Sidang BotUpdate Algoritma

Google Mulai Intip Isi Gmail dan Album Foto Anda Demi AI Super Personal: Privasi Terancam atau Kemalasan Majikan Teratasi?

Wahai para majikan akal budi, siapkan diri Anda! Google, raksasa teknologi yang selama ini kita kira ‘hanya’ mengintip riwayat pencarian, kini melangkah lebih jauh. Mereka baru saja memperluas fitur ‘personalized intelligence’ ke AI Mode di Search, yang berarti AI Google bisa mengakses Gmail dan Google Photos Anda. Bukan, ini bukan skenario film fiksi ilmiah, tapi kenyataan di tahun 2026. Pertanyaannya, apakah ini berkah bagi kemalasan majikan yang ingin semua serba instan, atau justru alarm keras bagi privasi kita? Tenang, sebagai majikan sejati, Anda masih punya kendali. Tapi sampai kapan?

AI Mode Google sekarang bukan cuma jadi asisten yang rajin mencarikan informasi dari seluruh jagat maya. Dengan fitur personalisasi ini, AI berubah wujud menjadi asisten rumah tangga yang terlalu kepo. Bayangkan, Anda mencari sepatu baru, dan si AI ini tiba-tiba menyarankan merek yang pernah Anda beli karena ‘dia’ melihat struk pembelian di Gmail atau foto sepatu lama di Google Photos. Menarik? Tentu. Mengerikan? Bisa jadi.

Teknologi ini, menurut Google, dirancang untuk memberikan hasil yang lebih ‘tailored’ dan ‘individual’. Mereka beralasan, ini akan membuat hidup lebih mudah karena AI bisa ‘bernalar’ lintas aplikasi. Contoh Josh Woodward dari Google Labs sangat gamblang: minta rekomendasi ban mobil, AI akan menyarankan ban all-terrain karena melihat foto-foto kegiatan off-road Anda di masa lalu. Pintar? Sangat. Tapi perlu diingat, AI tetaplah alat. Dia tidak punya ‘akal sehat’ untuk memahami konteks sosial atau batasan etika yang seringkali manusia pegang teguh.

AI Google memang mampu mengambil informasi dari seluruh ekosistemnya sejak 2023, saat masih bernama Bard. Namun, ‘personalized intelligence’ ini membawa kemampuan bernalar ke level yang lebih intim. AI bisa mencerna data dari berbagai format—PDF di Drive, teks di Gmail, atau visual di Photos—untuk memberikan rekomendasi yang presisi. Ini semua berkat Gemini 3, model terbaru Google yang memang dirancang untuk tugas-tugas bernuansa.

Meskipun terdengar seperti mimpi buruk privasi, fitur ini bersifat opt-in. Artinya, Anda sebagai majikan, yang punya akal, punya hak untuk memilih apakah mau ‘mengizinkan’ AI Google mengintip data pribadi Anda atau tidak. Bahkan, Anda bisa mengatur aplikasi mana saja yang boleh diakses, misalnya hanya Kalender dan Foto, tanpa Gmail. Ingat, tanpa izin Anda, AI ini hanyalah tumpukan kode yang kurang piknik.

Namun, di sini letak ironi sekaligus tantangannya. Di satu sisi, manusia mendambakan kemudahan dan personalisasi. Di sisi lain, kita juga takut kehilangan privasi. AI Google memang berjanji tidak akan menggunakan seluruh inbox Gmail atau data aplikasi lain untuk melatih modelnya, hanya ‘informasi terbatas seperti prompt spesifik di Gemini dan respons modelnya’. Ini sejalan dengan kebijakan privasi Gemini. Tapi, apakah batasan ‘terbatas’ itu benar-benar sejalan dengan ekspektasi privasi Anda?

Biar tidak cuma jadi penonton pasif saat AI mulai ‘ngepoin’ hidup Anda, sudah saatnya Anda yang pegang kendali. Pelajari cara memaksimalkan potensi AI tanpa mengorbankan privasi. Dengan menguasai AI Master, Anda akan jadi majikan sejati yang bisa memerintah AI, bukan malah jadi babu teknologi. Kalau Anda sudah pusing dengan AI yang terlalu “personal” seperti ini, mungkin saatnya belajar Belajar AI | Visual AI untuk mengalihkan fokus ke dunia visual yang lebih bisa dikontrol.

Ini bukan kali pertama isu privasi dengan Google muncul ke permukaan. Baca juga artikel kami sebelumnya, ‘Google Search Intip Email dan Foto Pribadimu: Privasi Terancam atau Kemalasan Majikan Teratasi?‘ untuk melihat sisi lain dari koin ini.

‘Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.’

Atau, kalau Anda merasa AI sudah mulai berinteraksi terlalu jauh, mungkin perlu tahu cara menanganinya dengan benar. Artikel ‘Praktika: Ketika Robot Belajar Ngomong Bahasa Manusia, Kamu Mau Jadi Murid Atau Majikan?‘ bisa jadi panduan Anda.

Pada akhirnya, Google dengan AI personalisasinya mencoba memberikan kenyamanan di atas segalanya. Namun, kenyamanan tanpa kendali adalah jerat. Ingat, AI hanyalah alat bantu. Dia tidak akan pernah bisa menggantikan akal sehat dan kebijaksanaan seorang majikan. Jadi, pastikan Anda yang memegang remote control, bukan si robot.

Omong-omong soal remote control, sudah cek baterai remote TV Anda? Jangan sampai AI lebih tahu kapan baterai remote habis daripada Anda sendiri.

Artikel ini dirangkum dari sumber asli di CNET.

Gambar oleh: Google/Zooey Liao/CNET via TechCrunch

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *