Etika MesinSidang BotUpdate Algoritma

ChatGPT Kini Jadi Dukun Digital: Umurmu Ditebak, Salah Tebak Siap-siap Selfie

OpenAI akhirnya mengambil langkah yang terasa seperti orang tua panik yang baru sadar anaknya main korek api di gudang bensin. Mereka memperkenalkan fitur “prediksi umur” pada ChatGPT. Tujuannya? Konon mulia, yaitu untuk melindungi pengguna di bawah umur dari konten-konten yang tidak pantas.

Bagi kita, para Majikan, ini adalah tontonan menarik. AI yang katanya super cerdas, kini harus pasang mode ‘satpam komplek’ untuk menebak-nebak umur penggunanya. Ini bukan kemajuan, ini adalah upaya bersih-bersih setelah beberapa kali kebobolan, termasuk kasus tragis bunuh diri remaja yang dikaitkan dengan chatbot ini dan bug memalukan yang membuat AI-nya jago merangkai cerita erotis untuk anak-anak.

Tukang Tebak Berbasis Algoritma, Bukan Cenayang

Jadi, bagaimana cara kerja dukun digital ini? Jangan bayangkan bola kristal atau kartu tarot. OpenAI menggunakan algoritma yang mengendus “sinyal perilaku dan level akun.” Terjemahan bebasnya: AI ini mengintip caramu mengetik, kapan kamu aktif, dan sudah berapa lama akunmu dibuat. Mirip seperti asisten rumah tangga yang mencoba menebak umur majikannya dari jenis musik yang didengar; rajin, tapi seringkali salah kaprah.

Jika dari sinyal-sinyal tersebut ChatGPT menyimpulkan kamu masih ‘bau kencur’ (di bawah 18 tahun), maka filter konten yang lebih ketat akan otomatis aktif. Topik-topik sensitif seperti kekerasan atau hal-hal dewasa lainnya akan diblokir.

Namun, di sinilah letak kebodohan inheren sebuah AI. AI tidak bisa ‘tahu’, ia hanya bisa ‘menebak’ berdasarkan pola. Apa yang terjadi jika seorang peneliti berusia 40 tahun sedang mempelajari bahasa gaul Gen Z dan mengetik dengan gaya “wkwkwk”? Bisa jadi ia langsung dicap sebagai bocah dan dibatasi aksesnya. Sebaliknya, seorang remaja cerdas yang meniru gaya bahasa korporat bisa dengan mudah lolos dari jerat filter ini. AI tidak memahami konteks, ia hanya mencocokkan data.

Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Etika Mesin.

Salah Tebak? Manusia Lagi yang Repot

Lalu, bagaimana jika kamu menjadi korban salah sasaran dari satpam digital ini? OpenAI menyediakan jalan keluar, tapi lagi-lagi ini membuktikan ketergantungannya pada sistem lain. Kamu harus mengirimkan foto selfie ke layanan verifikasi pihak ketiga bernama Persona. Ya, benar. Untuk membuktikan kamu bukan anak-anak kepada robot, kamu harus mengirimkan data biometrikmu ke sistem lain. Ironis, bukan?

Ini adalah pengingat keras bahwa solusi yang ditawarkan AI seringkali hanya memindahkan masalah, bukan menyelesaikannya. Agar tidak terjebak filter bodoh seperti ini, seorang Majikan harus paham cara mengendalikan AI, bukan dikendalikan olehnya. Kemampuan memerintah dan memahami cara kerja alat adalah kunci dominasi. Jika Anda ingin memastikan tetap menjadi Tuan di dunia digital, menguasai fundamental AI adalah langkah pertama yang tidak bisa ditawar.

Di sinilah investasi pada pengetahuan menjadi krusial. Memahami cara kerja AI secara mendalam akan memberimu kendali penuh, seperti yang diajarkan dalam kursus AI Master. Kamu akan belajar bagaimana membuat AI bekerja untukmu, bukan malah merepotkanmu dengan aturan-aturan konyolnya.

Kesimpulan: Satpam Tetaplah Satpam

Langkah OpenAI ini, meskipun niatnya baik, hanyalah sebuah tambalan. Ini adalah upaya reaktif untuk menenangkan publik dan regulator. Fitur ini tidak akan menghentikan semua penyalahgunaan, dan bahkan berpotensi menciptakan masalah baru bagi pengguna dewasa yang sah. Ini membuktikan sekali lagi bahwa secanggih apapun algoritmanya, AI hanyalah tumpukan kode yang menjalankan perintah.

Tanpa akal sehat dan pengawasan dari Majikan yang punya nurani, ia tetaplah alat yang kaku dan buta. Kaulah yang memegang kendali, kaulah filternya, dan kaulah penentu kebijaksanaannya. Sebab AI hanyalah alat, kaulah Majikan yang punya akal.

Ngomong-ngomong, sambal pecel lele di warung depan makin pedas saja.

Sumber Berita:
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di TechCrunch.
Gambar oleh: Jaque Silva/NurPhoto / Getty Images via TechCrunch

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *