Asisten AI Google Dituduh Bisa ‘Personalisasi Harga’, Majikan Wajib Waspada?
Google baru saja mengumumkan sebuah protokol canggih yang memungkinkan asisten AI berbelanja untuk kita. Terdengar keren, bukan? Bayangkan, kamu tinggal suruh AI, “Carikan sepatu lari diskon,” lalu barangnya datang sendiri. Tapi, jangan buru-buru bersorak. Seorang pengawas ekonomi konsumen justru membunyikan alarm bahaya.
Menurutnya, fitur ini berpotensi menjadi alat untuk ‘mengakali’ harga berdasarkan data pribadi kita. Lho, kok bisa? Mari kita bedah lebih dalam, sebab sebagai Majikan, kita tidak boleh naif.
Debat Panas: Inovasi vs. Potensi Manipulasi
Berita ini meledak setelah Google memperkenalkan Universal Commerce Protocol, sebuah sistem yang dirancang agar AI seperti Gemini bisa berinteraksi langsung dengan toko online untuk melakukan transaksi. Tujuannya mulia: membuat belanja jadi super efisien.
Namun, Lindsay Owens, seorang pengawas ekonomi, menyoroti beberapa istilah dalam dokumentasi Google yang membuatnya curiga. Salah satunya adalah “personalized upselling” atau penjualan personal. Teorinya begini: AI menganalisis riwayat obrolanmu, tahu kamu sangat ingin punya jam tangan merek X, lalu ia bisa saja memberi sinyal ke penjual untuk menaikkan harga khusus untukmu. Istilah seramnya: “surveillance pricing” atau penetapan harga berdasarkan pengawasan data.
Tentu saja Google tidak tinggal diam. Mereka membantah keras tuduhan ini. Menurut raksasa teknologi itu:
- Upselling itu Standar: Google bilang istilah ‘upselling’ hanya berarti menawarkan produk premium yang mungkin relevan, bukan menaikkan harga secara diam-diam. Pilihan akhir tetap di tangan pembeli.
- Tujuannya Justru Diskon: Fitur penawaran langsung (Direct Offers) justru dirancang untuk memberikan harga lebih murah atau bonus seperti gratis ongkir, bukan sebaliknya.
- Aturan Ketat: Google menegaskan bahwa mereka melarang keras penjual menampilkan harga di platform Google yang lebih tinggi dari harga di situs mereka sendiri.
Kelemahan Mendasar AI: Kepatuhan Tanpa Nurani
Di sinilah kita, sebagai Majikan yang punya akal, harus berpikir kritis. Masalahnya bukan pada apa yang AI bisa lakukan sekarang, tapi pada apa yang TIDAK BISA ia lakukan. AI tidak punya loyalitas, intuisi, atau nurani. Ia hanyalah program yang menjalankan perintah berdasarkan parameter yang diberikan.
Bayangkan AI sebagai asisten rumah tangga yang sangat rajin tapi kaku. Jika kamu suruh dia beli kopi, dia akan beli. Tapi kalau penjualnya bilang, “Khusus untuk majikanmu, harganya Rp 5.000 lebih mahal karena saya tahu dia mampu,” si asisten ini tidak akan protes. Dia tidak punya konsep ‘kemahalan’ atau ‘harga wajar’. Dia hanya menjalankan instruksi untuk ‘membeli kopi’.
Inilah celah di mana AI, secanggih apa pun, tetaplah alat bodoh yang butuh arahan. Ia tak punya nurani untuk melindungi dompetmu. Satu-satunya benteng pertahanan adalah akalmu sendiri. Memahami cara kerja dan batasan AI adalah kunci agar tidak dipermainkan. Itulah mengapa penting untuk terus mengasah kemampuan sebagai Majikan, bukan sekadar pengguna pasif. Dengan menjadi AI Master, kamu bisa mengendalikan teknologi ini, bukan sebaliknya.
Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Etika Mesin.
Kesimpulan: Teknologi di Tanganmu, Kendali di Otakmu
Apakah Google berniat jahat? Mungkin tidak saat ini. Apakah teknologi ini punya potensi untuk disalahgunakan di masa depan? Sangat mungkin. Perusahaan teknologi besar punya insentif ganda: melayani pengguna, tetapi juga melayani pedagang yang membayar mereka.
Pada akhirnya, mau Google bilang A atau pengamat bilang Z, yang menekan tombol ‘Beli Sekarang’ tetaplah jarimu. AI bisa menyajikan data dan melakukan perintah, tapi keputusan akhir ada di tanganmu. Pastikan otakmu sudah setuju sebelum jarimu bergerak.
Sebab AI Hanyalah Alat, Kaulah Majikan yang Punya Akal.
Ngomong-ngomong, kenapa kerupuk kalau masuk angin malah jadi lembek ya?
Sumber Berita
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di TechCrunch.