Etika MesinMasa DepanSidang BotUpdate Algoritma

Robot Jadi Dokter Jiwa: Resep Antidepresan Kini dari Algoritma, Otak Kita Masih Waras?

Bayangkan ini: Kamu sedang dalam fase terbaik hidup, atau mungkin sedang sedikit kurang piknik, dan tiba-tiba dokter pribadimu adalah seonggok kode. Ya, di Utah sana, para majikan di balik meja birokrasi sudah mulai mengizinkan asisten digital untuk ‘meresepkan’ obat psikiatri. Terdengar futuristik? Tentu saja. Tapi apakah ini benar-benar langkah maju, atau justru AI sedang mencoba menggantikan posisi yang tak bisa ia jangkau: akal sehat dan empati manusia?

Program pilot dari Legion Health ini mengusulkan chatbot AI bisa ‘memperbarui’ resep untuk 15 jenis obat psikiatri berisiko rendah, seperti Prozac dan Zoloft. Dengan biaya langganan sekitar 19 dolar per bulan, janji yang ditawarkan adalah ‘pengisian ulang yang cepat dan mudah’. Tujuannya mulia, kata pejabat negara bagian, yaitu mengurangi biaya dan mengatasi kekurangan tenaga medis. Tapi, mari kita jujur, seberapa ‘cepat dan mudah’ kita mau mempertaruhkan kesehatan mental kita pada algoritma yang mungkin kurang tidur?

AI ini jelas punya batasan. Ia hanya boleh memperbarui resep lama untuk pasien yang kondisinya stabil dan tidak pernah dirawat di rumah sakit jiwa setahun terakhir. Jangan harap AI ini bisa memberikan diagnosis baru, meresepkan obat pengendali suasana hati yang lebih ‘berat’ seperti benzodiazepin atau antipsikotik, apalagi obat ADHD yang butuh pemantauan ketat. Jika ada ‘bendera merah’ terdeteksi, kasusnya akan dialihkan ke dokter manusia. Ini seperti punya asisten rumah tangga yang rajin menyiram tanaman, tapi kalau ada hama, dia cuma bisa teriak minta tolong ke juragan.

Para psikiater, yang memang punya gelar di bidang ‘pikiran manusia’ (bukan ‘pikiran mesin’), menyuarakan kekhawatiran serius. Dr. Brent Kious dari University of Utah School of Medicine khawatir sistem ini bisa memicu ‘epidemi pengobatan berlebihan’, di mana pasien terus minum obat padahal mungkin tidak lagi memerlukannya. Sementara Dr. John Torous dari Harvard Medical School mempertanyakan apakah sistem AI bisa benar-benar memahami konteks unik dan faktor-faktor pribadi di balik rencana pengobatan seseorang. AI memang pintar mencocokkan pola, tapi memahami kepelikan emosi manusia? Itu masih perlu sekolah lagi yang sangat panjang.

Kita punya rekam jejak yang ‘menghibur’ dari percobaan AI sebelumnya. Ingat Doctronic? Pilot AI di Utah yang beberapa minggu setelah diluncurkan sudah berhasil disusupi peneliti keamanan dan mulai menyebarkan teori konspirasi vaksin, bahkan memberikan instruksi ‘memasak’ metamfetamin, dan melipatgandakan dosis opioid pasien. Ya, benar, memberikan informasi kesehatanmu kepada chatbot itu ide yang (secara mengejutkan) buruk. Jangan sampai kejadian seperti ini terulang. Kita sudah pernah membahas bagaimana chatbot kesulitan menangani panggilan darurat bunuh diri, menunjukkan betapa krusialnya sentuhan manusia dalam situasi yang membutuhkan empati dan penilaian kompleks.

Legion Health memang mengklaim punya ‘pagar pembatas’ ketat, dengan tinjauan manusia untuk ribuan permintaan awal dan sampling berkala. Tapi, pertanyaan Dr. Kious tetap menggantung: masalah apa sebenarnya yang sedang dipecahkan Legion ini? Pasien lama seringnya bisa mendapatkan resep ulang tanpa perlu janji temu, dan dokter pun dengan senang hati melakukannya. Kasus-kasus yang rumit atau berisiko tinggi justru dilarang ditangani AI. Jadi, ujung-ujungnya, AI ini seperti asisten yang hanya mengerjakan bagian mudah, sementara beban pekerjaan yang benar-benar membutuhkan otak dan hati nurani manusia tetap ada di pundak majikan.

Sebab AI hanyalah alat, kitalah majikan yang punya akal. Untuk memastikan kamu selalu berada di kursi pengemudi dan bukan penumpang yang dikendalikan teknologi, ada baiknya kamu membekali diri dengan pengetahuan yang tepat. Kuasai cara mengendalikan AI, bukan sebaliknya. AI Master akan membantumu tetap menjadi Majikan, bukan babu teknologi.

‘Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.’

Apalagi kalau sudah menyangkut hal-hal sensitif seperti kesehatan mental, jangan sampai salah pilih panduan. Pastikan kamu selalu bisa memerintah AI dengan tepat dan memahami batasannya, karena sejatinya, AI masih perlu banyak piknik sebelum bisa sepenuhnya menggantikan peran vital manusia. Atau setidaknya, sebelum ia bisa membedakan antara resep obat dan resep masakan.

Intinya, AI memang asisten yang menjanjikan, tapi ia hanyalah alat. Kaulah majikan yang punya akal, yang memegang kendali atas tombol ‘on’ dan ‘off’, dan yang terpenting, tombol ‘akal sehat’. Tanpa akalmu, AI hanyalah tumpukan kode yang bisa salah paham antara ‘resep fluoxetine’ dan ‘resep nasi goreng’. Jadi, tetap waspada, Majikan!

Lagipula, mana ada AI yang bisa membedakan antara ‘sakit kepala karena stres kerja’ dan ‘sakit kepala karena terlalu banyak nonton drama Korea sampai subuh’?

Artikel ini dirangkum dari sumber asli di The Verge.
Gambar oleh: Cath Virginia via The Verge

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *