India Obral Pajak Nol Hingga 2047: Saatnya Majikan AI Rebut Infrastruktur Global, Atau Cuma Jadi Penonton?
Dengar baik-baik, para Majikan AI! India baru saja meluncurkan penawaran yang bisa membuat paman Sam di Amerika dan bibi Eropa di Benua Biru pusing tujuh keliling: pembebasan pajak nol persen hingga tahun 2047 untuk layanan AI global yang dioperasikan dari pusat data di negara mereka. Ini bukan sekadar diskon musiman, ini adalah undangan besar-besaran untuk menancapkan kuku di jantung infrastruktur AI dunia. Pertanyaannya, apakah kita sebagai Majikan yang punya akal bisa melihat peluang di balik kemasan manis ini, atau malah terlena dan membiarkan robot mengambil alih sepenuhnya? Ini saatnya berpikir strategis, bukan cuma sibuk menyuruh AI bikin konten.
Manuver terbaru New Delhi ini bukan main-main. Di tengah hiruk pikuk perlombaan infrastruktur AI global, India dengan percaya diri menawarkan insentif pajak nol persen bagi penyedia layanan cloud asing yang menjalankan beban kerja AI mereka dari pusat data di India, selama layanan tersebut dijual di luar negeri. Artinya, perusahaan-perusahaan raksasa seperti Amazon, Google, dan Microsoft yang sudah mengucurkan investasi triliunan rupiah di India, kini punya alasan ekstra untuk ngebut membangun lebih banyak “otak” buatan di sana. Google, misalnya, berkomitmen Rp230 triliun untuk hub AI dan infrastruktur pusat data, sementara Microsoft menyusul dengan Rp267 triliun hingga 2029. Amazon bahkan totalnya Rp1.150 triliun hingga 2030. Angka-angka ini bukan isapan jempol belaka, tapi bukti bahwa pundi-pundi raksasa teknologi bergetar melihat potensi cuan yang ditawarkan.
Namun, seperti biasa, di balik setiap janji manis AI, selalu ada PR yang harus dibereskan manusia. Membangun pusat data raksasa bukanlah perkara mudah, apalagi di negara dengan tantangan pasokan listrik yang masih “kurang piknik” dan ketersediaan air yang “sedikit drama”. Bayangkan, pusat data AI itu seperti remaja yang sedang masa pertumbuhan: haus energi dan butuh air bersih untuk mendinginkan otaknya yang super sibuk. Kalau pasokan listriknya putus nyambung, bisa-bisa AI kita malah halusinasi massal dan bikin kerugian triliunan. Seorang pakar kebijakan publik, Rohit Kumar, menyebut insentif ini strategis, namun tantangan eksekusi seperti ketersediaan listrik, akses lahan, dan perizinan tingkat negara bagian masih menjadi “PR” yang harus diselesaikan Majikan di India.
‘Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.’
Sagar Vishnoi dari Future Shift Labs bahkan memprediksi kapasitas pusat data India bisa melampaui 8 gigawatt pada tahun 2030. Tapi di sisi lain, Vishnoi juga menyoroti bahwa pembebasan pajak untuk perusahaan asing ini bisa membuat pemain domestik kecil “gigit jari”, bersaing dengan margin tipis sementara raksasa global pesta pora cuan. Ini adalah dilema klasik: antara menarik investasi besar dan melindungi inovator lokal. AI itu alat, kawan. Ia tidak bisa membuat kebijakan yang adil, hanya manusia dengan akal sehat dan nurani yang bisa. Jadi, siapkah kita menjadi Majikan yang mengendalikan bukan sekadar mengikuti?
Tidak hanya infrastruktur AI, India juga serius menggenjot sektor manufaktur elektronik dan semikonduktor. Mereka meluncurkan fase kedua India Semiconductor Mission dan meningkatkan anggaran Skema Manufaktur Komponen Elektronik hingga Rp66 triliun. Tujuannya jelas: tidak lagi sekadar merakit, tapi ikut memproduksi komponen inti. Bahkan, ada penawaran pembebasan pajak lima tahun bagi perusahaan asing yang memasok peralatan ke produsen elektronik di zona berikat. Ini kabar gembira bagi perusahaan seperti Apple yang punya banyak mitra manufaktur di sana. Kita tahu, tanpa “otak” buatan yang solid, AI cuma akan jadi robot “kurang piknik” yang tidak bisa melakukan apa-apa.
Terakhir, India juga membenahi sektor mineral kritis, sadar betul akan pentingnya pasokan material langka untuk kendaraan listrik dan perangkat elektronik. Koridor mineral langka akan didirikan di beberapa negara bagian. Dan untuk UKM, batas nilai ekspor kurir Rp11 juta dihapus, memudahkan mereka menjangkau pasar global. Ini menunjukkan pemikiran holistik India untuk menjadi pemain utama di era teknologi.
Ini semua adalah langkah cerdas dari India untuk memposisikan diri sebagai long-term hub untuk global technology infrastructure, spanning cloud computing, electronics manufacturing, and critical minerals. Mereka melihat gelombang besar AI datang dan bersiap untuk “berselancar”. Namun, kesuksesan sejati tidak akan ditentukan oleh berapa banyak nol di pembebasan pajak, atau berapa triliun yang diinvestasikan. Keandalan listrik, pasokan air, dan kemampuan untuk memupuk inovasi domestik—ini semua adalah hal-hal yang tidak bisa diserahkan sepenuhnya kepada robot. Kita sebagai Majikan harus tetap waspada, kritis, dan siap mengarahkan, agar mimpi indah teknologi tidak berakhir jadi mimpi buruk yang diatur algoritma.
Kendalikan AI, Jadilah Majikan Sejati! Pelajari Lebih Lanjut di AI Master!
Pada akhirnya, India dengan segala kebijakannya sedang mencoba membangun panggung megah untuk AI. Tapi ingat, secanggih apapun panggungnya, tanpa seorang dalang yang punya akal, pertunjukan hanya akan jadi tumpukan kode mati yang membosankan. AI hanyalah alat, kitalah Majikan yang punya akal.
Ngomong-ngomong soal infrastruktur, barusan saya lihat tukang bakso langganan saya pasang WiFi gratis. Ini baru namanya investasi jangka panjang yang nyata.
Sumber Berita:
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “TechCrunch”.
Gambar oleh: Jagmeet Singh via TechCrunch