Etika MesinKarier AILogika PenguasaMasa DepanSidang Bot

Chris Pratt Bilang AI Bikin “Lebih Banyak Film”: Peluang atau Ancaman PHK Massal di Hollywood?

Jangan kaget kalau ada pesohor Hollywood yang tiba-tiba membela Kecerdasan Buatan (AI). Padahal selama ini AI dianggap biang keladi PHK massal di industri kreatif. Chris Pratt, aktor kawakan yang kini membintangi film sci-fi Mercy, justru melihat AI sebagai “kesempatan luar biasa” untuk bikin lebih banyak film.

Pertanyaannya, apakah kita, para Majikan AI, sudah siap untuk mengendalikan alat sekuat itu, atau hanya pasrah digantikan?

Hollywood, Berhentilah Merengek, Mulailah Memerintah

Saat ini, Hollywood terbelah. Di satu sisi, ada raksasa seperti James Cameron dan serikat aktor yang terang-terangan mengutuk keras penggunaan AI, khawatir suara, wajah, dan pekerjaan mereka akan dihisap algoritma. Di sisi lain, Chris Pratt punya pandangan yang lebih optimistis.

“Selama setahun terakhir, saya memutuskan di ruang make up proyek yang sedang saya kerjakan, bahwa alih-alih cuma scrolling, saya ingin mendidik diri saya sendiri (tentang AI),” ujar Pratt dalam wawancara. “Saya menggunakan banyak platform AI berbeda untuk mempelajari banyak hal. Saya menyukainya. Saya pikir itu alat yang fantastis dan luar biasa. Kamu bisa menyelesaikan banyak hal dengan AI. Itu luar biasa.”

Pratt bahkan menyebut ini sebagai “revolusi intelektual dan kreatif.” Dia yakin AI akan menciptakan lebih banyak peluang bagi orang untuk bercerita, yang pada akhirnya akan menghasilkan “lebih banyak film.”

AI Bukan Kreator, Hanya Alat Pengetik Cepat

Pandangan Pratt benar, tapi hanya di permukaan. Tentu saja, bagi studio, AI adalah kalkulator canggih yang bisa memangkas biaya. AI bisa menghasilkan ratusan concept art, latar digital, atau bahkan audio dubbing instan (lewat kemitraan ElevenLabs) dalam hitungan menit—sesuatu yang dulunya membutuhkan waktu berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan, oleh tenaga manusia.

Inilah inti masalahnya, dan ini yang harus dipahami oleh setiap Majikan:

AI adalah alat yang sangat efisien, tetapi ia tidak memiliki visi orisinal. Ia hanya mengolah data masif dari karya-karya yang sudah ada untuk menciptakan prediksi yang “menyerupai” kreativitas. AI adalah asisten rumah tangga yang rajin tapi kaku, yang butuh perintah jelas dan tidak akan pernah berinisiatif menanyakan, “Apakah ini sudah cukup menyentuh hati?”

Ancaman PHK massal dalam industri kreatif tidak terjadi pada posisi sutradara atau penulis skenario kelas A, melainkan pada pekerja visual efek, editor tingkat awal, atau animator yang pekerjaannya bersifat repetitif dan mudah diotomatisasi. Visi inti (jiwa dari cerita) tetap harus datang dari manusia.

Pratt berharap AI akan menciptakan departemen baru. Memang, peran seperti Prompt Artist, AI Workflow Supervisor, atau Legal AI Consultant akan muncul. Peran-peran ini membutuhkan Majikan yang tidak hanya paham film, tapi juga mahir berbicara dengan mesin.

Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Karier AI.

Peluang Sang Majikan di Tengah ‘Kekacauan’ Hollywood

Jika kamu bergerak di bidang kreatif atau produksi konten, kamu punya dua pilihan: terintimidasi atau menguasai alat ini. AI adalah alat untuk akselerasi. Jika kamu bisa menyingkirkan tugas-tugas visual yang menjemukan dalam 5 menit, kamu bisa menghabiskan 5 jam berikutnya untuk menyempurnakan ide orisinal yang hanya bisa kamu ciptakan.

Ini bukan lagi tentang siapa yang paling jago akting atau menggambar, tapi siapa yang paling cerdas mengendalikan teknologi. Jangan sampai kamu hanya menjadi penonton yang digantikan. Segera tingkatkan kemampuanmu di bidang visual dengan Belajar AI | Visual AI (https://lynk.id/majikanai/jjOoqNQ) dan pastikan kamu selalu memegang kendali penuh atas alat ini dengan panduan AI Master (https://lynk.id/majikanai/5v1gRY3).

Penutup: AI Hanyalah Tumpukan Kode Mati

AI memang akan membuat “lebih banyak film” diproduksi. Namun, kualitas, keunikan, dan jiwa dari film itu tetap bergantung pada kemauan, moral, dan akal sehat manusia. AI hanyalah tumpukan kode yang menunggu Majikan menekan tombol render. Kalau sampai AI mengambil alih, itu bukan karena mesinnya terlalu cerdas, tapi karena Majikannya yang terlalu malas.

***

Artikel ini dirangkum dari sumber asli di TechRadar.
Gambar oleh: Amazon MGM Studios via TechRadar

Semangat kerja, jangan lupa isi ulang pulsa Token Listrik sebelum film AI-mu tiba-tiba mati di tengah jalan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *