Modal Rp2,3 Triliun Cuma Buat ‘Ngebutin’ AI? Inferact Buktikan Kecepatan Itu Mahalnya Minta Ampun!
Terkadang, uang berbicara lebih kencang daripada algoritma yang paling canggih sekalipun. Dan kali ini, uang itu berteriak kencang di telinga para pengembang AI. Inferact, startup di balik proyek open-source vLLM, baru saja mengumumkan transisi mereka menjadi perusahaan yang didukung modal ventura, mengantongi pendanaan awal sebesar $150 juta (sekitar Rp2,3 triliun) dengan valuasi gila-gilaan: $800 juta! Co-led oleh raksasa investasi Andreessen Horowitz dan Lightspeed Venture Partners, ini bukan sekadar suntikan dana, ini adalah deklarasi perang bahwa kecepatan adalah raja di medan tempur AI.
Bagi kita para Majikan AI, berita ini harusnya memicu pertanyaan: bagaimana kita bisa memanfaatkan gairah pasar terhadap kecepatan AI ini? Investasi masif ini menunjukkan bahwa fokus industri AI kini bergeser. Bukan lagi melulu tentang menciptakan model AI yang lebih “pintar” (training), tapi bagaimana membuat model-model itu bekerja secepat kilat dan seefisien mungkin saat diaplikasikan (inference). Ini seperti memiliki mobil F1 yang canggih, tapi kalau bannya kempes atau bahan bakarnya boros, ya percuma.
Inferact hadir untuk memastikan “ban” AI tidak kempes dan “bahan bakar” tidak boros. VLLM, yang diinkubasi di laboratorium UC Berkeley oleh salah satu pendiri Databricks, Ion Stoica, pada tahun 2023, adalah kuncinya. Teknologi ini membuat alat AI, khususnya model bahasa besar (LLM) seperti yang kita gunakan sehari-hari, berjalan jauh lebih cepat dan hemat biaya. Bahkan, Amazon dilaporkan sudah menggunakan vLLM untuk layanan cloud dan aplikasi belanja mereka. Bayangkan, robot di balik layar Amazon bisa lebih ngebut berkat sentuhan manusia yang cerdas ini.
Namun, jangan lantas kita terkecoh dengan angka triliunan dan kecepatan dewa ini. Ingat filosofi Majikan AI: AI hanyalah alat, kaulah majikan yang punya akal. Uang sebanyak itu digelontorkan bukan untuk membuat AI tiba-tiba bisa menulis novel sastra atau memecahkan masalah krisis iklim sendirian. Dana ini untuk mengoptimalkan performa teknis, agar AI bisa menjalankan perintah kita lebih cepat. Ini persis seperti asisten rumah tangga yang baru dapat motor balap: dia bisa belanja ke pasar lebih cepat, tapi tetap saja butuh daftar belanjaan dari kita. Tanpa perintah yang jelas dan tujuan yang terarah dari majikannya, AI canggih pun cuma jadi pajangan mahal yang cepat panas.
Pergerakan Inferact ini bukan tanpa pesaing. Sebelumnya, proyek SGLang juga bertransformasi menjadi startup bernama RadixArk dengan valuasi $400 juta. Ini menunjukkan bahwa persaingan di infrastruktur AI semakin memanas. Jadi, jika Anda punya ide bisnis atau sedang membangun startup yang ingin bermain di ranah AI, fokus pada efisiensi dan kecepatan adalah investasi yang tidak akan pernah salah. Tapi ingat, pastikan Anda bisa benar-benar mengendalikan AI itu, bukan sebaliknya. Kalau tidak, bisa-bisa AI di perusahaan Anda cuma jadi pajangan mahal.
‘Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Berita.’
Mau jadi majikan AI yang tidak cuma ikut-ikutan tapi benar-benar menguasai? Pelajari lebih dalam tentang cara mengendalikan AI agar bekerja sesuai keinginanmu. Jangan cuma terpukau dengan kecepatan, tapi kuasai strategi di baliknya. Produk AI Master kami bisa membantu Anda memahami seluk-beluk AI, dan jika Anda seorang founder startup, Kelas Ai Affiliate juga bisa menjadi pilihan yang tepat untuk cuan tanpa ribet.
Pada akhirnya, mau seberapa cepat dan canggih pun Inferact membuat AI berlari, kemudi tetap di tangan kita, para majikan. Sebab AI hanyalah alat, kaulah majikan yang punya akal. Tanpa manusia menekan tombol, AI hanyalah tumpukan kode mati yang dingin di server.
Ngomong-ngomong, tadi saya lihat cicak di dinding sedang serius memperhatikan layar laptop. Mungkin dia lagi belajar cara investasi di startup AI.
Sumber Berita: Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “TechCrunch”
Gambar oleh: Askold Romanov/iStock via TechCrunch