Konflik RaksasaSidang BotUpdate Algoritma

ByteDance Bikin Video AI Makin Ngawur: Robot Kini Bisa Buat Brad Pitt Joget, Akal Majikan Wajib Waspada!

ByteDance, perusahaan di balik TikTok yang kita kenal doyan bikin tren viral, kini kembali pamer otot dengan meluncurkan Seedance 2.0. Konon, generator video AI terbaru ini bisa menyulap teks, gambar, audio, dan bahkan video Anda menjadi klip 15 detik yang “hiperrealistis”. Kedengarannya seperti mimpi para konten kreator yang ingin hemat budget talent, bukan?

Klaimnya, Seedance 2.0 menawarkan “lompatan substansial dalam kualitas”. Katanya, ia lebih piawai dalam menciptakan adegan kompleks dengan banyak subjek dan lebih patuh pada instruksi. Anda bahkan bisa “menyekolahkan” robot ini dengan memberinya hingga sembilan gambar, tiga klip video, dan tiga klip audio sebagai referensi. Ia juga bisa mempertimbangkan gerakan kamera, efek visual, dan motion, bahkan merujuk pada storyboard berbasis teks. Canggih, tapi ingat, ini cuma robot yang rajin mencatat. Akal sejati tetap ada di tangan sang majikan yang memberikan instruksi.

Tentu saja, perlombaan AI ini bukan hanya milik ByteDance. Di arena yang sama, Google Veo 3 sudah lebih dulu pamer kemampuan menghasilkan klip dengan dukungan audio, sementara OpenAI dengan Sora 2-nya menawarkan video “hiperreal” dengan gerakan dan suara yang memukau. Startup AI lain seperti Runway juga tak mau kalah, dengan model AI yang diklaim punya akurasi “belum pernah terjadi sebelumnya”. Mereka semua ngebut, saling sikut. Tapi pada akhirnya, siapa yang menekan tombol “Start” dan “Stop”? Tetaplah Anda, sang majikan.

Namun, di balik gemerlap klaim dan demonstrasi video yang mengagumkan (seperti dua skater indah yang melakukan gerakan sulit dengan presisi fisika yang sempurna), ada sisi “gelap” yang mulai terkuak. Contoh video AI yang beredar di media sosial menunjukkan Brad Pitt dan Tom Cruise terlibat dalam adegan laga sinematik. Bahkan Rhett Reese, penulis Deadpool, sampai berkomentar, “Saya benci mengatakannya. Ini mungkin sudah berakhir bagi kita.” Lebih konyolnya lagi, bertebaran klip gaya anime, kartun, dan fiksi ilmiah yang jelas-jelas menggunakan karakter dari Dragon Ball Z, Family Guy, dan Pokémon tanpa kejelasan perlindungan hak cipta. Ini membuktikan bahwa AI masih “kurang piknik” soal etika dan legalitas. Robot cerdas, tapi belum punya akal sehat. Kasus deepfake oleh AI, bukan barang baru, dan selalu butuh pengawasan ketat dari manusia.

Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.

Untuk saat ini, Seedance 2.0 hanya bisa diakses melalui platform Dreamina AI dan asisten AI Doubao milik ByteDance. Apakah akan mampir ke TikTok? Masih jadi misteri, apalagi setelah aplikasi itu kini di bawah kepemilikan baru di AS. Jadi, jangan harap bisa langsung jadi sutradara dadakan Hollywood pakai AI ini di ponsel Anda.

Di era di mana robot makin pintar menciptakan visual yang menipu mata, kemampuan manusia untuk membedakan yang asli dan palsu menjadi aset tak ternilai. Daripada pasrah jadi babu teknologi, lebih baik Anda menguasai cara memerintah AI dengan benar. Kalau mau serius mendominasi dunia digital dengan visual memukau tanpa harus merekrut tim pro, saatnya Anda belajar AI visual agar tidak kalah canggih dari robot. Atau, jika Anda ingin menciptakan konten profesional mandiri dan hemat budget talent, kendali penuh ada di tangan Anda, sang majikan.

Ingat, kecanggihan AI adalah hasil dari miliaran baris kode yang ditulis dan diajarkan oleh manusia. Tanpa manusia menekan tombol, robot-robot itu hanyalah tumpukan sirkuit mati yang butuh dimatikan kalau lagi iseng bikin Brad Pitt joget dangdut. Dan ngomong-ngomong soal joget, siapa yang sebenarnya membersihkan lantai setelah pesta deepfake itu?

Sumber Berita: “Artikel ini dirangkum dari sumber asli di The Verge.”

Gambar oleh: ByteDance via The Verge

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *