Google AI: Robot Nyaingi Jurnalis, Tapi Kok Hasilnya Bikin Geleng-Geleng Kepala?
Pernahkah Anda merasa bahwa headline berita di ponsel Anda semakin aneh, atau bahkan menyesatkan? Jika iya, selamat, Anda tidak sendiri. Google, raksasa teknologi yang seharusnya membantu kita menemukan informasi, kini justru menggunakan AI-nya untuk ‘mengedit’ judul berita di Google Discover. Sebuah ‘fitur’ kata mereka, yang konon ‘memuaskan pengguna.’ Tapi tunggu dulu, apakah ini benar-benar demi kita, atau hanya cara baru AI untuk pamer kecerdasan yang masih perlu banyak piknik?
Sean Hollister dari The Verge, yang juga mengalami fenomena ini, menyebutnya sebagai “omong kosong clickbait AI.” Bayangkan, seperti toko buku yang mengganti sampul buku dengan sampul palsu yang isinya bohong. Google Discover, yang muncul saat Anda menggeser layar di ponsel Samsung Galaxy atau Google Pixel, kini bisa menyajikan judul yang sepenuhnya berbeda, bahkan bertentangan, dengan isi artikel aslinya.
Contoh paling menohok? Google AI pernah menulis headline “AS Batalkan Larangan Drone Asing,” merujuk ke artikel PCMag. Masalahnya, artikel PCMag itu justru dengan jelas menyatakan bahwa kabar tersebut PALSU! Bahkan, Jim Fisher, penulis asli artikel PCMag tersebut, merasa “jijik” dan menyarankan pembaca untuk tidak percaya apa yang disodorkan Google. “Google seharusnya menggunakan judul yang ditulis manusia,” katanya, “atau setidaknya ringkasan yang kami buat untuk mesin pencari.”
AI Google memang pandai merangkum, tapi urusan nuansa, konteks, dan yang terpenting, KEBENARAN, masih jadi pekerjaan rumah yang berat. Ada kalanya ia memelintir judul sampai arti aslinya hilang, atau bahkan mencampuradukkan cerita yang berbeda. “Steam Machine price & HDMI details emerge,” kata Google. Ternyata nihil. “ASUS ROG Ally X arrives,” padahal sudah rilis setahun lalu. Atau “Glasses-free 3D tech wows,” tapi artikelnya tentang perusahaan yang sama sekali berbeda. Ini bukan sekadar “kurang piknik,” ini sudah “butuh sekolah lagi.”
Kondisi ini serupa dengan apa yang pernah kami bahas dalam artikel “AI Dandan Ala Manusia: Wikipedia Jadi Guru Les, Robot Belajar Bohong Halus!”, di mana AI cenderung memproduksi informasi yang terlihat meyakinkan namun faktanya melenceng. Ini membuktikan bahwa kapasitas AI untuk berhalusinasi tidak bisa dianggap remeh.
Yang lebih ironis, AI Google yang ‘cerdas’ ini ternyata masih belum bisa membedakan mana clickbait manusia yang parah dan mana yang bukan. Headline seperti “Star Wars Outlaws Free Download Available For Less Than 24 Hours” dari Screen Rant dibiarkan begitu saja, padahal isinya cuma bagi-bagi satu kode game di Inggris. Lho, kalau yang begini dibiarkan, di mana letak ‘kecerdasan’ AI Google dalam menyaring informasi?
Ini menunjukkan bahwa meskipun AI bisa memproses data dengan kecepatan kilat, ia belum punya ‘akal sehat’ dan ‘nurani’ layaknya jurnalis manusia. AI masih butuh Majikan yang punya akal untuk mengontrolnya, memastikan setiap informasi yang disajikan tidak menyesatkan.
Google mungkin mengklaim ini “demi kepuasan pengguna,” tapi dengan melihat bagaimana AI mereka bisa “mengkepo” data pribadi seperti yang pernah kami ulas di “Google Search Intip Email dan Foto Pribadimu: Privasi Terancam atau Kemalasan Majikan Teratasi?”, pertanyaan besar muncul: apakah kepuasan ini sepadan dengan risiko disinformasi dan pelanggaran privasi?
Sebagai majikan yang cerdas, Anda tentu tidak ingin AI seenaknya menyajikan informasi yang bias atau bahkan salah. Inilah saatnya Anda mengambil kendali. Dengan AI Master, Anda bisa belajar bagaimana memerintah AI agar bekerja sesuai standar Anda, bukan sebaliknya. Atau jika Anda ingin memastikan konten yang Anda buat berkualitas tinggi dan tidak terdistorsi oleh mesin yang kurang piknik, Creative AI Pro adalah senjata rahasia Anda untuk menghasilkan konten profesional mandiri, tanpa harus bergantung pada halusinasi AI.
Pada akhirnya, Google mungkin menyebut ini ‘fitur,’ tapi bagi para pembuat konten dan pembaca cerdas, ini adalah peringatan. AI memang alat yang luar biasa, tapi ia hanya bisa secerdas dan sejujur perintah yang diberikan padanya. Tanpa pengawasan manusia, AI bisa menjadi asisten rumah tangga yang rajin tapi justru menghidangkan nasi basi setiap hari. Ingat, sebab AI hanyalah alat, Kaulah Majikan yang Punya Akal.
Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “The Verge”.
Gambar oleh: Google, PC Mag via The Verge
Omong-omong, tadi pagi saya mencoba bertanya pada AI saya, ‘Apakah ayam dulu atau telur?’ Dia bilang, ‘Tergantung, Majikan mau sarapan apa?’ Ternyata AI juga tahu cara menghindar dari pertanyaan filosofis.