum? (Atau Malah Kena Denda Rp400 Triliun?)
Wahai para majikan akal budi, coba renungkan sejenak. Anda mungkin sibuk memimpikan asisten AI yang bisa membuat kopi, menulis laporan, atau bahkan mengatur jadwal kencan. Tapi, pernahkah Anda berpikir, apa yang terjadi jika “otak” AI Anda itu terhubung ke “urat saraf” jaringan yang sudah keropos? Menurut para ahli, ini bukan cuma skenario horor, tapi realita pahit yang bisa membuat investasi AI Anda mandek, bahkan berujung denda fantastis. Ini bukan hanya tentang robot yang canggih, tapi tentang fondasi yang menopangnya.
Survei global dari pakar pusat data secara gamblang mengungkap, dalam 2-3 tahun ke depan, beban kerja AI akan menjadi “predator” baru bagi infrastruktur jaringan. Sebanyak 53% responden bahkan yakin, AI akan menuntut lebih banyak dari jaringan dibandingkan komputasi awan atau analisis big data. Anggap saja AI ini seperti karyawan baru yang sangat produktif tapi rakus bandwidth. Kalau jaringannya masih pakai “kabel telepon jadul”, ya jangan kaget kalau performanya lemotnya minta ampun, seperti robot yang lagi “kurang piknik”.
Bayangkan, jaringan usang itu bukan cuma bikin AI jadi “robot bodoh” yang lambat, tapi juga memicu pemadaman sistem hingga rata-rata 75 hari per tahun, dengan kerugian mencapai hampir Rp400 triliun! Itu bukan uang receh, Majikan. Itu bisa buat beli pulau pribadi dan membangun laboratorium AI sendiri. Paul Savill dari Kyndryl, seorang pakar siber dan ketahanan jaringan, menegaskan bahwa jaringan yang usang ini memperlebar celah otomatisasi dan memperlambat pengambilan keputusan. AI, yang seharusnya jadi “darah” yang menyehatkan organisasi, malah jadi “darah rendah” yang bikin lesu dan menghambat pertumbuhan.
Jaringan perusahaan kita ini sering kali tumbuh seperti tambal sulam. Ada yang dibangun zaman purba, lalu ditambahi ini itu karena ada merger, divestasi, atau proyek dadakan. Hasilnya? Kekacauan arsitektur, vendor yang beda-beda, dan konfigurasi yang tak karuan. Ini persis seperti membangun rumah mewah dengan fondasi dari gubuk reyot. Jelas, keamanan terancam, visibilitas lenyap, dan respon terhadap serangan siber jadi seperti siput kepanasan. Bayangkan, kebijakan “Zero Trust” yang digadang-gadang itu bisa ambruk begitu saja di hadapan lalu lintas AI yang membludak.
Lalu, apa yang bisa kita lakukan? Jawabannya sederhana, dan ini seringkali dilupakan: modernisasi jaringan adalah kunci sukses AI. Ini bukan investasi yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari satu kesatuan utuh. 97% pemimpin IT setuju bahwa modernisasi infrastruktur IT (termasuk jaringan dan keamanan siber) sangat krusial untuk kesuksesan AI.
Perbaikan yang bisa dilakukan antara lain:
- Mengganti MPLS (multiprotocol label switching) yang ketinggalan zaman dengan arsitektur SD-WAN dan SASE. Ini penting untuk strategi berbasis cloud-first.
- Menerapkan visibilitas real-time untuk memastikan beban kerja AI berjalan efisien dan aman.
- Mengotomatiskan penegakan keamanan siber di seluruh lingkungan hybrid cloud.
Pendekatan ini menyatukan konektivitas dan keamanan, memastikan kinerja yang konsisten di mana pun aplikasi Anda berada.
Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.
Tapi drama belum usai, Majikan. Saat kita masih pusing memikirkan AI, “jam kuantum” terus berdetak. Para ahli memprediksi bahwa komputasi kuantum akan mulai mempengaruhi keamanan siber dalam lima tahun ke depan. Ini bukan lagi soal hacker biasa, tapi “serigala berbulu domba” yang mencuri data terenkripsi hari ini untuk didekripsi besok, saat komputer kuantum sudah perkasa.
Mempersiapkan diri untuk era kuantum itu seperti membangun perahu di tengah badai. Harus dimulai sekarang, fokus pada kerentanan paling penting, dan cari celah untuk mengintegrasikan keamanan kuantum ke dalam proyek yang sedang berjalan. Ingat kata pepatah: “berenanglah ke tempat puck akan berada“, dan bersiaplah untuk berenang lagi!
Untuk menjadi “Majikan” sejati di era ini, Anda butuh lebih dari sekadar teori. Anda perlu menguasai teknologi ini agar tidak jadi “babu” di era digital. Kendalikan AI agar kamu tetap menjadi Majikan, bukan babu teknologi. Pelajari selengkapnya di AI Master!
Pada akhirnya, semua kemewahan AI, semua kecepatan jaringan, semua keamanan kuantum yang canggih itu, hanyalah tumpukan kode dan silikon mati tanpa satu hal: akal sehat Majikan. Tanpa Anda menekan tombol, membuat keputusan, dan mengarahkan, robot tercerdas sekalipun hanya akan bengong. Jadi, sudah siapkah Anda menjadi Majikan sejati, atau hanya akan pasrah menjadi penonton di era digital yang semakin “gila” ini?
Ngomong-ngomong, tadi pagi saya lihat cicak jatuh dari plafon, untung dia pakai parasut daun. Cerdas juga cicak zaman sekarang.
Sumber Berita:
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “TechRadar”.
Gambar oleh: Shutterstock via TechRadar