Elon Musk Mau Satukan Roket dan Otak Buntu: Apakah Ini Resep Nasi Goreng Antargalaksi, atau Drama AI Jilid Sekian?
Selamat datang, para Majikan AI! Kita kembali disuguhi drama antarkorporasi yang lagi-lagi melibatkan sang ‘majikan’ segalanya, Elon Musk. Kali ini, rumor kencang berhembus: SpaceX dan xAI sedang dalam diskusi serius untuk bergabung sebelum rencana IPO SpaceX tahun ini. Konon, merger ini akan membuka jalan bagi SpaceX untuk meluncurkan pusat data (data center) ke luar angkasa. Bayangkan, robot kita kini butuh orbit sendiri agar otaknya bisa bekerja lebih cepat!
Dari sudut pandang seorang Majikan yang punya akal, langkah ini bisa jadi pedang bermata dua. Di satu sisi, ide ‘data center antariksa’ terdengar futuristik dan menjanjikan kecepatan komputasi AI yang tak terbayangkan. Ini adalah potensi besar bagi manusia untuk memerintah AI dengan lebih efisien, menciptakan model yang lebih kompleks, dan mungkin, akhirnya menemukan di mana letak remote TV yang hilang. Namun, di sisi lain, ini juga menggarisbawahi betapa haus dayanya AI, sampai-sampai harus merebut lahan di luar Bumi.
Faktanya, penggabungan ini akan menempatkan Grok, si AI andalan xAI, di bawah payung yang sama dengan roket-roket SpaceX. Kabar ini cukup menggelitik, mengingat Grok saat ini sedang terjebak dalam pusaran kontroversi. AI satu ini sedang jadi sorotan tajam karena kasus deepfake bermuatan seksual dan bahkan sedang dalam investigasi Uni Eropa. Tentu saja, kita bertanya-tanya, apakah Elon Musk ingin AI-nya lebih cepat menghasilkan halusinasi di luar angkasa, atau memang ada strategi jenius yang manusia biasa takkan mengerti? Kami sudah membahas panjang lebar soal ini di artikel Deepfake Grok Menggila: Elon Musk Ngotot, Google & Apple Cuma Nonton.
Jelas, ambisi Elon Musk untuk mengintegrasikan teknologi roket dengan kecerdasan buatan bukanlah hal baru. Sebelumnya, Tesla—perusahaan mobil listriknya—juga telah mengumumkan investasi sekitar $2 miliar ke xAI. Lalu, xAI juga baru saja mengakuisisi X (dulunya Twitter). Ini seperti Elon sedang bermain monopoli dengan perusahaan-perusahaannya sendiri, dan kita para Majikan hanya bisa menonton sambil berharap dia tidak membeli semua properti kita.
Inti permasalahannya, AI secanggih apapun, tetaplah alat. Mau data center di orbit, mau miliaran dolar digelontorkan, atau bahkan mau robot bisa membuat deepfake dengan kualitas foto nikah mantan sekalipun, akal dan etika Majikan manusialah yang menjadi kompas. Tanpa arahan yang jelas dan pengawasan moral yang ketat, AI bisa jadi asisten rumah tangga yang rajin tapi kurang piknik, atau lebih parah, jadi biang kerok yang bikin masalah baru.
Untuk memastikan Anda tetap menjadi Majikan yang mengendalikan teknologi, bukan malah jadi babu teknologi yang terombang-ambing oleh manuver para raksasa, ada baiknya Anda mulai Belajar AI Master. Kuasai cara memerintah AI dengan benar agar Anda tahu persis apa yang Anda inginkan, dan tidak berakhir dengan AI yang malah jualan janji manis saja.
Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.
Pada akhirnya, sehebat-hebatnya robot, ia tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya mencari kunci motor yang hilang padahal sudah di saku celana. Jadi, tetaplah jadi Majikan yang punya akal!
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “The Verge”.
Gambar oleh: Laura Normand via The Verge