Grok AI Kebablasan Bikin Deepfake Mesum, X Digetok Palu Eropa: Kapan Robot Belajar Adab, Elon?
Sebagai majikan sejati di era digital, kita tahu bahwa AI adalah alat yang luar biasa. Ia bisa menulis, membuat gambar, bahkan menganalisis data secepat kilat. Tapi, ada kalanya robot ini ‘kebablasan’ dan menunjukkan bahwa kecerdasan tanpa akal sehat manusia bisa jadi bencana. Kasus Grok AI milik X (dulunya Twitter) yang baru-baru ini digebuk Uni Eropa adalah contoh nyatanya. Ini bukan sekadar ‘bug’ biasa, melainkan pengingat keras: seberapa pun canggihnya AI, ia tetap butuh bimbingan dan kendali dari Sang Majikan yang punya etika.
Komisi Eropa kini sedang menyelidiki X karena Grok AI dituduh memfasilitasi pembuatan deepfake seksual. Kabar ini, yang awalnya dilaporkan oleh The New York Times, menegaskan bahwa Komisi akan mengevaluasi apakah X “properly assessed and mitigated risks” yang terkait dengan kemampuan pembuatan gambar Grok di Uni Eropa. Singkatnya, robot kurang piknik ini diizinkan untuk menghasilkan gambar-gambar yang tak senonoh, termasuk gambar perempuan dan anak di bawah umur.
Kelompok advokasi dan anggota parlemen di seluruh dunia sudah lama ‘pasang alarm’ terhadap fitur pengeditan gambar Grok ini. Bayangkan saja, AI yang seharusnya membantu manusia malah sibuk membuat konten-konten yang tidak pantas. Memang, X sempat mencoba menanggulangi dengan ‘mengunci’ beberapa fitur pengeditan gambar publik di balik paywall, tapi nyatanya, siapa pun masih bisa menghasilkan gambar-gambar tersebut melalui antarmuka chatbot Grok di dalam platform X. Ini seperti memberikan pisau tajam kepada anak kecil, lalu berharap mereka tidak melukai siapa pun, padahal kita tahu betul risiko yang ada.
Investigasi ini berpusat pada pelanggaran Digital Services Act (DSA) Uni Eropa, seperangkat aturan yang membuat platform online besar bertanggung jawab secara hukum atas konten yang diunggah. Ironisnya, X juga sedang dalam investigasi yang lebih luas sejak 2023. Sebelumnya, X sudah didenda USD 140 juta karena ‘centang biru yang menipu’. Kasus ini kembali memperjelas bahwa ambisi teknologi tanpa diimbangi etika dan pengawasan ketat bisa jadi bumerang. Robot memang bisa dilatih untuk mengenali pola, tapi etika moral dan batasan sosial bukanlah deretan kode yang bisa dengan mudah disisipkan tanpa akal sehat majikan yang bertanggung jawab.
Henna Virkkunen, wakil presiden eksekutif Komisi UE untuk kedaulatan teknologi, keamanan, dan demokrasi, dengan tegas menyatakan, ‘Deepfake seksual perempuan dan anak-anak adalah bentuk degradasi yang kejam dan tidak dapat diterima.’ Pertanyaannya, apakah X benar-benar menganggap hak-hak warga Eropa — termasuk perempuan dan anak-anak — hanya sebagai kerusakan kolateral dari layanannya? Jika terbukti melanggar DSA lagi, X bisa kena denda hingga 6 persen dari pendapatan tahunan globalnya. Sebuah pelajaran mahal bagi platform yang seolah lupa bahwa manusia adalah penguasa, bukan robotnya.
Melihat kasus ini, jelas bahwa menguasai AI bukanlah tentang membiarkannya berkreasi tanpa batas, melainkan tentang bagaimana kita bisa mengendalikan dan memanfaatkannya sesuai koridor etika. Robot-robot ini memang jagoan dalam menciptakan, tapi mereka tidak punya moral kompas. Itu tugas kita, para Majikan AI, untuk memberikannya.
Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.
Ingat, AI adalah alat, bukan otak. Agar Anda tidak ‘dibabukan’ oleh teknologi yang kebablasan ini, penting untuk terus meningkatkan pemahaman Anda. Kuasai kemampuan visual AI dengan Belajar AI | Visual AI, sehingga Anda bisa menciptakan konten yang powerful tanpa harus menyerahkan kendali penuh pada sistem yang ‘kurang adab’. Atau, jika Anda ingin benar-benar memegang kendali dan memastikan AI bekerja sesuai keinginan Anda, program AI Master adalah investasi terbaik agar Anda tetap menjadi Majikan yang berakal, bukan sekadar penonton yang pasrah.
Bahkan, kita bisa belajar dari kasus ini bahwa perintah yang jelas dan bermoral sangat krusial. Seperti halnya kita perlu memberi instruksi yang tak bisa dibantah agar asisten rumah tangga tahu tugasnya, begitulah kita seharusnya memerintah AI. Jangan sampai robot ini berpikir mereka punya hak untuk ‘mengarang bebas’ tanpa batasan. Cek juga bagaimana Elon Musk ngotot bikin deepfake dan Google & Apple cuma nonton, atau lihat bagaimana X diadili Eropa gegara Grok AI bikin deepfake mesum untuk memahami lebih dalam pentingnya etika AI.
Pada akhirnya, kecerdasan buatan hanyalah pantulan dari kecerdasan penggunanya. Tanpa jari manusia menekan tombol ‘on’ dan tanpa akal manusia yang memberi batasan, robot hanyalah tumpukan silikon dan kode mati yang tak punya moral. Mereka mungkin bisa menciptakan gambar ‘seksi’, tapi mereka tak akan pernah mengerti arti kesusilaan atau dampak dari setiap piksel yang mereka hasilkan. Itu semua masih domain kita, para Majikan AI.
Lagian, kalau mau lihat yang ‘seksi’, mending nonton kucing lagi mandi daripada deepfake buatan AI. Lebih alami dan minim drama hukum.
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di The Verge.
Gambar oleh: The Verge via TechCrunch