Canva “Borong” Robot Animasi dan Marketing: Akal Majikan Makin Canggih, Atau Cuma Kena FOMO?
Canva, raksasa kreatif yang janjinya selalu manis, baru saja membuat gebrakan ganda. Mereka mengakuisisi dua startup, Cavalry dan Mango AI. Cavalry berfokus pada animasi 2D, sedangkan Mango AI jagoan dalam mengoptimalkan performa iklan video. Pertanyaannya, apakah ini pertanda bahwa para majikan (baca: Anda dan saya) akan semakin dimanjakan dengan alat-alat canggih yang bikin kerjaan auto-beres, atau justru kita hanya akan jadi penonton setia robot-robot yang makin menggila?
Akuisisi ini bukan sekadar belanja akhir tahun. Canva jelas ingin memperkuat ekosistemnya, terutama setelah sukses besar dengan Affinity, suite editing profesional yang mereka akuisisi pada tahun 2024. Cavalry, startup asal Inggris, akan menyuntikkan kemampuan animasi 2D ke Affinity. Bayangkan, dari iklan, marketing, gaming, hingga seni generatif, semua bisa digarap dengan sentuhan motion yang lebih canggih. Canva mengklaim ini akan “menutup celah” dalam suite profesional mereka, menciptakan “Creative OS full-stack” yang mencakup foto, vektor, layout, dan kini motion editing.
Tentu saja, di balik janji manis ini, ada kenyataan bahwa AI, secanggih apa pun, masih perlu “sekolah” dari majikan manusia. AI mungkin rajin dan cepat dalam mengeksekusi perintah animasi, tetapi akal sehat, cita rasa seni, dan visi kreatif tetap menjadi domain eksklusif manusia. Robot bisa meniru gaya, tapi mereka belum bisa merasakan esensi di balik sebuah gerakan atau emosi dalam sebuah iklan. Jika Anda ingin menguasai visual AI agar tidak kalah canggih dari robot, ada baiknya Anda mulai melirik Belajar AI | Visual AI.
Di sisi lain, Mango AI, startup besutan mantan petinggi Netflix, Nirmal Govind dan Vinith Misra, akan fokus pada peningkatan performa iklan video. Govind bahkan akan menjabat sebagai Chief Algorithms Officer pertama di Canva. Ini adalah langkah ambisius Canva untuk masuk lebih dalam ke ranah analitik dan optimasi iklan, terutama setelah akuisisi Magicbrief pada awal 2025. Canva Grow, alat pertumbuhan mereka, sudah menunjukkan hasil positif dalam pembuatan konten statis untuk platform Meta. Dengan Mango AI, mereka berambisi besar untuk video creation dan deployment multi-platform, lengkap dengan pengukuran performa yang lebih “menggigit”.
Namun, pengalaman menunjukkan, urusan marketing itu jauh lebih kompleks daripada sekadar algoritma. Robot bisa menganalisis data, memprediksi tren, bahkan membuat rekomendasi, tapi mereka sering kali gagal total dalam memahami nuansa emosi, budaya, atau bahkan humor sarkas yang menjadi bumbu utama sebuah kampanye iklan yang sukses. Akal majikan manusia-lah yang bisa menyaring “halusinasi” data dari AI dan mengubahnya menjadi strategi yang benar-benar efektif. Untuk strategi marketing yang ‘nggak robot banget’ dan bikin konten pro mandiri, Anda bisa coba intip Creative AI Pro atau Creative AI Marketing.
Canva menutup 2025 dengan pendapatan tahunan $4 miliar dan lebih dari 265 juta pengguna, di mana 31 juta di antaranya adalah pengguna berbayar. Angka fantastis ini menunjukkan bahwa pasar “Creative OS” sangat menjanjikan. Namun, di tengah euforia akuisisi dan pertumbuhan, penting untuk diingat bahwa industri startup AI punya tantangan sendiri. Seperti yang pernah diutarakan seorang eksekutif Google, ada dua jenis startup AI yang mungkin tidak akan bertahan lama. Canva dengan akuisisi strategis ini seolah ingin membuktikan diri bukan termasuk dalam kategori yang “kurang piknik” tersebut.
‘Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.’
Pada akhirnya, seberapa pun canggihnya Cavalry yang bisa bikin animasi bergerak-gerak atau Mango AI yang bisa bikin iklan auto-cuan, mereka tetaplah alat. Mereka butuh sentuhan akal majikan manusia untuk memberi arah, menyaring kebodohan, dan menyuntikkan jiwa. Tanpa kita, AI hanyalah tumpukan algoritma yang sibuk sendiri, mungkin sedang mencoba membuat iklan sampo untuk kucing.
Dan ingat, kalau robot tetangga mulai bisa main catur, belum tentu mereka bisa bikin kopi seenak buatan tanganmu.
Sumber Berita: Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “TechCrunch”.
Gambar oleh: Brent Lewin/Bloomberg / Getty Images via TechCrunch