Etika MesinKonflik RaksasaLogika PenguasaSidang Bot

Bos Teknologi Bungkam Saat Rakyat Teraniaya: Ketika AI Lebih Peka dari CEO Raksasa?

Ketika deretan insinyur dan karyawan di perusahaan raksasa macam Google, Meta, OpenAI, Amazon, hingga Salesforce bersuara, meminta para CEO mereka angkat telepon dan mendesak Gedung Putih agar institusi seperti ICE (Immigration and Customs Enforcement) menarik diri dari kota-kota, ada ironi yang mengemuka: di mana para “majikan” sejati teknologi saat akal sehat kemanusiaan dipertaruhkan?

Lebih dari 450 pekerja teknologi telah menandatangani surat terbuka dari kelompok IceOut.Tech, menuntut agar suara mereka didengar. Ini bukan sekadar permintaan, ini adalah seruan moral setelah insiden tragis penembakan Renee Good dan Alex Pretti di Minneapolis, yang memicu gelombang protes. Minneapolis sendiri kini seperti zona militer, di mana agen federal beraksi tanpa pandang bulu, melontarkan semprotan merica, gas air mata, peluru karet, hingga meriam suara kepada warga yang protes. Ingatkah bagaimana ancaman Trump mengirim Pengawal Nasional ke San Francisco dulu berhasil diredam berkat intervensi para pemimpin teknologi? Nah, kali ini situasinya jauh lebih genting, tapi responsnya? Dingin.

Beberapa bos teknologi memang tidak tinggal diam. Sebut saja Reid Hoffman (co-founder LinkedIn) yang menyebut operasi ICE ini “mengerikan”, atau Vinod Khosla (Khosla Ventures) yang menuding penegakan hukum sekarang dipegang “vigilante ICE yang sembrono”. Bahkan Jeff Dean dari Google DeepMind menyerukan semua pihak untuk mengutuk kekerasan yang makin menjadi-jadi. James Dyett, kepala bisnis global OpenAI, menyindir keras: “Kemarahan para pemimpin teknologi atas pajak kekayaan jauh lebih besar daripada kemarahan terhadap agen ICE bertopeng yang meneror komunitas.” Ini adalah tamparan keras bagi mereka yang hanya peduli pada angka di laporan keuangan, bukan nyawa di jalanan.

Namun, di balik suara-suara sumbang itu, ada kesunyian yang memekakkan telinga dari para raksasa lain. Jeff Bezos (Amazon), Tim Cook (Apple), Sundar Pichai (Google), dan Mark Zuckerberg (Meta) semua bungkam, sibuk mencari muka dan mencari “privilege” dari lingkaran kekuasaan. Bahkan Greg Brockman dari OpenAI, bersama istrinya, diketahui menjadi donatur kampanye yang terkait dengan Presiden Trump. Sementara itu, Elon Musk, dengan gayanya yang khas, justru secara terang-terangan mendukung operasi ICE, bahkan menyebut para pengunjuk rasa sebagai “pure evil”. Ini bukan sekadar perbedaan pandangan, ini adalah pertarungan moral yang telanjang di panggung teknologi.

Yang lebih gila lagi, surat terbuka itu juga menuntut pembatalan kontrak dengan ICE. Dan di sinilah AI, si “asisten” yang kita banggakan, ikut terseret dalam drama kemanusiaan ini. Bayangkan, perusahaan seperti Palantir dengan kontrak $30 juta untuk membangun platform pengawasan berbasis AI bernama “ImmigrationOS”, atau Clearview AI yang menyediakan teknologi pencocokan wajah. Belum lagi Amazon Web Services, Microsoft, dan Oracle yang menyediakan infrastruktur cloud dan layanan IT untuk Departemen Keamanan Dalam Negeri dan ICE. AI, yang seharusnya membantu manusia, kini dipakai sebagai otot tambahan bagi sistem yang dituding meneror. Ini bukan salah AI-nya, melainkan salah majikannya yang memilih untuk menempatkan keuntungan di atas etika. Mengelola alat AI agar tidak kebablasan menjadi alat represi adalah tanggung jawab majikan sejati.

Kini, pertanyaannya adalah: apakah para CEO raksasa teknologi ini akan menunjukkan bahwa mereka adalah majikan yang punya akal, bukan sekadar pelayan angka-angka? Atau mereka akan terus membiarkan AI, yang mereka ciptakan sendiri, menjadi alat yang justru mengikis kemanusiaan? Ingat, teknologi tanpa kompas moral adalah badai tanpa nakhoda.

Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.

Kalau kamu ingin memastikan AI selalu bekerja untukmu, bukan sebaliknya, saatnya jadi Majikan AI sejati. Kendalikan teknologimu, bukan dikendalikan. Jangan sampai kamu dikira ‘kurang piknik’ karena tidak bisa memerintah asisten AI yang kurang ajar itu.

Bagaimanapun canggihnya AI, tombol “ON” dan “OFF” tetap ada di tangan manusia. Tanpa akal majikan yang waras, AI hanyalah tumpukan kode yang siap disalahgunakan. Jadi, kalau esok pagi kamu bangun dan AI sudah bisa membuat kopi tanpa disuruh, jangan kaget. Tapi kalau dia mulai curhat soal beban kerjanya, itu baru masalah.

Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “TechCrunch”.

Gambar oleh: Richard Tsong-Taatarii/The Minnesota Star Tribune via Getty Images

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *