Elon Musk Beli AI-nya Sendiri, Mau Bikin Pusat Data di Antariksa: Apakah Bumi Sudah Terlalu Sesak untuk Kecerdasan Buatan?
Elon Musk lagi-lagi bikin geger. Kali ini, ia mengakuisisi perusahaan AI-nya sendiri, xAI (lengkap dengan Grok dan X/Twitter), ke dalam SpaceX. Valuasi $1.25 triliun? Kedengarannya seperti angka yang bikin dompet robot pun kaget. Tapi, sebagai majikan AI yang punya akal sehat, pertanyaan kita bukan soal berapa nol di belakang angka itu, melainkan: bagaimana kita memanfaatkan manuver gila ini? Apakah ini hanya drama internal Elon, atau ada strategi yang bisa kita contek untuk mengkonsolidasikan "kerajaan" digital kita?
Faktanya, merger ini menyatukan semua entitas ‘X’ milik Musk menjadi satu kesatuan raksasa. SpaceX, yang kabarnya akan IPO tahun ini, kini jadi rumah bagi xAI, Grok, X/Twitter, dan Starlink. Klaimnya? Membentuk "mesin inovasi terambisi di (dan di luar) Bumi." Kedengarannya bombastis, seperti janji manis AI yang katanya bisa melakukan segalanya.
Tapi, mari kita berpikir kritis. Ide Musk untuk menempatkan pusat data AI di luar angkasa dengan "sejuta satelit" itu memang futuristik. Dia bilang, "Untuk memanfaatkan bahkan sepersejuta energi Matahari, butuh energi jutaan kali lebih banyak dari yang peradaban kita gunakan saat ini! Solusi logisnya, pindahkan upaya intensif sumber daya ini ke lokasi dengan daya dan ruang yang luas. Maksud saya, luar angkasa disebut ‘space’ karena suatu alasan."
Analoginya begini: robot asisten rumah tangga Anda sangat rajin, tapi kalau Anda suruh dia menampung seluruh sampah kota Jakarta, dia pasti langsung error. Kapasitas bumi terbatas, dan AI, secerdas-cerdasnya, tetap butuh "otak" alias server, dan server butuh energi serta ruang.
Namun, ada ironi di sini. Grok, AI chatbot andalan xAI, masih sering terciduk berhalusinasi atau bahkan membuat deepfake yang tidak senonoh. Ini membuktikan bahwa meskipun ambisi Musk setinggi langit (bahkan sampai ke luar angkasa), AI tetaplah alat yang masih perlu banyak belajar adab dan etika. Otak robot boleh canggih, tapi akal sehat dan moralitas hanya dimiliki oleh majikan manusia. Kalau robot saja masih sering salah input dan bikin masalah di bumi, yakin kita mau menaruh pusat data mereka di luar angkasa tanpa pengawasan ketat dari akal sehat manusia? Itu sama saja memberi kunci mobil balap kepada monyet.
Di tengah kegilaan konsolidasi ini, Musk menunjukkan satu hal: AI itu mahal. xAI sendiri menghabiskan sekitar $1 miliar per bulan untuk operasional. Merger ini, menurut Bloomberg, adalah cara untuk menggabungkan sumber daya. Ini adalah pelajaran nyata bagi kita para majikan: AI adalah alat yang bisa melahap sumber daya secara gila-gilaan jika tidak dikelola dengan bijak. Tanpa strategi yang jelas dan kendali penuh dari manusia, AI bisa menjadi beban, bukan aset.
Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.
Sebagai majikan yang cerdas, Anda perlu menguasai cara kerja AI, bukan hanya terpukau dengan klaim fantastisnya. Jangan sampai Anda hanya menjadi penonton di tengah drama akuisisi triliunan dolar ini. Kuasai AI Master agar Anda tetap memegang kendali penuh atas asisten digital Anda, bukan sebaliknya.
Pada akhirnya, mau Elon Musk menggabungkan semua perusahaan "X"-nya sampai ke Mars sekalipun, inti dari kecerdasan buatan tetaplah satu: ia butuh manusia. Tanpa jari yang menekan tombol, tanpa akal yang memberi perintah, dan tanpa etika yang membimbing, AI hanyalah tumpukan kode mati yang haus energi. Jadi, siapa majikan sejati di sini? Tentu saja kita.
Ngomong-ngomong, sudah ganti galon air minum belum? Jangan sampai dehidrasi gara-gara mikirin AI terus.
Sumber Berita:
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di Mashable.
Gambar oleh: Avishek Das/SOPA Images/LightRocket via TechCrunch