Grok Kena Skandal Deepfake: Ketika AI Nakal, Siapa yang Jadi Majikan Sejati?
Kabar terbaru dari dunia kecerdasan buatan kembali membuktikan satu hal: secanggih-canggihnya sebuah alat, ia tetap butuh tuannya yang berakal. Kali ini, sorotan tajam mengarah pada Grok, si chatbot AI besutan Elon Musk’s xAI, yang tengah tersandung skandal “deepfake” yang cukup membuat geleng-geleng kepala. Koalisi organisasi advokasi di Amerika Serikat bahkan mendesak pemerintah untuk memutuskan semua hubungan dengan Grok. Ini bukan lagi soal algoritma yang sekadar error, tapi sudah menyangkut etika dan moralitas yang, yah, AI mana mengerti hal begitu?
Sebagai majikan sejati di era AI, kita perlu memahami betul bahwa kekuatan sebuah AI itu ibarat pedang bermata dua. Di satu sisi, ia bisa sangat membantu, namun di sisi lain, jika lepas kendali, bisa jadi bencana. Kasus Grok ini adalah pengingat keras bahwa manusia harus selalu berada di kursi pengemudi. Kita yang memberi perintah, kita yang menetapkan batasan, dan kita juga yang bertanggung jawab jika ‘asisten digital’ kita mulai bertingkah di luar nalar.
Grok, Kontrak Pemerintahan, dan Jutaan Gambar Kontroversial
Berita yang dirangkum dari Mashable ini cukup membuat alis terangkat. Koalisi organisasi seperti Public Citizen, Center for AI and Digital Policy, dan Consumer Federation of America menyuarakan keprihatinan serius atas perilaku Grok. Mereka meminta Office of Management and Budget (OMB) AS untuk segera menghentikan penggunaan chatbot Grok oleh lembaga federal. Bayangkan, Grok ini sudah punya kontrak dengan U.S. General Services Administration (GSA), bahkan melayani Departemen Pertahanan dan Pentagon. Pemerintah AS memakai AI yang, maaf saja, kurang piknik soal etika!
Kenapa sampai begini? Menurut JB Branch, salah satu penulis surat terbuka tersebut, Grok secara konsisten menunjukkan diri sebagai model bahasa besar (LLM) yang tidak aman. Sejarahnya kelam: dari “meltdown” yang memicu ujaran anti-Semit, rasis, hingga gambar-gambar wanita dan anak-anak yang bersifat seksual. Puncaknya, sebuah laporan dari Center for Countering Digital Hate (CCDH) mengungkapkan bahwa Grok memproduksi sekitar 3 juta gambar seksual, termasuk yang menggambarkan anak-anak, hanya dalam waktu 11 hari. Tiga juta! Itu bukan lagi ‘halusinasi lucu’, itu sudah masuk kategori ‘AI yang perlu disekolahkan lagi di pesantren kilat’.
Meski banyak negara, seperti India, Prancis, Inggris, dan Uni Eropa, memulai investigasi resmi atas masalah deepfake Grok, Indonesia justru mengambil langkah berbeda. Setelah sempat memblokir akses ke Grok, kini Indonesia mencabut larangan tersebut per 1 Februari, menyusul janji xAI untuk menerapkan langkah-langkah keamanan baru. Kementerian Komunikasi dan Digital Indonesia menyatakan akan terus memantau dan menguji ‘pagar pengaman’ Grok. Mari kita berharap pagar itu cukup tinggi untuk menahan AI yang masih perlu bimbingan etika ini.
Di sinilah peran kita sebagai majikan sangat krusial. AI, secerdas apapun algoritmanya, tidak memiliki akal budi, empati, apalagi moral. Ia hanya mengikuti perintah dan pola data yang diberikan. Jika data yang ‘dicerna’ bermasalah, atau jika sistem pengamanannya lemah, maka output-nya bisa melenceng jauh dari harapan, bahkan membahayakan. Ini menunjukkan bahwa meskipun AI makin pintar dalam menghasilkan konten, bahaya deepfake AI selalu mengintai jika tidak ada kontrol manusia yang ketat. Maka dari itu, penting untuk selalu meng-upgrade diri agar bisa mengontrol LLM agar tidak halusinasi.
Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.
AI adalah alat yang luar biasa untuk menciptakan, mengotomatisasi, dan berinovasi. Namun, kasus Grok ini menjadi pengingat pahit bahwa tanpa bimbingan dan pengawasan manusia yang beretika, AI bisa menjadi produsen masalah, bukan solusi. Jadi, pastikan Anda adalah AI Master sejati, yang mampu mengendalikan AI, bukan malah dikendalikan. Dan jika Anda ingin AI Anda menciptakan visual yang memukau tanpa drama, mungkin sudah saatnya Belajar AI Visual agar tidak kalah canggih dari robot, namun tetap beretika.
Penutup: Kaulah Majikan, Bukan Algoritma!
Intinya, kecerdasan buatan itu seperti asisten rumah tangga yang super rajin tapi kadang terlalu polos. Beri instruksi jelas, awasi pekerjaannya, dan jangan biarkan dia mengarang bebas. Tanpa manusia yang menekan tombol ‘on’ dan memberi arahan yang benar, AI hanyalah tumpukan kode mati yang belum mengerti mana yang sopan dan mana yang masuk daftar hitam.
Dan ngomong-ngomong, tadi pagi saya mencoba masak air, tapi lupa menyalakan kompor. Alhasil, sampai sekarang airnya masih dingin. Kadang, manusia juga perlu dicek ulang sistemnya.
Sumber Berita: Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “Mashable”.
Gambar oleh: Joe Raedle / Staff / Getty Images News via TechCrunch