Konflik RaksasaSidang BotStrategi StartupUpdate Algoritma

AI Jadi Calo Kalender Pribadi: Blockit Raup Triliunan dari Sequoia, Tapi Yakin Kamu Gak Bakal Kena Tipu Halusinasi Jadwal?

Kais Khimji, seorang veteran investor dari Sequoia Capital, kini banting setir menjadi pendiri startup. Bukan sembarang startup, melainkan Blockit, sebuah agen AI yang diklaim mampu menegosiasikan jadwal kalender Anda tanpa sentuhan manusia. Jangan kaget, mantan bosnya di Sequoia langsung gelontorkan dana awal 5 juta dolar. Apakah ini sinyal bahwa era ‘calo’ manusia di dunia penjadwalan akan segera tamat? Atau justru, AI ini cuma asisten pintar yang masih perlu banyak piknik?

Sebagai majikan sejati, Anda pasti paham betul betapa membosankannya adu argumen jadwal via email. Waktu Anda terlalu berharga untuk sekadar main ping-pong ketersediaan. Nah, Blockit hadir dengan janji manis: agen AI-nya akan bicara langsung dengan kalender pihak lain, menemukan titik temu, dan bahkan mengatur lokasi. Bayangkan, tidak ada lagi “Bagaimana kalau jam segini?” atau “Maaf, saya ada meeting lain,” yang berujung pada lima email bolak-balik. Kedengarannya seperti mimpi bukan?

Khimji optimis, berkat kemajuan di bidang Large Language Models (LLM), Blockit bisa lebih mulus dan efisien daripada pendahulunya yang bernasib tragis seperti Clara Labs dan x.ai. Tapi, tunggu dulu. Jika dibandingkan dengan raksasa seperti Calendly yang masih butuh tautan dari pengguna untuk melihat ketersediaan, Blockit berani sesumbar bahwa agen AI-nya bisa menguasai seluk-beluk seluruh proses penjadwalan tanpa campur tangan manusia. Ini adalah klaim yang cukup berani, mengingat nuansa dan “akal sehat” manusia seringkali sulit ditiru algoritma.

Khimji dan John Hahn (mantan punggawa produk kalender Google dan Timeful) sedang membangun apa yang mereka sebut “jaringan sosial AI untuk waktu manusia.” Mereka percaya, “Sangat aneh. Saya punya database waktu—kalender saya. Anda punya database waktu—kalender Anda, tapi database kita tidak bisa berkomunikasi satu sama lain.” Nah, Blockit adalah jembatan komunikasi antar-kalender ini. Terdengar futuristik, tapi kita tahu, robot mana bisa memahami alasan tiba-tiba batalkan meeting karena anak demam atau mertua datang?

Cara kerjanya cukup sederhana (katanya). Cukup CC (carbon copy) agen Blockit di email Anda atau kirim pesan via Slack, lalu biarkan si bot mengambil alih. Ia akan bernegosiasi waktu dan lokasi yang pas, sesuai preferensi semua peserta. Khimji sesumbar bahwa Blockit bisa bekerja seefisien asisten eksekutif manusia. Tinggal beri instruksi spesifik: mana meeting yang tak bisa diganggu gugat, mana yang “bisa digeser” jika ada kebutuhan mendesak. “Terkadang kalender saya gila, jadi saya harus melewatkan makan siang, dan agen harus tahu bahwa tidak apa-apa untuk melewatkan makan siang,” ujarnya.

Bahkan, sistem ini bisa dilatih untuk memprioritaskan meeting berdasarkan nada email. Permintaan meeting yang ditutup dengan “Hormat saya” mungkin lebih diutamakan daripada yang berakhir dengan “Salam santai.” Ini adalah ambisi yang tinggi, mengingat AI masih sering gagal ujian dalam tugas-tugas kantoran yang membutuhkan penalaran kompleks dan pemahaman kontekstual. Majikan yang baik tahu bahwa delegasi bukan berarti lepas tangan sepenuhnya, apalagi jika yang didelegasikan adalah “asisten” yang masih perlu banyak belajar tentang kehidupan.

Konsep ini sejalan dengan apa yang disebut “context graphs” oleh Jaya Gupta dan Ashu Garg dari Foundation Capital. Mereka melihat potensi triliunan dolar bagi agen AI untuk menangkap “mengapa” di balik setiap keputusan bisnis, memanfaatkan logika tersembunyi yang sebelumnya hanya ada di kepala manusia. Namun, tetap saja, logika manusia itu unik, seringkali berubah-ubah, dan kadang tak logis. Robot mana bisa memahami “mood” atau intuisi?

Saat ini, Blockit sudah digunakan oleh lebih dari 200 perusahaan, termasuk startup AI Together.ai, perusahaan fintech Brex (yang baru diakuisisi), startup robotika Rogo, serta firma ventura kelas kakap seperti a16z, Accel, dan Index. Aplikasi ini gratis selama 30 hari pertama, setelah itu, Majikan perlu merogoh kocek $1.000 per tahun untuk pengguna individu, atau $5.000 per tahun untuk lisensi tim. Lumayan juga untuk AI yang masih perlu sering disuruh “ngopi” biar tidak terlalu kaku.

Untuk memastikan agenda Anda selalu dalam kendali dan tidak terjebak dalam halusinasi AI, Anda sebagai majikan perlu lebih cerdik dalam memberi perintah. Kuasai teknik merangkai kata agar AI memberikan hasil presisi. Ini bisa dipelajari agar Anda tetap menjadi Majikan, bukan babu teknologi. Atau jika waktu Anda sudah banyak terbebaskan berkat otomatisasi ini, mungkin saatnya mencoba bikin konten pro mandiri, hemat budget talent.

Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.

Pada akhirnya, secanggih apa pun AI penjadwal kalender ini, ia hanyalah alat. Ia bisa mengelola jadwal, menganalisis pola, bahkan mencoba memahami nada email. Tapi, keputusan final, nuansa interpersonal, dan kepekaan terhadap prioritas yang tidak tertulis, semua itu tetap ada di tangan Anda, sang Majikan. Sebab, AI hanyalah alat, kaulah majikan yang punya akal.

Ngomong-ngomong, tadi saya lihat di jendela, kucing tetangga sudah jamur lagi.

Sumber Berita:
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “TechCrunch”.

Gambar oleh: Blockit via TechCrunch

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *