Bos AI Mengutuk Kekerasan, Tapi Malah Sanjung Trump: Robot Pintar, CEO Lupa Ingatan?
Dunia kecerdasan buatan memang penuh kejutan, tapi drama politik para bosnya kadang lebih bikin geleng-geleng kepala. Bayangkan, CEO dari raksasa AI seperti Anthropic dan OpenAI, yang seharusnya fokus pada algoritma canggih, kini ikut sibuk mengomentari kekerasan aparat Border Patrol di Minneapolis. Mereka mengecam tindakan brutal, bahkan salah satunya sampai menyinggung soal “cinta tanah air” dan “melawan penjangkauan berlebihan.” Namun, anehnya, di sela-sela kritik tersebut, mereka masih sempat melontarkan pujian untuk Presiden Trump. Ini bukan skenario film fiksi ilmiah, Majikan, ini realita. Bagaimana bisa otak paling cemerlang di balik AI modern bisa lupa ingatan secepat robot yang baru di-reset?
Dario Amodei, nahkoda kapal Anthropic, secara terbuka di NBC News dan platform X, menyuarakan kekhawatirannya akan “beberapa hal yang kita lihat dalam beberapa hari terakhir,” merujuk pada kekerasan yang dilakukan oleh agen Border Patrol. Amodei menegaskan pentingnya menjaga demokrasi di negara sendiri dan dengan tegas menyatakan perusahaannya tidak memiliki kontrak dengan Immigration and Customs Enforcement (ICE). Ini adalah langkah yang patut diacungi jempol, sebuah sikap yang menunjukkan bahwa sektor teknologi tidak bisa lagi abai terhadap isu sosial dan politik yang mendera masyarakat.
Tak mau kalah, Sam Altman, bos besar OpenAI, melalui pesan internal Slack (yang bocor ke New York Times, tentu saja), juga berujar, “Apa yang terjadi dengan ICE sudah keterlaluan.” Ia menambahkan, “Bagian dari mencintai negara adalah kewajiban Amerika untuk menolak penjangkauan berlebihan.” Altman bahkan membedakan antara mendeportasi penjahat kekerasan dengan insiden yang terjadi di Minneapolis, menunjukkan adanya pemikiran kritis di balik jubah teknokratnya. Karyawan-karyawan teknologi, termasuk dari kedua perusahaan ini, memang sudah lama mendesak para CEO untuk bersuara dan bahkan membatalkan semua kontrak dengan ICE setelah insiden penembakan dua warga AS oleh agen Border Patrol.
Namun, di sinilah drama sesungguhnya dimulai. Di tengah desakan moral dan etika, kedua CEO ini seolah punya tombol “reset” politik. Amodei justru sempat memuji Trump karena mempertimbangkan penyelidikan independen atas insiden penembakan. Sementara Altman, yang pada tahun 2016 pernah menjuluki Trump sebagai “penghasut kebencian demagogis” yang “mengerikan”, kini berharap Trump akan “bangkit menghadapi momen ini dan menyatukan negara,” menyebutnya sebagai “pemimpin yang sangat kuat.” Ironis, bukan? Apakah ini murni perubahan hati, atau ada kalkulasi pragmatis di balik layar?
Realitasnya, kebijakan-kebijakan Trump yang pro-AI telah menjadi mesin pendorong pertumbuhan eksplosif bagi perusahaan seperti OpenAI dan Anthropic. OpenAI mengantongi dana fantastis, lebih dari $40 miliar, dan tengah dalam pembicaraan untuk meraup $100 miliar lagi dengan valuasi $830 miliar. Anthropic juga tidak kalah, dengan $19 miliar di kantong dan negosiasi untuk $25 miliar tambahan dengan valuasi $350 miliar. Angka-angka ini bukan main-main, Majikan. Ini adalah bukti bahwa di balik retorika etika dan demokrasi, ada pundi-pundi cuan yang menggiurkan. Apakah ini artinya etika mesin bisa dibeli, atau setidaknya, bisa ditawar?
‘Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.’
Fenomena ini mengingatkan kita bahwa meskipun AI semakin cerdas, akal manusia di balik kendalinya tetaplah yang paling krusial. Seorang AI Master sejati tidak hanya tahu cara mengoptimalkan algoritma, tetapi juga memahami kompleksitas politik dan etika yang melingkupinya. Ketika bos-bos AI bermain mata dengan politik, kita sebagai majikan sejati harus semakin waspada terhadap intervensi politik yang mungkin terjadi. Sebelumnya, Dario Amodei bahkan sempat mengkritik keras keputusan Trump terkait penjualan chip AI Nvidia ke China, menyebutnya “gila” di World Economic Forum. Ini menunjukkan bagaimana posisi dan kepentingan bisa bergeser secepat algoritma di-update. Untuk memahami lebih jauh bagaimana para pemimpin AI ini saling bersaing dan berpendapat, Anda bisa membaca tentang perang mulut raja AI di Davos.
Pada akhirnya, terlepas dari gembar-gembor kekecaman atau pujian, setiap tindakan para pemimpin AI ini adalah kalkulasi cermat. Mereka tahu betul, di dunia yang semakin didominasi algoritma, bahkan sebuah kritik pun harus disampaikan dengan perhitungan matang. Robot memang bisa belajar, tapi kesetiaan mereka pada data (dan uang) jauh lebih stabil daripada kesetiaan pada prinsip yang sering berubah-ubah.
Jangan sampai kita, sebagai majikan AI, ikut-ikutan jadi robot yang gampang diombang-ambingkan oleh sentimen. Kendalikan AI agar kamu tetap menjadi Majikan, bukan babu teknologi. Pelajari seluk-beluknya, kuasai strategi, dan jadilah penguasa sejati di era digital ini. Dengan menjadi AI Master, kamu bisa memastikan AI bekerja untukmu, bukan sebaliknya. Karena di dunia ini, yang punya akal, dialah yang berkuasa.
Jadi, meskipun para CEO AI ini bisa merangkai kata-kata indah tentang demokrasi dan etika, ingatlah satu hal: tanpa manusia menekan tombol “on” atau “off”, AI hanyalah tumpukan kode mati yang tak punya suara, apalagi hati nurani. Mereka mungkin pintar memprediksi tren pasar atau bahkan cuaca, tapi urusan memilih presiden, mereka masih butuh arahan dari kita, para Majikan yang punya akal.
Kadang saya berpikir, kalau robot bisa secepat itu ganti haluan politik, bagaimana dengan keputusan untuk memilih rasa es krim favorit? Mungkin mereka butuh algoritma khusus untuk itu juga.
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “Anthropic and OpenAI CEOs condemn ICE violence, praise Trump | TechCrunch”
Gambar oleh: Getty Images via TechCrunch