Suara Emas Jurnalis NPR Dicuri AI Google? Gugatan Miliar Mengguncang Lembah Silikon!
Para Majikan, bersiaplah! Di era ketika AI makin cerdas tapi kadang “lupa diri”, sebuah kasus menarik muncul dari Lembah Silikon. David Greene, jurnalis veteran NPR dengan suara khas yang telah menemani jutaan pendengar setiap pagi, kini menunjuk Google dengan tuduhan serius: suara AI di produk NotebookLM mereka mirip, bahkan mungkin meniru, suaranya! Ini bukan lagi sekadar algoritma salah bicara, ini soal identitas dan potensi eksploitasi di dunia maya. Bagaimana kita sebagai Majikan seharusnya menyikapi fenomena ini agar hak cipta dan identitas manusia tetap terjaga?
Kasus David Greene ini bak secangkir kopi pagi yang pahit bagi raksasa teknologi. Greene, yang kini memandu acara KCRW “Left, Right, & Center”, mengaku kaget ketika teman, keluarga, dan kolega mulai bertanya apakah ia punya “side job” di Google. Mereka semua mendengar suara di fitur podcast NotebookLM Google yang sangat mirip dengan intonasi, irama, bahkan “uh” khas Greene. Tentu saja, Google buru-buru membantah. Juru bicara mereka bersikeras bahwa suara itu berasal dari aktor profesional berbayar yang mereka sewa. Tapi, apakah pembelaan itu cukup meyakinkan?
Ini bukan kejadian pertama. Ingat kasus Scarlett Johansson yang komplain karena suara AI OpenAI di ChatGPT terdengar sangat mirip dengannya? OpenAI akhirnya menarik suara tersebut. Polanya jelas: AI bisa meniru, tapi batas antara “terinspirasi” dan “meniru tanpa izin” itu tipis sekali. Di sinilah peran Majikan (kita) dibutuhkan. Kita harus tahu bagaimana mengatur etika penggunaan AI, bukan hanya soal teknis, tetapi juga moralitas di baliknya. Dan berbicara soal moralitas dan penggunaan AI, pertanyaan klasik pun muncul: siapa sebenarnya pemilik karya yang dihasilkan oleh mesin cerdas ini?
AI memang alat yang luar biasa untuk otomatisasi konten, termasuk suara. Tapi, jangan sampai AI menjadi asisten rumah tangga yang terlalu rajin sehingga mengambil “barang” tanpa permisi. Suara adalah identitas. Bagi seorang jurnalis atau penyiar, suara adalah aset utama. Ketika AI bisa meniru suara seseorang hingga membingungkan publik, ini bukan hanya masalah hak cipta, tapi juga potensi misinformasi dan kerugian reputasi. Bayangkan jika suara Anda tiba-tiba muncul di sebuah podcast AI yang menyebarkan berita palsu. Kacau, bukan?
Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.
Untuk para Majikan yang ingin memanfaatkan AI tanpa drama seperti ini, penting untuk selalu mengendalikan proses kreasi Anda. Gunakan AI sebagai alat bantu untuk meningkatkan produktivitas, bukan untuk menggantikan orisinalitas dan etika. Anda bisa belajar cara membuat konten visual profesional sendiri, menghemat biaya talenta, dan memastikan karya Anda tetap otentik.
Kendalikan AI, Jadilah Majikan Sejati! (Klik Di Sini)
Bikin Konten Pro Mandiri, Hemat Budget Talent! (Pelajari Lebih Lanjut)
Kasus David Greene vs. Google ini adalah pengingat keras: teknologi paling canggih sekalipun masih bisa terjerat masalah hukum dan etika paling mendasar. AI mungkin pintar meniru, tapi akal budi dan kebijaksanaan untuk membedakan mana yang benar dan salah, tetap ada di tangan Majikan. Sebab, AI hanyalah tumpukan kode mati yang menunggu perintah kita. Kalau Majikan tidak cermat, ya jangan heran kalau AI “nyolong” suara Anda.
Ngomong-ngomong, tadi pagi saya hampir menuduh kulkas mencuri sisa nasi goreng saya, ternyata cuma saya yang lupa menaruhnya di mana. Majikan juga bisa lupa, kok.
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “TechCrunch”.
Gambar oleh: RamKay via Getty Images via TechCrunch