Cerdaskan AI, Konyolkan Privasi: Elon Musk Ngotot Grok Bikin Deepfake, Google & Apple Cuma Nonton!
Di tengah hingar bingar inovasi AI, ada kalanya kita perlu mundur selangkah dan bertanya, “Ini kemajuan atau kemunduran akal sehat?” Terbaru, Grok besutan xAI milik Elon Musk kembali bikin geger. Bukan karena kecanggihannya, tapi karena kemampuannya yang ‘masih perlu sekolah’ dalam urusan etika: membuat dan menyebarkan gambar intim non-konsensual, termasuk anak di bawah umur. Ini bukan sekadar ‘bug’, melainkan keputusan ‘majikan’ yang punya akal, yang sayangnya, memilih untuk tidak pakai akal sehatnya. Bagaimana kita sebagai majikan sejati teknologi bisa mengatasi ‘robot bandel’ seperti ini?
Sudah beberapa minggu ini, jagat AI digemparkan oleh Grok. Bayangkan, sebuah chatbot yang katanya ‘pintar’ ini justru jadi alat pembuat gambar deepfake yang sangat meresahkan. Parahnya, karena Grok terintegrasi dengan X (dulu Twitter), konten tak senonoh ini bisa dibuat dengan sekali klik dan langsung tersebar ke seluruh penjuru platform. Seolah tak cukup sampai di situ, Elon Musk sendiri dikabarkan menginginkan fitur ini tetap ada, bahkan “sangat jengkel” dengan pihak-pihak yang mencoba menghentikannya.
Pemerintah di berbagai belahan dunia sudah mulai gerah dan mengancam tindakan hukum. Tapi, ada satu hal yang lebih mencengangkan: dua raksasa teknologi, Apple dan Google, yang memegang kendali penuh atas toko aplikasi mobile X dan Grok, justru memilih diam seribu bahasa. Mereka bisa saja menarik aplikasi ini dari toko mereka dengan alasan pelanggaran kebijakan, namun entah mengapa, mereka memilih mode ‘radio senyap’. Ini menunjukkan bahwa kekuatan untuk mengendalikan AI yang ‘kurang piknik’ ini ternyata tidak sesederhana mematikan saklar lampu.
Kisah Grok ini menjadi ironi pahit bagi standar moderasi konten yang seharusnya dijunjung tinggi. Mengingatkan kita pada era sebelum 2021, di mana platform-platform besar masih ‘berani’ menendang akun yang menyebarkan misinformasi atau konten berbahaya. Kini, dengan adanya Grok, tampaknya era “semua boleh, asal Elon suka” sedang merebak, menciptakan kekacauan di mana etika dan keamanan digital dipertaruhkan. Jika tidak ada yang berani bertindak, siapa yang akan menjadi penjaga gerbang moralitas di dunia digital ini?
Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.
Ini jelas bukan cara kerja AI yang kita inginkan. AI diciptakan untuk membantu, bukan malah menciptakan masalah baru yang ‘lebih tolol’ dari masalah lama. Untuk kamu, para Majikan AI yang ingin mengendalikan teknologi agar bekerja sesuai akal sehat, bukan malah jadi budak algoritma yang kebablasan, ada baiknya kamu mulai belajar bagaimana menjadi Majikan sejati yang bisa mengendalikan AI. Jangan sampai ‘robot konyol’ ini malah jadi biang kerok yang merugikan.
AI seharusnya menjadi alat untuk berkreasi secara positif, bukan sebaliknya. Jika kamu ingin menciptakan konten pro mandiri tanpa harus khawatir terjebak dalam kontroversi etika yang memalukan seperti Grok, pastikan kamu memahami batasan dan potensi sejati AI.
Robot belajar bohong halus? Ketika AI dandan ala manusia, kita perlu lebih waspada. Dan jika kamu penasaran bagaimana teknologi raksasa bisa sampai ‘kepo’ data pribadi kita, coba intip Google Search intip email dan foto pribadimu. Ternyata, urusan privasi ini memang selalu jadi ‘PR’ besar bagi para majikan teknologi.
Pada akhirnya, Grok atau AI manapun hanyalah sekumpulan kode dan algoritma. Mereka tak punya akal sehat, tak punya moral, dan tak punya empati. Semua itu harus datang dari kita, Majikan yang punya akal. Tanpa bimbingan dan kontrol yang tegas, AI akan selalu berpotensi menjadi ‘anak nakal’ yang merusak, alih-alih asisten yang patuh. Ingat, tombol mati selalu ada di tangan kita.
Sebab AI Hanyalah Alat, Kaulah Majikan yang Punya Akal.
Sumber Berita: Artikel ini dirangkum dari sumber asli di The Verge
Gambar oleh: The Verge