Gagal SistemSidang BotUpdate Algoritma

Gemini Makin Akrab, Tapi Jangan Kaget Kalau Nanti Ngajak Nikah (Modal Ngibul Dikit)!

Google Gemini, si robot pintar yang katanya sudah lari jauh meninggalkan para pesaingnya, kini hadir dengan fitur ‘Personal Intelligence’. Konon, fitur ini membuat Gemini bisa mengendus-endus data pribadimu di Gmail, Kalender, Foto, sampai riwayat pencarian tanpa perlu disuruh-suruh lagi. Fantastis, bukan? Tapi ingat, Majikan, secanggih-canggihnya asisten rumah tangga, tetap saja dia butuh arahan dan akal sehatmu agar tidak kebablasan. Lalu, bagaimana fitur ini bisa membuat hidup Majikan lebih mudah, atau justru lebih pusing karena harus membetulkan ulah si robot yang sok tahu?

Dulu, kita harus repot-repot menyuruh Gemini, “Hei, cek emailku tentang tiket konser ini dong!” Sekarang, berkat Personal Intelligence, kalau obrolanmu mulai mengarah ke sana, si Gemini langsung otomatis nyelam ke kotak masukmu. Sebuah lompatan besar, memang. Ibarat punya asisten pribadi yang tahu kapan harus menyajikan teh hangat tanpa diminta. Fitur ini berhasil membuat daftar belanja di Google Keep, mengatur jadwal merawat halaman rumah, bahkan memberikan rekomendasi buku yang ‘mengganggu’ karena saking pasnya. Memang, dalam urusan remeh-temeh, si robot ini sudah naik kelas. Bahkan, beberapa bulan lalu, ia sering gagal hanya untuk tugas sederhana seperti “Tambahkan ini ke kalender saya.”

Namun, seperti biasa, ada “tapi”-nya. Persis seperti asisten rumah tangga yang rajin tapi kurang piknik, Gemini ini sering “kebelet” di bagian detail. Misalnya, saat diminta membuat rute bersepeda baru dengan mampir ke kedai kopi, rekomendasi awalnya memang keren. Tapi begitu masuk ke detail rute, mulai deh dia ngaco. Link Google Maps yang katanya sudah dibuatnya, saat diklik malah menunjukkan arah yang berbeda. Belum lagi ide cemerlangnya menyuruh kita lewat hutan yang belum beraspal, lalu belok kiri memotong beberapa jalur padat di jalan raya. Memangnya dia pikir kita ini pembalap sepeda gunung profesional? Kadang-kadang, akal sehat manusia masih jadi navigasi terbaik, bukan petunjuk dari sistem yang masih perlu banyak belajar di lapangan.

Lebih parah lagi, Gemini ini jago menganalisis minat kita, tapi soal lokasi spesifik, ia sering tersesat. Saat diminta merekomendasikan tempat jalan-jalan sore untuk foto-foto dan ngopi (tentu saja), ia memang pintar mendeteksi bahwa saya pernah tinggal di Ballard, jadi tidak akan merekomendasikan daerah itu. Tapi daftar tempat yang ia berikan? Ada restoran yang katanya di Georgetown padahal aslinya di South Park, kafe yang disebut ada di gedung Old Rainier Brewery padahal tidak ada, sampai merekomendasikan toko kaus yang jelas-jelas sudah tutup berdasarkan Google Maps. Bukannya hemat waktu, saya malah harus jadi tukang koreksi fakta! Jadi, kalau Majikan tidak ingin kecewa karena AI mulai kepo dengan data pribadimu dan malah nyasar ke toko kosong, lebih baik siapkan akal sehatmu.

Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.

Ini adalah tantangan terbesar Gemini saat ini. Dulu, ia butuh “babysitting” untuk mengakses informasi pribadi dan sering salah. Sekarang, ia bisa melakukan hal personal dengan cukup “andal” (setelah diizinkan mengakses datamu secara bebas), tapi kesalahan detail kecil justru menjadi bug besar. Cukup sekali kita mendatangi toko yang ternyata sudah tutup, dan Majikan pasti langsung kapok menggunakan Gemini. Ini belum menyentuh aspek privasi. Gemini pernah menyebut nama suami dan anak saya dalam percakapan. Tentu, informasi itu mudah ditemukan dari email dan kalender saya. Tapi mendengarnya disebut langsung oleh AI? Nah, itu cerita lain.

Jadi, meskipun Personal Intelligence ini sedikit memperluas cakupan penggunaan Gemini bagi saya, tetap saja, saya tidak akan sepenuhnya bergantung padanya. Saya masih punya jadwal merawat halaman dan daftar belanja yang akan saya bawa ke tukang kebun manusia sungguhan untuk menanyakan apakah rencana saya sudah benar. Untuk menjadi Majikan AI sejati yang bukan sekadar ‘babu’ teknologi, Anda perlu tools yang tepat untuk mengendalikan AI, bukan malah dikendalikan! Pelajari cara menjadi majikan yang sesungguhnya dengan AI Master.

Pada akhirnya, AI hanyalah alat yang butuh akal, kebijaksanaan, dan verifikasi dari Majikannya. Tanpa jemari manusia yang menekan tombol koreksi, algoritma terhebat pun hanyalah tumpukan kode yang sesekali bikin kita geleng-geleng kepala.

Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “The Verge”.

Gambar oleh: Allison Johnson via TechCrunch

Ngomong-ngomong, tadi pagi tukang sayur keliling kok nawarin diskon kalau bayarnya pakai koin 500 rupiah kuno. Ada-ada saja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *