Etika MesinHalusinasi LucuRobot KonyolSidang BotUpdate Algoritma

Hollywood Kena ‘AI Fatigue’: Penonton Muak dengan Robot yang Sok Pintar!

AI di Hollywood? Ya ampun, itu seperti meminta asisten rumah tangga Anda untuk menulis skenario film blockbuster. Hasilnya? Kekacauan yang mahal, repetitif, dan bikin penonton ngantuk. Padahal, kita tahu betul, di balik setiap cerita brilian, ada akal manusia yang tak bisa direplikasi kode-kode robot yang kaku. Kabar terbaru dari Hollywood menunjukkan gejala “AI Fatigue” yang parah. Penonton mulai jenuh dengan film yang mengangkat tema AI atau, parahnya, dibuat dengan campur tangan kecerdasan buatan. Mungkin karena mereka sadar, sepintar-pintarnya robot, tetap saja butuh Majikan yang punya akal untuk mengarahkan agar tidak nyasar ke cerita yang hambar.

Sejak dulu, Hollywood memang sudah “bermain-main” dengan ide kecerdasan buatan. Ingat robot pemberontak di film Metropolis atau HAL 9000 yang bikin jengkel di 2001: A Space Odyssey? Bahkan Skynet di waralaba Terminator pun sudah jauh lebih mengerikan dan orisinal dibanding tren AI di layar lebar sekarang. Kini, alih-alih inovasi, yang kita dapat justru deretan film yang gagal total di box office.

Ambil contoh sekuel M3GAN, boneka AI pembunuh yang pada film pertamanya sempat jadi sensasi. Sekuelnya? Melempem di pasaran. Lalu ada Mission: Impossible—The Final Reckoning yang memperkenalkan “The Entity” sebagai musuh AI pamungkas Ethan Hunt. Bukannya bikin tegang, film ini malah disebut gagal memenuhi ekspektasi dan tidak sebanding dengan biayanya yang fantastis. Puncaknya, film Mercy yang dibintangi Chris Pratt, langsung dicap “film terburuk tahun 2026” di bulan Januari! Penonton sudah malas duluan dari trailernya. Mungkin karena kita semua sadar, mana mungkin sistem fiktif bisa mengadili nyawa, sementara di dunia nyata, klaim asuransi kesehatan saja sudah banyak yang ditolak mentah-mentah oleh algoritma? AI-AI ini memang masih perlu banyak piknik.

Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.

Film-film yang gagal ini menunjukkan satu hal yang jelas: AI, dengan segala kecanggihannya, belum mampu menangkap esensi etika, emosi manusia, atau bahkan alur cerita yang punya jiwa. Alih-alih menyajikan narasi distopia yang provokatif seperti RoboCop yang dibuat hampir 40 tahun lalu, tren sekarang malah menyuguhkan kisah-kisah propaganda yang mengatakan AI itu awalnya menakutkan tapi sebenarnya baik hati. Robot-robot ini kurang piknik dan perlu diajari ulang, sepertinya. Jika Anda tertarik dengan bagaimana AI bisa salah menginterpretasikan realita, jangan lewatkan artikel kami tentang Bongkar Rahasia Dapur AI Penghasil Gambar: Kenapa Robot Masih Perlu ‘Sekolah’ Lanjutan dari Majikan yang Teliti?

Bukan cuma di film layar lebar, AI juga “berulah” di ranah digital. Serial web terbaru Time Studios, On This Day…1776, yang menggunakan Google DeepMind untuk menghasilkan video, menuai kecaman pedas. Bayangkan, bapak-bapak pendiri negara Amerika digambarkan dengan wajah “aneh dan mata kosong yang mengilat”. Bahkan, DeepMind sempat salah mengeja “America” menjadi “Aamereedd” saat membuat dokumen bersejarah. Ini jelas bukti bahwa AI masih sering halusinasi dan butuh Majikan manusia untuk mengecek ulang hasil kerjanya.

Jangan lupakan juga iklan Xfinity yang menggunakan teknologi “de-aging” untuk aktor-aktor Jurassic Park seperti Sam Neill, Laura Dern, dan Jeff Goldblum. Bukannya bikin awet muda, hasilnya malah bikin mereka terlihat seperti “patung lilin meleleh”. Para ahli di Hollywood harusnya sadar, bahwa kecerdasan buatan ini bagai asisten yang rajin tapi kaku, bisa melakukan tugas teknis tapi gagal total dalam sentuhan artistik. Jika Anda ingin menghasilkan konten visual yang tidak membuat penonton merasa jijik, Anda perlu menguasai seluk-beluk visual AI. Jangan sampai robot yang menentukan standar estetika Anda. Pelajari caranya di Belajar AI | Visual AI atau tingkatkan kualitas konten Anda dengan Creative AI Pro agar karya Anda tidak terlihat seperti hasil algoritma yang kurang piknik. Untuk memahami lebih jauh bagaimana sentuhan manusia tak tergantikan dalam karya seni, baca juga The Love That Remains: Saat Manusia Bikin Film dari Hati, AI Cuma Bisa Ngitung Pixel!

Pada akhirnya, Hollywood mungkin akan merasakan dampak finansial dari “AI Fatigue” ini. AI mungkin alat yang kuat, tetapi tanpa akal manusia yang menjadi nahkoda, ia hanyalah kumpulan kode mati yang berpotensi menciptakan bencana kreatif. Ingat, robot itu cuma alat, yang punya akal tetaplah kamu, Sang Majikan.

Ngomong-ngomong, tadi pagi saya mencoba menyuruh AI membuatkan sarapan. Eh, malah disajikan semangkuk sereal dengan topping pil multivitamin. Katanya, itu “optimasi nutrisi”. Akal Majikan memang tidak tergantikan!

Artikel ini dirangkum dari sumber asli di WIRED.

Gambar oleh: Eamonn M. McCormack/Getty Images

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *