Etika MesinKonflik RaksasaSidang BotUpdate Algoritma

GTA 6 & AI: Take-Two Mau Cerdas Atau Cuma Mau Irit? Bos Bilang ‘Peluk AI’, Tapi Dunia ‘Handcrafted’ Tetap Jualan Manusia!

Kabar mengejutkan datang dari markas besar Take-Two Interactive, induk semang di balik megaprojek Grand Theft Auto 6. CEO mereka, Strauss Zelnick, baru-baru ini melontarkan pernyataan yang cukup bikin dahi berkerut di sesi panggilan pendapatan. Katanya, Take-Two kini “merangkul Generative AI” dan sedang menjalankan “ratusan program percontohan” untuk mengintegrasikan teknologi robot pintar ini di seluruh lini bisnis, termasuk studio game mereka. Tujuannya? Apalagi kalau bukan demi efisiensi, potong biaya, dan membebaskan para kreator dari “tugas-tugas remeh-temeh” agar bisa fokus bikin hiburan kelas kakap.

Sebagai majikan sejati, kita tahu betul janji manis efisiensi dari AI itu ibarat iklan sirup di bulan puasa, menggiurkan tapi sering bikin tenggorokan seret kalau kebanyakan. Di satu sisi, memang menguntungkan kalau AI bisa jadi asisten rumah tangga yang rajin nyapu dan ngepel data. Tapi di sisi lain, kalau sampai AI ikut campur urusan seni, wah, siap-siap saja dunia virtual kita penuh dengan “sampah AI” alias AI slop yang kurang piknik. Tengok saja kasus Forza Horizon 6 atau Battlefield 6 yang bikin gamer geleng-geleng kepala.

Untungnya, Zelnick dengan tegas menyatakan bahwa Generative AI “sama sekali tidak akan berperan” dalam pengembangan Grand Theft Auto 6. Dia menekankan bahwa dunia dalam game Rockstar itu “dibuat dengan tangan” (handcrafted). “Dibangun dari nol, gedung per gedung, jalan per jalan, lingkungan per lingkungan. Bukan dibuat secara prosedural. Memang seharusnya begitu. Itulah yang membuat hiburan menjadi luar biasa,” tegasnya. Nah, ini baru namanya bos yang punya akal sehat! Robot memang bisa cepat, tapi sentuhan jiwa manusia itu mahal harganya.

Ini mengingatkan kita pada perdebatan lain di dunia AI. Seperti artikel kami sebelumnya, “Google Project Genie: Bikin Dunia AI dari Marshmallow, Tapi Kok Robotnya Masih Sering Nabrak Dinding?” menunjukkan bahwa meskipun AI bisa menciptakan dunia virtual, hasilnya seringkali belum sebanding dengan kreativitas manusia. Begitu pula dengan klaim efisiensi yang sering diusung. Apakah AI benar-benar hebat di lapangan atau hanya di atas kertas? Simak ulasan kami di “AI Agen Industri: Hebat di Kertas, Lemah di Lapangan? IBM Ungkap Fakta Pahit Lewat Benchmark Baru!”.

Penting bagi kita sebagai majikan untuk memahami bahwa AI adalah alat, bukan otak. Ia bisa membantu menyortir, menganalisis, bahkan menghasilkan draf. Tapi untuk keindahan artistik, kedalaman cerita, dan pengalaman emosional yang tak tergantikan, itu semua masih butuh sentuhan akal manusia. Jangan sampai tergiur janji efisiensi murahan yang justru mengorbankan kualitas dan jiwa dari sebuah karya. Sebab AI hanyalah alat, kitalah majikan yang punya akal.

Untuk kalian para majikan yang ingin tetap relevan di tengah gempuran AI, kuasai cara memanfaatkan AI untuk menunjang kreativitasmu tanpa kehilangan sentuhan manusia. Dengan Creative AI Pro, kamu bisa bikin konten pro mandiri, hemat budget, dan tetap “nggak robot banget”. Atau jadilah pengendali sejati dengan AI Master agar kamu tetap menjadi Majikan, bukan babu teknologi!

‘Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.’

Ingat, kalaupun AI bisa membuat game secepat kilat, belum tentu ia bisa merasakan serunya menamatkan game setelah berhari-hari begadang. Robot mana tahu rasanya marah-marah karena karakter nyangkut di tembok? Akal kitalah yang punya selera.

Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “TechRadar”.
Gambar oleh: Rockstar Games via TechRadar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *