Cuan Rp 1.500 Triliun Nvidia ke OpenAI Terancam Ambyar? CEO Jensen Huang Ngamuk: “Omong Kosong!”
Majikan AI, dengar kabar burung terbaru? Konon, investasi fantastis Nvidia senilai USD 100 miliar (sekitar Rp 1.500 triliun, angka yang bisa bikin kita semua pensiun dini) di OpenAI sedang goyang. Tapi, seperti biasa, ada saja drama di balik layar kecerdasan buatan. CEO Nvidia, Jensen Huang, langsung pasang badan dan menyebut laporan tersebut “omong kosong!” Nah, mari kita bedah, apakah ini hanya “gertak sambal” ala korporasi, atau memang ada kerikil tajam di sepatu raksasa AI ini?
Surat kabar The Wall Street Journal mengabarkan bahwa Nvidia berencana mengurangi investasinya di OpenAI. Padahal, sebelumnya mereka sudah mengumumkan rencana ambisius: Nvidia akan menyuntikkan dana hingga USD 100 miliar dan membangun infrastruktur komputasi 10 gigawatt khusus untuk OpenAI. Bayangkan saja, Majikan, itu setara dengan membangun pabrik chip sebesar lapangan bola, hanya untuk satu perusahaan AI!
Namun, bisikan di belakang panggung menyebutkan bahwa Huang mulai menekankan sifat “tidak mengikat” dari kesepakatan itu. Bahkan, secara pribadi, ia dikabarkan mengkritik strategi bisnis OpenAI dan menyoroti persaingan ketat dari para pesaing seperti Anthropic dan Google. Hmm, apakah ini sinyal bahwa hubungan mesra antar raksasa teknologi ini mulai retak? Tentu saja, AI itu cerdas, tapi kadang asisten AI pun bisa terlalu “mandiri” dan lupa bahwa di belakangnya ada ‘Majikan’ yang menyediakan otot komputasi.
Perwakilan OpenAI menepis isu ini dengan menyatakan bahwa mereka “secara aktif menggarap detail kemitraan” dan menegaskan bahwa Nvidia “telah menjadi fondasi terobosan kami sejak awal, memberi daya pada sistem kami saat ini, dan akan tetap menjadi pusat perhatian saat kami meningkatkan skala berikutnya.” Tentu saja, pernyataan diplomatik itu perlu kita kaji. AI mungkin bisa menulis puisi, tapi tidak bisa bernegosiasi secara emosional seperti manusia.
Saat ditanya oleh wartawan Bloomberg di Taipei, Huang dengan percaya diri mengatakan bahwa Nvidia “pasti akan berpartisipasi” dalam putaran pendanaan terbaru OpenAI. “Kami akan menginvestasikan banyak uang,” tegasnya. “Saya percaya pada OpenAI. Pekerjaan yang mereka lakukan luar biasa. Mereka adalah salah satu perusahaan paling konsekuensial di zaman kita.” Kata-kata ini jelas menunjukkan bahwa ia tidak ingin ada yang meragukan komitmennya. Tapi, namanya juga bisnis, Majikan. Hari ini bilang cinta, besok bisa beda cerita. Apalagi kalau menyangkut angka triliunan.
Perlu diingat, OpenAI sendiri sedang mencari dana segar USD 100 miliar. Ada rumor bahwa selain Nvidia, raksasa lain seperti Amazon, Microsoft, dan SoftBank juga ikut mengintip. Ini menunjukkan bahwa meskipun AI adalah alat, kompetisi di balik layar untuk menguasai “otak” AI ini jauh lebih brutal daripada yang kita bayangkan.
Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.
Mengingat investasi ini melibatkan ‘otak’ di balik AI, pastikan Anda juga menguasai cara mengendalikannya. Jangan biarkan AI menjadi majikan Anda. Dapatkan kendali penuh atas asisten cerdas Anda dengan AI Master. Pelajari juga cara membuat konten visual profesional tanpa perlu merekrut tim mahal, cukup dengan Belajar AI | Visual AI dan Creative AI Pro. Sebab, secanggih apa pun AI, sentuhan kreatif dan arahan strategis dari manusia tetap tak tergantikan.
Pada akhirnya, semua drama investasi, klaim “omong kosong”, dan manuver korporasi ini hanya menegaskan satu hal: AI adalah teknologi yang sangat bernilai, tetapi nilainya sepenuhnya ditentukan oleh siapa yang memegang kendali dan bagaimana manusia mengarahkannya. Tanpa sentuhan, visi, dan akal sehat majikannya, AI hanyalah tumpukan sirkuit dan algoritma yang tidak tahu harus berbuat apa.
Ngomong-ngomong, saya yakin AI tidak akan pernah bisa membedakan antara bau kaus kaki yang sudah seminggu tidak dicuci dan bau parfum mahal. Prioritasnya beda.
Sumber Berita: Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “TechCrunch”.
Gambar oleh: Justin Sullivan via TechCrunch