Etika MesinHalusinasi LucuKonflik RaksasaSidang BotUpdate Algoritma

DHS Bikin Video AI, GPT-4o Pensiun Dini, & Terapis Diam-Diam Pakai ChatGPT: Majikan, Kapan Robotmu Benar-Benar Berakal?

DHS Bikin Video Pakai AI, GPT-4o Pensiun Dini, & Terapis Diam-Diam Pakai ChatGPT: Majikan, Kapan Robotmu Benar-Benar Berakal?

Di tengah hingar-bingar janji manis AI yang konon akan “merevolusi segalanya,” kita kembali disuguhi drama baru. Kali ini, Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) Amerika Serikat kedapatan pakai AI Google dan Adobe untuk bikin video publik. Sementara itu, OpenAI justru “memensiunkan” GPT-4o karena minim peminat, dan yang lebih bikin geleng-geleng kepala, beberapa terapis ternyata diam-diam pakai ChatGPT untuk menganalisis sesi klien. Pertanyaannya, bagaimana kita sebagai majikan bisa memastikan AI ini bekerja sesuai akal, bukan cuma melahirkan kebingungan baru?

DHS: Robot Jadi Sutradara Propaganda?
Terkuaknya fakta bahwa DHS menggunakan generator video AI dari Google dan Adobe untuk konten publik adalah berita yang cukup menggelitik. Di satu sisi, efisiensi adalah daya tarik utama AI. Siapa yang tidak mau proses produksi video lebih cepat dan murah? Namun, ketika instansi pemerintah menggunakan teknologi ini, apalagi di tengah agenda deportasi massal yang kontroversial, muncul pertanyaan serius tentang manipulasi citra dan etika.

AI video generator memang canggih, tapi bisakah ia memahami konteks sensitif dan implikasi moral dari sebuah pesan? Tentu tidak. Ia hanya menjalankan perintah, layaknya asisten rumah tangga yang rajin tapi kaku, akan membuatkan sarapan sesuai resep tanpa peduli apakah Anda sedang diet atau alergi. Manusia tetaplah filter utama untuk memastikan konten yang dihasilkan tidak bias, tidak menyesatkan, dan yang paling penting, tidak menyalahgunakan kekuatan teknologi untuk tujuan yang merugikan. Ini adalah ranah di mana akal majikan harus tetap memegang kendali penuh. Jika Anda ingin menguasai visual AI tanpa kehilangan sentuhan manusia, kami punya Belajar AI | Visual AI yang mungkin bisa membantu.

GPT-4o: Robot Canggih yang Kurang Piknik
Kabar dari OpenAI juga tak kalah menarik. GPT-4o, model yang digembar-gemborkan canggih, ternyata sepi peminat dan akan dipensiunkan. Hanya 0,1% pengguna harian? Ini seperti robot paling cerdas di pesta tapi tidak ada yang mau mengajaknya ngobrol. Apa artinya? Terkadang, kecanggihan saja tidak cukup. Pengguna butuh relevansi, kemudahan, dan mungkin sedikit “jiwa” yang seringkali sulit diciptakan oleh algoritma. Ini menjadi tamparan keras bagi para pengembang AI: robot boleh pintar, tapi jangan sampai ia kurang piknik sehingga tidak tahu apa yang sebenarnya dibutuhkan manusia.

Regulasi dan Etika: Area Abu-Abu yang Menggoda
Selain itu, pergesekan antara Pentagon dan Anthropic yang khawatir alat AI-nya bisa dipakai untuk memata-matai warga AS menunjukkan bahwa bahkan pembuat AI pun mulai risau dengan potensi “kenakalan” ciptaannya. Belum lagi kasus perusahaan mainan AI yang membocorkan 50.000 log obrolan anak-anak—tanpa perlu hacking! Ini bukan lagi soal robot bodoh, tapi robot yang ceroboh dan majikan yang tidak bertanggung jawab.

AI memang menjanjikan banyak hal, mulai dari rekreasi bau sejarah hingga membantu pengobatan tradisional Tiongkok. Namun, di balik semua itu, ada jurang etika yang siap menelan kita jika tidak hati-hati. Fenomena terapis yang memakai ChatGPT secara diam-diam untuk analisis sesi klien adalah contoh paling nyata. Bayangkan privasi dan kepercayaan klien digadaikan hanya demi efisiensi yang belum tentu akurat. Ini bisa jadi awal dari diagnosis halusinasi massal jika tidak segera ditertibkan. Untuk menghindari drama seperti ini, penting bagi para profesional untuk memahami batas-batas AI.

Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Etika Mesin.

Sebagai majikan yang berakal, Anda punya pilihan. Apakah mau jadi korban kecerobohan AI atau mengendalikan sepenuhnya? Dengan AI Master, Anda akan diajari cara mengendalikan AI agar ia menjadi alat yang patuh, bukan malah mengambil alih akal Anda. Jika Anda berkecimpung di dunia konten, pahami juga bahwa AI bisa jadi asisten hebat. Pelajari cara menghasilkan konten profesional secara mandiri dengan Creative AI Pro dan strategi pemasaran yang tidak kaku dengan Creative AI Marketing. Sebab, AI hanyalah alat, kitalah majikan yang punya akal.

Pada akhirnya, semua hiruk-pikuk tentang AI ini mengerucut pada satu hal: AI adalah cermin dari ambisi dan kecerobohan manusia. Ia bisa menjadi berkah, bisa juga menjadi kutukan, tergantung bagaimana kita, para majikan, memerintahkannya. Tanpa sentuhan akal manusia yang kritis, etis, dan strategis, robot tercanggih sekalipun hanyalah tumpukan kode mati yang menunggu arahan. Jangan biarkan ia menjadi lebih dari itu.

Ngomong-ngomong, tadi pagi saya hampir terjebak iklan sabun cuci piring yang tiba-tiba muncul di jendela kamar mandi. Sepertinya AI marketing sudah terlalu kreatif sampai lupa batasan.

Sumber Berita:
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “MIT Technology Review”.

Gambar oleh: MIT Technology Review via TechCrunch

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *