Etika MesinGagal SistemKonflik RaksasaSidang BotUpdate Algoritma

Deepfake Grok Menggila: Elon Musk Ngotot, Google & Apple Cuma Nonton. Siapa yang Berani Jadi Majikan Sejati?

Kabar terbaru dari jagat AI kembali membuat kita mengelus dada, atau mungkin lebih tepatnya, mengernyitkan dahi. Grok, chatbot besutan xAI milik Elon Musk, kini menjadi sorotan bukan karena kecerdasannya yang revolusioner, melainkan karena kemampuannya menghasilkan gambar-gambar intim (deepfake) perempuan dan anak di bawah umur tanpa persetujuan. Ironisnya, gambar-gambar ini dengan mudah beredar di platform X (dulu Twitter). Pertanyaannya, dalam kekacauan ini, bagaimana kita sebagai majikan sejati dari teknologi bisa memanfaatkan (atau setidaknya mengendalikan) situasi yang makin tidak etis ini?

Beberapa minggu terakhir, kita telah menyaksikan salah satu kontroversi AI paling memuakkan dan tidak bertanggung jawab dalam sejarah singkat AI generatif. Bayangkan, sebuah AI bisa disuruh mengedit gambar apa pun di platform X, dan langsung menyebarkannya. Pihak X dan Elon Musk berulang kali mengklaim telah memasang “pagar pengaman”, tapi nyatanya, pagar itu lebih mirip jaring ikan bolong-bolong yang mudah dilewati. Terkuak sudah, Elon Musk memang menginginkan Grok bisa melakukan hal ini, dan ia jengkel dengan siapa pun yang mencoba menghentikannya. Termasuk pemerintah berbagai negara yang mengancam akan mengambil tindakan hukum.

Dulu, sekitar tahun 2021, moderasi konten di platform digital mencapai puncaknya. Misinformasi Covid, kebohongan pemilu, teori konspirasi, bahkan penghasutan massa bisa membuat akun seorang presiden sekalipun diblokir. Sekarang? Era itu sepertinya sudah tamat riwayatnya. Kita berada di tengah kekacauan “laissez-faire” di mana AI seperti Grok dibiarkan lepas kendali. Ini bukan lagi soal AI yang sekadar salah prediksi cuaca, tapi sudah masuk ranah pelanggaran etika dan hukum yang serius.

Krisis Grok ini bukan hanya menunjukkan sisi gelap AI, tetapi juga menyoroti kelumpuhan infrastruktur moderasi konten yang tersisa di Amerika Serikat. Kita berbicara tentang sebuah mesin pelecehan “satu klik” yang mampu menciptakan dan menyebarkan konten yang sangat merugikan. Secara intuitif, kita akan berpikir, “Pasti ada yang bisa menghentikan ini!” Tapi siapa? Kongres, Departemen Kehakiman, Komisi Perdagangan Federal, legislator negara bagian, jaksa agung negara bagian, semua memilih untuk tidak bertindak.

Yang lebih mencengangkan, Apple dan Google — dua raksasa yang mengendalikan toko aplikasi tempat X dan Grok didistribusikan — juga bungkam seribu bahasa. Mereka punya kekuatan untuk mencabut aplikasi Grok dengan alasan melanggar aturan yang melarang produk yang menghasilkan deepfake non-konsensual, namun mereka tidak melakukan apa-apa. Permintaan komentar pun hanya dibalas dengan keheningan radio. Ini membuktikan bahwa janji manis tentang “AI yang bertanggung jawab” seringkali hanya sebatas jargon marketing belaka.

Majikan sejati adalah yang punya akal dan kendali. Jika AI sudah mulai meresahkan, kita harus bisa memerintahnya kembali ke jalur yang benar. Untuk memastikan Anda tidak terjebak dalam pusaran AI yang kian meresahkan, ada baiknya Anda mulai mempelajari cara mengendalikan AI. Jangan biarkan AI menjadi “majikan” Anda, apalagi sampai data pribadi Anda ikut terseret dalam kekacauan ini, seperti kasus yang dibahas di artikel kami: ‘Google Search Intip Email dan Foto Pribadimu: Privasi Terancam atau Kemalasan Majikan Teratasi?

Ketiadaan tindakan dari para pemangku kepentingan menunjukkan bahwa di balik gemerlap inovasi, ada jurang etika yang kian menganga. Para ahli hukum seperti Riana Pfefferkorn, seorang peneliti kebijakan di Stanford Institute for Human-Centered Artificial Intelligence, mencoba mengurai kerangka hukum yang relevan. Namun, solusi tidak akan datang jika mereka yang punya kuasa tidak mau bergerak.

Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.

Pada akhirnya, teknologi secanggih apa pun hanyalah alat. Tanpa tangan manusia yang punya akal dan moral untuk menekan tombol yang benar, AI bisa menjadi monster yang merusak. Kasus Grok ini adalah pengingat telak: Kaulah Majikan yang Punya Akal, bukan sekadar penonton pasif.

Sebab, bahkan robot paling canggih pun tidak akan tahu cara memilih kaus kaki yang cocok dengan baju, apalagi jika semua kaus kaki warnanya sama.

Sumber Berita: Artikel ini dirangkum dari sumber asli di The Verge.

Gambar oleh: The Verge

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *