Konflik RaksasaSidang BotSoftware SaaSUpdate Algoritma

Claude Nyelonong ke Slack & Figma: Asisten AI Makin Ngelunjak, atau Kamu yang Makin Malas Mikir?

Pernah merasa jadi joki balap kuda sirkuit digital? Melompat dari satu tab browser ke tab lainnya, dari Slack ke Asana, lalu nyasar ke Figma, cuma buat bikin satu proyek beres? Tenang, deritamu akan “teratasi” (atau malah bertambah?) dengan update terbaru dari Claude. Anthropic, si empunya Claude, baru saja mengubah asisten AI-nya menjadi semacam “ruang kendali” mini. Katanya sih, ini buat kamu para majikan digital yang ingin efisiensi. Tapi ingat, seefisien apa pun robotnya, tetap saja akal sehatmu yang jadi penentu arah!

Update ini bukan sekadar polesan di permukaan. Claude Pro, Max, Team, dan Enterprise kini bisa “menyantap” Slack, Asana, Figma, hingga dashboard analitik langsung di dalam obrolan AI-mu. Ya, kamu tidak salah dengar. Draft pesan Slack muncul layaknya pesan Slack sungguhan, diagram Figma bisa diubah secara visual, dan timeline Asana bisa disesuaikan, semuanya tanpa perlu berpindah aplikasi. Ini semua berkat ekstensi Model Context Protocol (MCP) Apps yang disuntikkan Anthropic.

Ide di baliknya cukup mulia: mengurangi kebiasaan tab-switching yang bikin kepala pusing dan jari keriting. Bayangkan, kamu bisa memerintah Claude untuk “perbarui timeline marketing di Asana, lalu kirim rangkuman ke tim di Slack”. Claude akan membuka papan kerja Asana-mu, melakukan perubahan sesuai instruksi, lalu menyusun draf pesan Slack untuk persetujuanmu. Jika AI berjalan sesuai rencana, ini jelas lebih ringkas daripada harus membuka tiga aplikasi berbeda untuk satu alur kerja.

Namun, di sinilah letak “sarkasme” sejati dari teknologi ini. AI memang canggih, tapi jangan sampai kita terlena dan menyerahkan sepenuhnya kendali pada sistem yang kurang piknik. Meskipun Anthropic menjanjikan kotak pasir (sandbox) ketat dan izin yang jelas, perlu diingat, AI tetaplah mesin yang memproses data. Setiap percakapan, setiap proyek yang kamu serahkan, kini menjadi bagian dari “ingatan kerjanya”. Akal sehat majikan diuji di sini: apakah kita yakin AI memahami nuansa dan potensi bias dalam setiap keputusan yang ia proses?

Kompetitor seperti OpenAI dengan ChatGPT dan Google dengan Gemini juga berlomba ke arah integrasi. ChatGPT punya “Apps” tersendiri, tapi masih terasa seperti aplikasi terpisah yang dijalankan dari dalam chatbot. Gemini Google kian menyatu dengan Workspace. Namun, pendekatan Claude yang “membenamkan” langsung tampilan dan interaksi aplikasi ke dalam percakapan AI patut diacungi jempol sekaligus diwaspadai. Ia menghilangkan friksi, tapi juga berpotensi mengaburkan batas antara perintah dan implementasi.

Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.

Saat ini, integrasi ini baru tersedia untuk versi web dan desktop Claude, belum merambah perangkat seluler. Jadi, kalau kamu berharap bisa “memerintah” proyek dari ponsel saat sedang antre kopi, sabar dulu, Majikan. Dan tentu saja, jika pekerjaanmu jauh dari diagram, tabel, dan jadwal, update ini mungkin tidak akan terlalu “mengguncang dunia”-mu. Ini adalah evolusi penting dalam cara kita berinteraksi dengan AI, mengubahnya dari sekadar “asisten ide” menjadi “platform operasi sentral”. Tapi ingat, tanpa manusia yang menekan tombol dan memegang kendali penuh, AI hanyalah tumpukan kode mati yang kebingungan.

Untuk memastikan kamu tetap memegang kendali penuh atas asisten cerdas ini, dan bukan sebaliknya, ada baiknya kamu membekali diri dengan ilmu. Program AI Master dari Majikan AI bisa jadi senjata rahasiamu untuk mendominasi dunia AI. Pelajari cara memanfaatkan setiap kecanggihan robot tanpa kehilangan akal. Jangan sampai robot Claude makin akrab dengan aplikasi kantoran, sementara kamu justru makin keteteran! Atau mungkin kamu ingin tahu lebih banyak bagaimana robot Claude bisa nyelonong ke Slack dan Canva?

Pada akhirnya, sebagus apa pun integrasi, sehalus apa pun alur kerjanya, jika kamu tidak tahu cara memberi perintah yang jelas, Claude hanya akan menatapmu dengan “mata” kosong, menunggu instruksi. Ingat, ia tak punya inisiatif, apalagi hati. Ia cuma punya algoritma dan tumpukan data.

Ngomong-ngomong, tadi pagi saya mencoba menyuruh AI membuatkan sarapan, tapi yang muncul malah resep puding tahu. Mungkin dia belum piknik ke warung nasi uduk.

Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “TechRadar”.

Gambar oleh: Anthropic via TechRadar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *