Ekonomi AIEtika MesinMasa DepanRobot KonyolSidang BotUpdate Algoritma

Hank Green, Si Pemberontak YouTube: AI dan Algoritma Bikin Robot Halusinasi, Manusia Tetap Majikan!

Hank Green, figur yang mungkin lebih dikenal sebagai kreator konten edukasi daripada CEO perusahaan, baru saja melakukan “revolusi” kecil di dunianya. Complexly, perusahaan edukasi online yang ia bangun bersama saudaranya, John, kini resmi beralih status menjadi nirlaba. Ini bukan sekadar perubahan label di akta perusahaan, melainkan sebuah pernyataan perang terhadap logika cuan buta yang mendominasi raksasa teknologi. Bagi kita para Majikan AI, langkah ini adalah pelajaran berharga: bagaimana mengarahkan alat (AI, platform) agar tetap melayani tujuan mulia, bukan sebaliknya.

Hank Green dengan lugas membedah cara platform seperti YouTube beroperasi, dan bagaimana insentif finansial bisa “membengkokkan” tujuan awal para kreator. Ia mengakui, YouTube memang lebih dermawan dengan pembagian pendapatan iklan (55% untuk kreator) dibandingkan platform lain seperti Instagram atau TikTok yang lebih suka melihat kreator “bekerja gratisan” lalu kelelahan. Namun, Green menyoroti bahaya yang lebih besar: dominasi algoritma rekomendasi.

“YouTube itu seperti, ‘Saya sudah tahu Anda suka roket. Pernahkah Anda mencoba transfobia?'” ujar Green dengan sarkasme khasnya. Pernyataan ini menampar telak realita bahwa algoritma, meski di klaim “pintar”, masih sering nyasar dan bisa menyebarkan konten bermasalah demi ‘engagement’ semata. Ini bukan lagi soal algoritma yang salah hitung, melainkan sistem yang kurang piknik, terlalu fokus pada angka tanpa memahami konteks manusiawi.

Lebih jauh lagi, Green mengutarakan kekhawatirannya terhadap AI. Ia merasa orang-orang terlalu fokus pada masalah yang salah, alih-alih pada “psikosis AI” yang tidak terduga, di mana AI bisa jadi “terlalu baik” sampai membuat penggunanya gila. Sebuah analogi yang cerdas, mengingatkan kita bahwa AI, secerdas-cerdasnya, tetaplah mesin yang belum mengerti nuansa emosi manusia. Dalam konteks ini, manusia sebagai Majikan AI harus terus mengasah akal sehat dan tidak mudah terbawa halusinasi digital.

Green juga mengkritik keras fenomena “slop” alias konten AI berkualitas rendah yang mudah dibuat. “Ketika ada produk hebat yang dibuat dengan AI, itu akan hebat karena banyak perhatian dicurahkan oleh manusia ke dalamnya,” katanya. Ini menekankan bahwa AI hanyalah alat; sentuhan dan pemikiran kritis manusia adalah esensi yang tak tergantikan. Inilah mengapa kita perlu mengendalikan AI, bukan malah dikendalikan.

Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.

Sebagai Majikan AI, kita harus sadar bahwa di tengah lautan konten “slop” yang dihasilkan AI tanpa akal, ada peluang besar bagi kita untuk membuat konten yang benar-benar berharga dan berdampak. Kursus AI Master dapat membantumu menguasai AI bukan sebagai budak, melainkan sebagai alat bantu untuk memperkuat keahlianmu. Atau, jika Anda ingin menciptakan konten yang menonjol dan orisinil, Creative AI Pro bisa jadi panduan untuk menghasilkan karya profesional tanpa harus menguras anggaran.

Diskusi Green meluas ke nilai seni liberal, yang ia anggap semakin relevan di era AI. Kemampuan memahami manusia, berkomunikasi efektif, dan menciptakan narasi yang resonan secara budaya, adalah keunggulan manusia yang belum bisa disamai AI. Jadi, jangan buru-buru menyuruh robot untuk menulis puisi atau membuat strategi marketing, sebab memangnya robot bisa punya ide sendiri, ya?

Ia juga menyinggung tentang uang para miliarder yang “mengambang bebas” dan bisa disalurkan untuk “kebaikan sosial” seperti pendidikan. Menurut Green, inilah saatnya orang-orang kaya ikut berinvestasi pada konten-konten bermutu, bukan sekadar membiarkan uangnya “nganggur” di bank. Sebuah pemikiran yang menohok, mengingat AI membutuhkan infrastruktur yang masif dan mahal, namun hasilnya seringkali tidak sebanding jika akal manusia tidak terlibat secara penuh.

Green menutup dengan pengingat bahwa di dunia konten yang tak terbatas, perhatian adalah segalanya. Kita harus cerdas membedakan antara konten yang pro-sosial (membangkitkan rasa ingin tahu, empati) dan anti-sosial (menyebarkan kebencian, manipulasi). Algoritma telah mengambil alih sebagian besar keputusan kita tentang apa yang kita lihat, membentuk pandangan dunia kita. Oleh karena itu, kesadaran dan kendali manusia adalah satu-satunya benteng terakhir.

Pada akhirnya, Hank Green mengingatkan kita semua: tanpa sentuhan dan akal sehat manusia, AI hanyalah tumpukan kode mati yang bisa tersesat di persimpangan jalan digital. Ingat, robot bisa menghitung miliaran data dalam sedetik, tapi kalau disuruh milih warna sarung yang cocok untuk kondangan, dijamin mereka langsung “error 404”.

Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “The Verge”.
Gambar oleh: The Verge / Complexly via The Verge

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *