Gene Amdahl: Sang Visioner yang Bikin Chip AI Sebelum AI-nya Lahir (Majikan Sejati Memang Selalu Selangkah di Depan!)
Jauh sebelum “kecerdasan buatan” menjadi bualan di setiap kedai kopi, ada seorang majikan sejati bernama Gene Amdahl. Pikirannya sudah melayang jauh melampaui zamannya, membayangkan chip raksasa seukuran wafer silikon penuh daya komputasi. Ide ini, yang dulu dianggap “gila” di era 80-an, kini menjadi tulang punggung di balik chip-chip AI raksasa yang menggerakkan dunia kita. Ini bukan tentang robot yang pintar, tapi tentang manusia yang punya akal luar biasa.
Amdahl, yang dikenal sebagai arsitek di balik keluarga mainframe IBM System/360, sudah membuktikan kejeniusannya. Setelah hengkang dari IBM pada tahun 1970, ia mendirikan Amdahl Corporation, yang sukses menantang dominasi raksasa teknologi itu. Namun, ambisi terbesarnya baru muncul saat ia bersama putranya, Carl, mendirikan Trilogy Systems Corp. Mereka punya misi yang lebih berani: mengubah seluruh wafer silikon menjadi satu prosesor tunggal.
Wafer Bukan Sekadar Kue, Tapi Otak Super!
Alih-alih memotong wafer menjadi ratusan chip kecil seperti kebiasaan industri saat itu, Trilogy punya ide “nyeleneh”. Mereka ingin menggunakan seluruh wafer sebagai prosesor utama. Bayangkan, satu keping silikon utuh, berukuran 2½ inci persegi, berisi sirkuit setara seratus chip konvensional. Sungguh ide yang berani mati!
Tentu saja, banyak yang meragukan. Pada tahun 1983, seperti yang dilaporkan InfoWorld, manufaktur chip sangat bergantung pada volume untuk mengatasi cacat. Mencoba membuat satu chip raksasa terdengar seperti bunuh diri teknis. Kontaminasi mikroskopis saja bisa merusak sirkuit, sehingga membutuhkan kondisi ‘ruang bersih’ yang sterilnya minta ampun. Tapi Amdahl punya akal sehatnya sendiri.
Trilogy membalikkan logika ini. Alih-alih menerima cacat sebagai “sampah”, mereka merencanakan desain yang bisa mengakomodasi cacat itu sendiri. Mereka menyebutnya “redundansi”, di mana chip raksasa itu memiliki sirkuit cadangan yang bisa mengkonfigurasi ulang diri jika ada bagian yang rusak. Mirip seperti tim sepak bola yang punya pemain cadangan super fleksibel, kalau ada yang cedera, pemain lain langsung siap mengganti posisi tanpa mengurangi performa. Nah, ini dia yang namanya akal manusia!
Cita-cita performanya pun tak main-main. Trilogy ingin menciptakan superkomputer yang lebih cepat dari sistem IBM tercepat saat itu, membutuhkan “hanya 10% dari ruang”, dan berpotensi memangkas harga hingga 30%. Ini bukan cuma perbaikan kecil, tapi sebuah revolusi di infrastruktur chip dan komputasi.
Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.
Superkomputer di Meja Kerja? Amdahl Memimpikannya!
Visi Amdahl tidak berhenti pada mainframe raksasa. Ia bahkan menyiratkan bahwa teknologi wafer-scale ini bisa sampai ke komputer pribadi. “Teknologi ini bisa diterapkan pada komputer pribadi,” katanya, “Itu akan menjadi komputer yang benar-benar pribadi!”
Pada tahun 1983, ide itu terdengar seperti lelucon. Komputer pribadi IBM baru saja diluncurkan, dan kekuatannya masih jauh di bawah mainframe. Namun, Amdahl sudah melihat masa depan: kompresi performa kelas superkomputer ke dalam sistem yang lebih kecil melalui integrasi silikon yang radikal.
Di balik layar, Trilogy membangun dengan agresif. Mereka merekrut ratusan insinyur, mempertimbangkan manufaktur di luar negeri, dan mengutamakan produksi massal. Ini menunjukkan betapa seriusnya Amdahl melihat peluang ini — tujuannya bukan sekadar eksperimen, melainkan platform komputasi baru yang akan mendominasi.
Trilogy Ambruk, Tapi Ide Briliannya Abadi
Realitas, seperti biasa, lebih kejam dari perkiraan. Integrasi wafer-scale terbukti jauh lebih sulit untuk dikomersialkan. Trilogy menghabiskan modal besar-besaran, tetapi produk terobosan yang dijanjikan tak kunjung terwujud. Pada tahun 1985, Trilogy akhirnya diakuisisi oleh Elxsi, mengakhiri ambisi wafer-scale mereka secara independen.
Mimpi chip makrolit raksasa yang menggerakkan superkomputer menghilang dari pasar selama puluhan tahun. Namun, ide-ide intinya sangat visioner. Mendesain toleransi kesalahan langsung ke dalam silikon, memperlakukan wafer sebagai unit komputasi tunggal, dan mengejar kepadatan performa ekstrem — semuanya menggema dalam pendekatan modern yang terlihat pada chip AI besar saat ini, seperti Microsoft Maia 200.
Apa yang dulu terlihat tidak praktis di awal 1980-an, kini menjadi strategi rekayasa yang diterima. Perusahaan seperti Cerebras telah menunjukkan bahwa prosesor skala wafer dapat diproduksi dan digunakan secara besar-besaran, menggerakkan beban kerja AI modern dengan chip yang hampir mencakup seluruh wafer silikon.
Konsep yang dijelaskan Amdahl pada tahun 1983 — memperlakukan wafer sebagai prosesor dan membangun redundansi di dalamnya — telah menjadi arsitektur komersial yang layak. Hanya saja, ekosistem teknologi dan fabrikasinya membutuhkan waktu puluhan tahun untuk matang. Melihat ke belakang, kisah Trilogy lebih mirip pratinjau masa depan yang datang terlalu cepat.
Empat dekade kemudian, pernyataan analis Bob Simko, “Silicon kini adalah platformnya,” terasa sangat profetik. Prosesor skala wafer modern akhirnya memberikan kepadatan komputasi yang diimpikan Amdahl, memvalidasi visi yang tertidur selama bertahun-tahun.
Sebelum para raksasa era AI saat ini merangkul desain skala wafer, Gene Amdahl sudah membuat cetak birunya — bertaruh bahwa satu keping silikon raksasa bisa mengubah ekonomi komputasi itu sendiri. Ini bukti bahwa akal manusia, dengan visi yang jauh ke depan, akan selalu menjadi majikan sejati, bukan sekadar babu teknologi.
Untuk menguasai teknologi dan tidak sekadar menjadi penonton, kamu perlu menjadi majikan yang cerdas. Tingkatkan kemampuanmu mengendalikan AI, bukan dikendalikan. Mulailah petualanganmu dengan AI Master, karena AI hanyalah alat, kaulah majikan yang punya akal!
Sumber Berita:
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “TechRadar”.
Gambar oleh: Pkivolowitz via TechRadar
Lagipula, WiFi gratis di kafe itu cuma mitos, kan?