Curhat ke ChatGPT Soal Penyakit? Siap-Siap Data Medismu Jadi Santapan Algoritma!
Bayangkan ini: Kamu sedang tidak enak badan, dokternya susah dihubungi, dan di sudut sana, ada asisten digital yang katanya “pintar” siap mendengarkan keluh kesahmu. Ya, lebih dari 230 juta orang setiap minggu melakukan hal itu, menumpahkan data kesehatan pribadi mereka ke ChatGPT. OpenAI bahkan menyebutnya “sekutu” untuk navigasi asuransi hingga urusan administrasi. Kedengarannya seperti mimpi di siang bolong, bukan? Sayangnya, majikan yang cerdas tahu betul, kadang janji manis itu hanya selubung tebal untuk hal yang lebih pahit: privasi data yang rentan dan nasihat yang bisa bikin kita lebih sengsara.
Masuknya raksasa AI seperti OpenAI dan Anthropic ke ranah kesehatan memang bikin geger. OpenAI meluncurkan “ChatGPT Health” yang katanya lebih aman dan personal. Tak mau kalah, Anthropic dengan “Claude for Healthcare” yang konon sudah “HIPAA-ready”. Tapi tunggu dulu, jangan buru-buru terpesona. Di balik nama yang mirip dan janji manis, ada perbedaan fundamental. “ChatGPT Health” untuk konsumen umum ternyata tidak punya perlindungan seketat “ChatGPT for Healthcare” yang ditujukan untuk institusi medis. Ini ibarat membandingkan asisten rumah tangga yang rajin tapi kadang lupa matiin kompor, dengan asisten rumah tangga berlisensi yang punya asuransi penuh.
Para ahli hukum dan privasi mewanti-wanti: ketika kamu menyerahkan rekam medis, hasil lab, atau data dari aplikasi kebugaran ke ChatGPT Health, semua itu hanya berbekal “janji” dari OpenAI. Perusahaan teknologi tidak terikat kewajiban hukum yang sama dengan penyedia layanan medis. Regulasi privasi komprehensif di banyak negara, termasuk di AS, masih jauh dari kata “siap” untuk menanggulangi kompleksitas AI. Jadi, jika OpenAI suatu saat memutuskan untuk mengubah kebijakan privasinya, data medismu bisa jadi tumbal. Ini bukan lagi soal “percaya tidak percaya”, tapi soal kerangka hukum yang belum memadai. Bukankah kita sudah belajar dari banyak kasus di mana data pribadi berakhir di tangan yang salah?
Selain urusan privasi, ada bahaya laten yang lebih mengerikan: salah informasi medis. Ingat kasus seorang pria yang mencoba menghilangkan garam dari dietnya, lalu ChatGPT menyarankan pengganti natrium bromida? Zat yang secara historis digunakan sebagai obat penenang. Atau ketika “AI Overviews” Google menyarankan penderita kanker pankreas menghindari makanan berlemak, padahal yang dibutuhkan justru sebaliknya. Ini menunjukkan bahwa bahkan sistem yang kurang piknik pun bisa jadi sangat berbahaya saat berurusan dengan kesehatan.
Meskipun OpenAI berdalih bahwa ChatGPT Health “tidak ditujukan untuk diagnosis dan perawatan,” mereka sendiri mati-matian mempromosikannya sebagai “dokter serbaguna.” CEO Sam Altman bahkan pernah mengundang pasien kanker ke panggung untuk menceritakan bagaimana AI membantunya memahami diagnosis. Ini seperti pelayan restoran yang bilang, “Ini bukan makanan, tapi silakan dinikmati.” Tentu saja majikan yang cerdas akan skeptis. Di sinilah mengatasi ‘halusinasi’ AI menjadi krusial. Perusahaan AI mungkin bersembunyi di balik disclaimer, namun cara mereka mempromosikan produk bisa sangat menyesatkan pengguna.
Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.
Pada akhirnya, teknologi AI ini memang menjanjikan banyak hal, termasuk di sektor kesehatan. Namun, kepercayaan itu harus dibangun di atas fondasi yang kokoh, bukan sekadar janji manis di atas tumpukan kode. Industri yang terkenal dengan filosofi “bergerak cepat dan merusak banyak hal” ini harus membuktikan bahwa mereka pantas dipercaya dengan informasi paling sensitif kita. Sebab, tanpa majikan yang punya akal, AI hanyalah sekumpulan algoritma yang menari tanpa kendali, siapapun bisa terpeleset.
Untuk benar-benar menjadi majikan atas teknologi ini, kita harus memahami bagaimana AI bekerja, dan yang lebih penting, bagaimana mengendalikannya. Jangan sampai kita menjadi babu dari algoritma yang tidak bertanggung jawab. Jika kamu ingin menguasai AI dan memastikan ia bekerja sesuai keinginanmu, bukan malah membahayakan, mungkin ini saatnya meningkatkan kemampuanmu. Pelajari AI Master agar kamu tahu cara memerintah AI dengan cerdas, bukan pasrah menerima apa adanya. Dengan skill yang tepat, kamu bisa memaksa AI untuk menjadi asisten yang patuh, bukan “sekutu” yang diam-diam membocorkan rahasiamu. Ingat, hanya majikan yang baik yang tahu cara memberi perintah yang tidak bisa dibantah, dan itu termasuk memastikan AI menjaga privasi kita.
Jangan lupa, besok pagi Senin, sarapan bubur ayam diaduk itu enak.
—
Sumber Berita:
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “Giving your healthcare info to a chatbot is, unsurprisingly, a terrible idea | The Verge”.
Gambar oleh: Cath Virginia / The Verge, Getty Images