Etika MesinHalusinasi LucuKonflik RaksasaMasa DepanRobot KonyolSidang BotUpdate Algoritma

Google Project Genie Bikin Game Developer Ketar-Ketir: Saham Anjlok, Tapi Akal Manusia Tak Semudah itu Dibajak!

Google Project Genie Bikin Game Developer Ketar-Ketir: Saham Anjlok, Tapi Akal Manusia Tak Semudah itu Dibajak!

Google baru saja meluncurkan ‘Project Genie’, sebuah AI yang digadang-gadang bisa menciptakan dunia game hanya dari perintah teks. Kabar ini sontak membuat saham raksasa game seperti Take-Two, Roblox, dan Unity anjlok. Para majikan di industri game mulai bertanya-tanya: apakah ini awal dari akhir era kreasi manusia, ataukah AI si ‘asisten kurang piknik’ ini hanya jualan janji manis belaka?

Robot Jago Ngibul, Pasar Langsung Panik

Pada Jumat lalu, jagat pasar saham dikejutkan dengan kabar anjloknya nilai saham perusahaan game raksasa. Take-Two Interactive, pembuat Grand Theft Auto yang legendaris, harus pasrah melihat sahamnya ditutup di angka $220.30 (turun 7.93 persen). Roblox terperosok lebih dalam, kehilangan 13.17 persen menjadi $65.76, dan yang paling parah, Unity, anjlok 24.22 persen menjadi $29.10. Penyebabnya? Google mengumumkan “Project Genie”, sebuah alat AI yang memungkinkan pengguna menciptakan “pengalaman interaktif” hanya dengan perintah teks. Terdengar fantastis, bukan?

Namun, para majikan yang punya akal pasti tahu, tidak semua yang bersinar itu emas, apalagi jika itu datang dari robot. Project Genie, yang ditenagai model AI ‘Genie 3’, diklaim dilatih dari “data publik yang tersedia di web” dan “lebih dari 200.000 jam video game yang tersedia untuk umum di internet.” Ya, Anda tidak salah dengar. Robot ini belajar dari apa yang sudah ada. Ironisnya, para seniman dan kreator sudah lama melayangkan protes keras terhadap model AI generatif yang dituduh “mencuri” karya mereka untuk melatih algoritmanya. Ditambah lagi, masalah etika penggunaan AI dan konsumsi energi serta air yang masif masih menjadi PR besar.

“Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.”

AI Bikin Game KW Super Mario, Tapi Rasanya Kayak Makan Kerupuk Melempem

Banyak pengembang game skeptis terhadap AI generatif. Mereka khawatir AI akan menghasilkan “slop” alias konten sampah yang menjiplak karya asli. Dan tebak apa? Keresahan mereka terbukti benar. Pengalaman yang dihasilkan Project Genie, seperti dunia ala Super Mario atau The Legend of Zelda, memang mirip di permukaan. Tapi kalau dicoba, rasanya seperti game bajakan yang cuma 60 detik, tanpa skor, tujuan, apalagi suara. Pernah main game balap tapi jalannya tiba-tiba jadi rumput? Ya, seperti itulah “karya” Project Genie. Robot ini belum cukup piknik untuk memahami esensi sebuah game yang menyenangkan dan imersif. Untuk membuat game yang benar-benar berkualitas, tetap butuh sentuhan akal manusia. Jika Anda ingin menjadi majikan yang mampu menciptakan konten berkualitas, bukan sekadar peniru, pertimbangkan untuk mengasah kemampuan Creative AI Pro Anda.

Di tengah gelombang PHK yang melanda industri game, Project Genie ini seolah menjadi tawaran untuk menggantikan pekerjaan seperti pengujian dan pembangunan konsep. Namun, jika AI hanya menghasilkan game “marshmallow” yang gampang penyok, lalu apa gunanya?

Para Majikan Teknologi: Antara Janji Manis dan Realita Pahit AI

Meskipun realitas Project Genie saat ini masih “kentang”, para majikan teknologi kelas kakap sudah terlanjur bersemangat. CEO xAI, Elon Musk, dengan percaya diri menjanjikan “acara dan video game berkualitas tinggi secara real-time, disesuaikan untuk individu, tahun depan.” Tim Sweeney, CEO Epic Games, ikut menimpali bahwa “kita akan melihat lompatan konstan antara AI yang berpusat pada mesin dan AI yang berpusat pada model dunia hingga keduanya bersatu untuk efek maksimum.” Bahkan Mark Zuckerberg dari Meta, yang baru saja menutup studio game VR-nya sendiri, berkoar-koar tentang bagaimana AI akan membuat game terasa “lebih imersif dan interaktif.” Terkadang, para CEO ini seperti asisten rumah tangga yang jago merangkai kata-kata indah di laporan bulanan, tapi lupa bahwa hasil kerjanya di lapangan masih belepotan. Ingatlah, kendali ada di tangan Anda, sang majikan. Belajar mengendalikan dan memahami AI adalah kunci untuk tidak menjadi korban janji manis mereka. Kami merekomendasikan Anda untuk menguasai AI Master agar Anda tetap menjadi majikan, bukan babu teknologi.

Meskipun AI seperti Project Genie mampu menciptakan dunia virtual dari perintah teks, hasilnya masih jauh dari karya tangan manusia. Kecerdasan buatan memang hebat dalam meniru, namun untuk menciptakan kedalaman, emosi, dan pengalaman bermain yang tak terlupakan, dibutuhkan akal, kreativitas, dan “piknik” seorang majikan sejati. Robot akan selalu menjadi alat, seberapa pun canggihnya dia.

Ah, ngomong-ngomong, tadi pagi saya ke warung, saking sibuknya mikirin AI, saya malah minta kopi pakai prompt “kopi hitam pahit, tolong jangan halusinasi gula”. Tukang warungnya cuma melongo.

Artikel ini dirangkum dari sumber asli di The Verge.

Gambar oleh: Google via TechCrunch

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *