Drama Politik Para “Majikan” AI: Kecam Kekerasan ICE, Tapi Kok Malah Puji Trump?
Di tengah gempita perkembangan AI yang katanya akan 'mengubah dunia', kita sebagai majikan sejati sering lupa bahwa di balik algoritma canggih, ada manusia-manusia yang harus mengambil keputusan. Dan keputusan manusia, seringkali, penuh dengan intrik. Kali ini, para CEO raksasa AI seperti Anthropic, OpenAI, bahkan Apple, mendadak jadi sorotan. Mereka mengutuk keras kekerasan yang dilakukan oleh agen ICE, tapi anehnya, di saat yang sama juga melayangkan pujian untuk Presiden Trump. Bagaimana kita harus menyikapi 'drama' ini, dan apa pelajaran bagi kita para majikan akal sehat?
Kasus penembakan warga sipil oleh agen Border Patrol di Minneapolis memicu gelombang protes, bahkan dari dalam industri teknologi. Dario Amodei, CEO Anthropic, secara terbuka di NBC News dan X menyuarakan keprihatinannya, menekankan pentingnya menjaga nilai-nilai demokrasi di rumah sendiri, dan menegaskan Anthropic tidak memiliki kontrak dengan ICE. Sikap yang patut diacungi jempol, bukan?
Namun, jangan cepat-cepat bertepuk tangan. Di belakang layar, Sam Altman dari OpenAI, dalam pesan internal Slack yang bocor ke The New York Times, juga menyatakan kekerasan ICE sudah 'keterlaluan'. Tim Cook dari Apple pun mengirim email internal yang isinya 'patah hati' dengan insiden tersebut, seperti yang dilaporkan Bloomberg. Terdengar heroik, sampai kita membaca bagian berikutnya.
Ironisnya, di tengah kritik tersebut, ketiga CEO ini juga menyelipkan pujian untuk Presiden Trump. Tim Cook bahkan mengaku 'percakapan baik' dengan Trump dan menghargai 'keterbukaannya'. Sam Altman yang pada tahun 2016 terang-terangan menyebut Trump 'pembenci demagog' dan membandingkannya dengan sejarah kelam era 1930-an, kini justru berharap Trump, 'pemimpin yang sangat kuat', akan 'menyatukan negara'. Amodei juga memuji pertimbangan Trump untuk mengizinkan investigasi independen.
Ini adalah ironi yang mengocok perut sekaligus membuat kita bertanya-tanya. Apa yang membuat para petinggi teknologi ini 'berbelok arah' secepat algoritma machine learning yang di-fine-tune? Jawabannya tentu bukan pada kemampuan AI untuk berpolitik atau memiliki moral. AI, secanggih apapun, hanyalah alat yang memproses data. Ia tidak punya nurani untuk mengecam kekerasan, atau kepentingan bisnis untuk memuji seorang presiden. Semua itu adalah domain manusia, lengkap dengan segala pragmatisme dan komprominya.
Kritikus seperti J.J. Colao, pendiri Haymaker Group dan salah satu penandatangan surat terbuka ICEout.tech, dengan telak menyebut Altman mencoba 'main dua kaki'. Ini menunjukkan bahwa meskipun AI berkembang pesat, dan perusahaan seperti OpenAI serta Anthropic meraup miliaran dolar di bawah administrasi saat ini (OpenAI bahkan dikabarkan akan menggalang dana lagi hingga $100 miliar dengan valuasi $830 miliar, Anthropic $25 miliar dengan valuasi $350 miliar), para CEO ini tetaplah manusia yang harus menimbang antara keuntungan, tekanan publik, dan idealisme. Bahkan para pekerja teknologi sendiri pun menyerukan agar para CEO bersuara lebih keras.
Penting bagi kita para majikan AI untuk selalu ingat: AI tidak punya agenda tersembunyi. AI melakukan apa yang diperintahkan. Manusialah yang seringkali punya agenda tersembunyi. Saat AI 'mengarang bebas' itu adalah halusinasi program, tapi saat manusia 'berbelok arah', itu adalah strategi. Jangan biarkan AI menjadi tameng untuk keputusan-keputusan rumit yang sebenarnya murni ranah akal manusiawi.
Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.
Untuk menjadi majikan yang benar-benar bisa mengendalikan narasi, baik di dunia nyata maupun digital, kemampuan untuk memahami dan mempengaruhi opini publik sangatlah krusial. Seperti para CEO ini yang harus pintar bermanuver, Anda juga bisa menguasai AI Master agar setiap perintah Anda presisi dan tidak mudah 'dibantah'. Atau mungkin, untuk mengolah informasi dan menghasilkan konten yang 'nggak robot banget', Creative AI Marketing bisa jadi asisten andalan Anda.
Intinya, kita bisa belajar banyak dari para 'majikan' AI ini. Mereka menunjukkan bahwa di tengah kemajuan teknologi yang memukau, kompleksitas keputusan etis dan politik tetap menjadi beban di pundak manusia, bukan algoritma. Sebab AI hanyalah alat, kaulah Majikan yang Punya Akal, lengkap dengan segala kalkulasi dan… kadang-kadang, 'drama' politiknya.
Oh ya, jangan lupa matikan lampu di kamar mandi kalau sudah selesai, menghemat listrik itu ibadah.
Sumber Berita:
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di TechCrunch.
Gambar oleh: Andrew Harnik / Getty Images via TechCrunch