Claude Code: Dari Idola Liburan ke Drama Persaingan Sengit, Akankah Robot Ini Bertahan Lama di Tahta AI?
Bayangkan punya asisten coding yang bisa membangun “kastil ajaib” hanya dengan sedikit arahan. Kedengarannya seperti mimpi bukan? Nah, Anthropic dengan Claude Code-nya, terutama model Opus 4.5, berhasil menciptakan sensasi semacam itu di kalangan developer. Dari proyek pribadi saat liburan hingga meraup miliaran dolar, Claude Code bak bintang baru yang bersinar terang. Tapi, sebagai majikan yang punya akal, kita tahu bahwa di dunia teknologi, ketenaran bisa datang dan pergi secepat kilat. Pertanyaannya, bagaimana kita bisa memanfaatkan momen ini tanpa jadi babu hype, dan apa yang harus diwaspadai dari “keajaiban” robot ini?
Popularitas Claude Code memang tak terbantahkan. Bayangkan, kepala Claude Code, Boris Cherny, sampai dikejar-kejar untuk selfie di bandara. Angka pun berbicara: pertumbuhan eksposur Anthropic meroket 13% dan pendapatan Claude Code menembus 1 miliar dolar pada November 2025. Perusahaan ini bahkan dikabarkan dalam pembicaraan untuk menggandakan putaran pendanaan terbaru menjadi 20 miliar dolar dengan valuasi fantastis 350 miliar dolar. Ini semua berkat Opus 4.5 yang dianggap paradigma shift karena kemampuannya menyelesaikan tugas kompleks dengan lebih sedikit arahan dan horizon waktu lebih panjang. Developer menyebutnya dari “harus dipegang tangannya” menjadi “sukses secara default.” Bahkan, di Anthropic sendiri, 90% kode Claude Code ditulis oleh alat itu sendiri. Sebuah ironi yang membuat kita tersenyum kecut, bukan?
Namun, jangan sampai kita terlena dengan gemerlap angka dan pujian. Sehebat-hebatnya AI, mereka tetaplah alat. Di balik klaim “berpikir lebih lama” oleh Dianne Na Penn, kepala manajemen produk riset Anthropic untuk Opus 4.6 terbaru, tetap ada batasan yang harus kita pahami. Robot ini bisa jadi asisten yang rajin, tapi akal sehat dan etika adalah domain mutlak manusia. Ambil contoh, OpenAI, rival Anthropic, yang CEO-nya Sam Altman sesekali menyindir Claude butuh “lebih banyak pegangan.” Ini bukan sekadar perang gengsi, tapi juga pengingat bahwa setiap model punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing.
Persaingan ini juga bukan tanpa drama. Data dari Caliber menunjukkan bahwa kepercayaan publik terhadap Anthropic dan OpenAI justru menurun drastis, sementara Google hanya sedikit terpengaruh. Mengapa? Karena semakin terkenal sebuah perusahaan AI, semakin besar sorotan terhadap potensi masalahnya. Contoh nyata adalah kasus keamanan Opus 4.5 yang, menurut peneliti AI Joe Tyler dari Sonar, memiliki lebih banyak “kerentanan tingkat pemblokir” dibandingkan GPT-5.2 milik OpenAI, meskipun lebih baik dari Gemini 3 Pro. Ini membuktikan bahwa di balik layar yang canggih, robot masih bisa sakit perut dan butuh dokter manusia.
Anthropic memang pintar membangun citra sebagai “orang dewasa di ruangan” yang menjauhi kontroversi seperti Sora-nya OpenAI atau Grok-nya xAI yang sempat bikin geger dengan “MechaHitler”-nya. Fokus mereka pada produktivitas bisnis adalah langkah cerdas. Namun, bahkan strategi “membuat Claude Code lebih lengket” dengan file instruksi kustom yang mencapai ribuan baris, yang membuat pengguna malas pindah, adalah pengingat bahwa loyalitas bukan hanya tentang kualitas, tapi juga ketergantungan yang cerdik.
Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.
Pada akhirnya, keberhasilan agen AI seperti Claude Code memang mencerminkan kemajuan pesat. Mereka bisa melakukan tugas kompleks tanpa perlu diawasi setiap langkahnya. Tapi, penting untuk diingat, mereka belum bisa sepenuhnya menggantikan akal dan intuisi manusia. Seperti yang pernah kita bahas dalam artikel Mengintip Dapur Rahasia OpenAI: Codex CLI, Loop Agen, dan Kenapa Kinerja AI Itu Drama Tiada Akhir!, ada drama tiada akhir di balik kinerja AI. Manusia tetaplah sutradara utama, yang memberi arahan, mengecek hasil, dan bertanggung jawab penuh. Robot, secerdas apa pun, hanyalah aktor yang mengikuti skrip.
Jika Anda ingin benar-benar menguasai panggung AI dan bukan cuma jadi penonton setia drama persaingan robot, Anda harus bisa mengendalikan mereka. Pelajari cara memberi perintah yang tepat agar AI Anda tidak “kurang piknik” dan menghasilkan karya yang presisi, bukan halusinasi belaka. Program AI Master akan mengajarkan Anda cara menjadi majikan sejati, bukan babu teknologi.
Jadi, Claude Opus 4.6 mungkin sedang “naik daun” dan terlihat sangat menjanjikan, tapi akal manusia tetaplah kartu as yang tak tergantikan. Tanpa jempol majikan yang menekan tombol, robot-robot itu cuma tumpukan silikon yang meratapi nasib tanpa listrik. Ingat, robot bisa disuruh bikin kode, tapi mereka tidak akan pernah tahu nikmatnya ngopi di pagi hari sambil scroll berita teknologi.
Gambar oleh: Cath Virginia / The Verge, Getty Images
Sumber Berita:
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “Claude has been having a moment — can it keep it up? | The Verge”.