Davos Dikuasai Robot? Saat CEO AI Berlagak Rockstar, Modal Omong Kosong Laku Ratusan Juta Dolar!
Dulu, Konferensi Ekonomi Dunia di Davos itu isinya para petinggi negara, ekonom ulung, dan mungkin beberapa aktivis yang ngomongin perubahan iklim atau kemiskinan global. Tapi, coba tebak siapa yang jadi bintang utama tahun ini? Bukan, bukan politikus yang lagi jualan janji. Melainkan, para CEO AI yang datang dengan aura rockstar, mengubah Davos menjadi ajang pamer teknologi!
Fenomena ini bukan cuma soal siapa yang paling banyak dapat sorotan, tapi bagaimana kita sebagai Majikan AI harus menyikapi kegilaan ini. Apakah ini sinyal kemajuan atau sekadar gelembung ambisi yang siap pecah?
Laporan dari TechCrunch menyimpulkan bahwa Davos tahun ini benar-benar didominasi oleh perbincangan seputar AI. Meta dan Salesforce mungkin sibuk “menguasai” etalase toko di jalan utama, tapi otaknya forum itu ada di kepala para pemimpin AI. Mereka blak-blakan mengkritik kebijakan perdagangan, bahkan memberi peringatan dini soal “gelembung AI” yang mungkin akan meletus. Nah, ini menarik. Ketika para arsitek teknologi saja sudah mewanti-wanti, kita sebagai pengguna sekaligus majikan harus makin waspada.
Yang lebih gila lagi, ada startup bernama Humans& yang berhasil menggalang dana awal (seed round) sebesar 480 juta dolar AS! Angka fantastis ini mereka dapatkan tanpa punya produk di pasar. Hanya dengan visi “kecerdasan sosial” AI dan tim yang isinya eks karyawan Anthropic, Google, dan xAI. Kedengarannya memang canggih, tapi kalau kata pepatah lama, “sepandai-pandainya tupai melompat, suatu saat jatuh juga”. AI boleh berjanji manis, tapi kalau isinya cuma omong kosong, ya sama saja bohong. Manusia yang punya akal sehat pasti tahu bahwa visi tanpa eksekusi hanyalah halusinasi.
Kisah ini mengingatkan kita pada artikel sebelumnya tentang Perang Mulut Para Bos AI di Davos: Siapa Paling ‘Babu’ Duit dan Siapa yang Jualan Janji Kosong?, yang sudah membedah bagaimana para petinggi AI saling sikut.
Di sisi lain, tidak semua berita AI secerah itu. Meta dilaporkan melakukan PHK 10% karyawannya di Reality Labs. Ini memunculkan pertanyaan besar: apakah ini tanda-tanda “akhir dari metaverse” yang digadang-gadang Mark Zuckerberg? AI, secerdas apa pun, tetap tidak bisa menghentikan realitas pasar. Layaknya asisten rumah tangga yang rajin, AI bisa membantu membuat strategi, tapi keputusan akhir untuk menekan tombol “PHK” atau “lanjut” tetap di tangan majikan manusia.
Namun, inovasi tetap berjalan. Serve Robotics mengakuisisi Diligent, startup yang fokus pada robot pengantar untuk rumah sakit. Sementara itu, OpenAI dikabarkan sedang menyiapkan earbuds sebagai produk perangkat keras pertamanya. Ini menunjukkan AI tidak hanya bermain di ranah perangkat lunak, tapi juga mulai menyentuh “kulit” kehidupan kita sehari-hari, dari robot perawat hingga perangkat dengar pribadi. Perlu diingat, sebagus apapun hardware, tanpa arahan jelas dari majikan, robot-robot ini akan lemah di lapangan dan bikin kita gigit jari.
Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.
Melihat betapa cepatnya dunia AI bergerak, dari diskusi tingkat tinggi hingga startup yang tumbuh tanpa produk, penting bagi Anda untuk tidak sekadar jadi penonton. Jadilah majikan yang tahu betul bagaimana mengendalikan gelombang teknologi ini. Dengan menguasai AI, Anda bisa memilah mana janji manis dan mana peluang emas. AI Master akan membantu Anda memahami seluk-beluk AI agar Anda tetap di atas, bukan di bawah kendali algoritma.
Untuk startup yang ingin sukses tanpa perlu modal omongan kosong, strategi marketing yang “nggak robot banget” itu kuncinya. Pelajari cara membangun narasi yang kuat dan efektif di era AI dengan Creative AI Marketing. Karena AI hanyalah alat, kitalah majikan yang punya akal.
Pada akhirnya, Davos mungkin dipenuhi oleh perbincangan tentang AI, ratusan juta dolar mungkin berputar di antara startup tanpa produk, dan bahkan ada peringatan tentang gelembung yang akan pecah. Tapi satu hal yang jelas: tanpa manusia di belakangnya, tanpa akal sehat, tanpa kepemimpinan yang tegas, semua kecanggihan ini hanyalah tumpukan kode mati dan logam berkarat. Kaulah majikan sejati, bukan robot di meja kerja!
Ngomong-ngomong, tadi pagi saya mencoba menjelaskan konsep blockchain ke kucing saya. Dia cuma menatap kosong, lalu menjilat pantatnya. Prioritas.
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di TechCrunch.
Gambar oleh: Krisztian Bocsi/Bloomberg via Getty Images