Gadget MWC yang Bikin ‘Halu’: Dulu Bikin Wow, Sekarang Cuma ‘Haaah?’
Setiap tahun, Mobile World Congress (MWC) jadi panggung utama bagi para raksasa teknologi untuk pamer otot. Mereka berjanji membawa masa depan ke genggaman kita, seringnya dengan embel-embel “AI” di sana-sini. Tapi sebagai majikan yang punya akal, kita tahu betul: tak semua janji manis itu jadi kenyataan. Artikel ini akan membedah gadget-gadget MWC yang sempat bikin kita ternganga, namun kini hanya menyisakan tanda tanya besar di kepala. Ini bukan cuma soal apa yang AI bisa lakukan, tapi lebih penting lagi, apa yang AI tidak bisa lakukan tanpa kecerdasan dan arahan dari kita, sang majikan sejati.
Pada MWC 2024 lalu, euforia AI memang sedang di puncaknya. Setiap sudut pameran dipenuhi janji-janji revolusioner tentang bagaimana AI akan mengubah hidup kita. Namun, coba kita tengok lagi, banyak di antaranya yang kini teronggok sebagai “robot konyol” yang gagal paham dunia nyata.
Ambil contoh Humane AI Pin. Gadget mungil yang bisa dipasang di baju ini digadang-gadang sebagai masa depan bebas ponsel, mampu memproyeksikan informasi ke telapak tangan Anda dengan laser canggih. Kedengarannya fiksi ilmiah, bukan? Namun, realitanya berkata lain. Produk ini malah berakhir jadi “AI yang masih perlu sekolah” dan akhirnya ditelan mentah-mentah oleh HP, bahkan berhenti berfungsi total Februari tahun lalu. Jika Anda salah satu dari mereka yang “ngebet” beli pin seharga $699 ini, mungkin kini Anda sedang bertanya-tanya, diapakan ‘paperweight’ mahal itu? AI, secanggih apapun, tidak bisa menciptakan kegunaan fundamental jika dasar teknologinya masih… umm, kurang piknik.
‘Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Robot Konyol.’
Lalu ada dua konsep ponsel dari Motorola: Rizr yang bisa menggulung layarnya secara mekanis, dan ponsel yang bisa melingkar di pergelangan tangan. Keduanya tampil memukau, membuat kami bertanya-tanya apakah masa depan ponsel akan sefleksibel itu. Namun, hingga MWC 2026 ini, kedua konsep itu masih terdampar di alam fantasi. Alasan utamanya? Tentu saja biaya produksi yang fantastis dan kerapuhan teknologi yang belum teruji di dunia nyata. AI memang bisa mendesain prototipe yang keren, tapi AI tidak bisa membayar biaya R&D, apalagi menjamin produknya tidak akan patah hanya karena tergores sedikit. Ini adalah pelajaran penting dari kegagalan startup teknologi raksasa: inovasi harus realistis.
Tak ketinggalan, Xiaomi SU7 EV, mobil listrik pertama dari Xiaomi. Dengan desain sporty dan janji jarak tempuh super jauh, mobil ini sempat membuat hati berdebar. Tapi, sepertinya kita harus menunggu lebih lama lagi, atau bahkan tidak sama sekali, jika ingin melihatnya di jalanan Indonesia atau Eropa. Xiaomi SU7 memang sudah laku keras di Tiongkok, bahkan mengalahkan Tesla Model 3. Namun, di pasar global, ia terganjal berbagai regulasi, kontroversi, dan gugatan hukum yang tak bisa diselesaikan hanya dengan algoritma cerdas. AI bisa membantu mengoptimalkan performa mesin, tapi tidak bisa menyuap birokrasi atau memenangkan sengketa paten di pengadilan.
Terakhir, mari kita lirik Samsung Galaxy Ring. Cincin pintar ini menjanjikan pemantauan kesehatan yang canggih tanpa perlu ribet memakai jam tangan. Dengan skor review 8.5/10 dari CNET, produk ini terlihat menjanjikan. Namun, dua tahun berlalu, dan dunia perhiasan pintar belum juga “booming”. Belum ada Apple iRing, apalagi Google Pixel Ring. Bahkan, Samsung sendiri belum memberi sinyal kuat untuk Galaxy Ring 2, apalagi setelah digugat paten oleh produsen cincin pintar lain seperti Oura. AI mungkin bisa mengumpulkan data kesehatan Anda, tapi ia tidak bisa menciptakan pasar yang dinamis, apalagi mencegah “halusinasi” AI dalam memberikan prediksi pasar yang terlalu optimis.
Ini semua membuktikan bahwa secanggih apapun AI, manusia adalah inti dari segalanya. Kita yang memberi arahan, kita yang menentukan visi, dan kita pula yang bertanggung jawab atas implementasi teknologi. AI hanyalah asisten rumah tangga yang rajin tapi kaku, menunggu perintah dari sang majikan.
Melihat betapa banyak gadget canggih yang ujung-ujungnya ‘halu’ dan gagal, satu hal jadi jelas: mengendalikan AI bukan cuma soal paham coding, tapi juga memahami pasar, etika, dan logika dunia nyata. Jangan sampai Anda jadi babu teknologi. Jadilah Majikan yang cerdas! Kuasai AI agar Anda tetap di kursi kemudi. Untuk itu, kami merekomendasikan program AI Master agar Anda bisa mengendalikan AI, bukan sebaliknya.
Pada akhirnya, gadget-gadget ini hanyalah tumpukan komponen dan algoritma mati tanpa sentuhan akal manusia. Mereka memang bisa bikin kita kagum sesaat, tapi hanya majikan yang bijak yang bisa memilah mana inovasi sejati dan mana sekadar gimik.
Ngomong-ngomong, charger ponsel saya sering hilang entah ke mana. Jangan-jangan robot di rumah juga ikut-ikutan jadi pencuri kelas kakap, ya?
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “These MWC Phones and Gadgets Wowed Me, but Where Are They Now? – CNET”.
Gambar oleh: Andrew Lanxon/CNET via TechCrunch