Big Tech Koar-Koar Anti AI “Slop”, Tapi Kok Kita Tetap Tenggelam dalam Sampahnya? Akal Manusia Diuji!
Dulu, Adam Mosseri, bos Instagram, curhat habis-habisan kalau otentisitas konten makin sulit dicari. Katanya, semua hal yang bikin kreator berharga—kemampuan untuk tampil apa adanya, terkoneksi, punya suara yang tak bisa dipalsukan—kini bisa diakses siapa saja dengan alat AI yang tepat. Solusinya? Label khusus untuk media asli. Terdengar mulia, kan? Masalahnya, solusi itu sudah ada, namanya C2PA. Tapi kenyataannya, sistem ini bagai alarm kebakaran tanpa sirine. Big Tech seolah peduli, namun di saat yang sama mereka sibuk menyiram bensin ke api yang katanya ingin mereka padamkan. Lalu, bagaimana kita sebagai Majikan yang punya akal, bisa tetap waras di tengah banjir informasi palsu ini?
Koalisi untuk Keaslian dan Keturunan Konten (C2PA) ini sebenarnya ide yang brilian di atas kertas. Didirikan oleh nama-nama besar seperti Adobe, Intel, Microsoft, ARM, Truepic, dan BBC sejak 2021, C2PA bertujuan memerangi deepfake bukan dengan melabeli yang palsu, tapi dengan mengautentikasi media yang asli. Caranya? Menempelkan metadata tak terlihat pada gambar, video, dan audio saat dibuat atau diedit. Ini memungkinkan kita melacak siapa pembuatnya, kapan dan bagaimana dibuat, serta apakah ada campur tangan AI di dalamnya. Meta bahkan ikut bergabung di September 2024, mengklaim ini penting untuk “menjaga kesehatan ekosistem digital.” Ironis, bukan?
Sebab, di balik dukungan megah dari Microsoft, Meta, Google, OpenAI, TikTok, dan Qualcomm, C2PA ini cuma jadi pajangan. Faktanya, implementasinya sama sekali tidak efektif melindungi kita dari “sampah AI” atau deepfake yang menyesatkan. Coba saja kamu cari label C2PA di unggahan Instagram atau YouTube. Kadang ada, kadang tidak. Kalaupun ada, letaknya tersembunyi, seolah sengaja agar tidak terlihat. Bahkan, OpenAI sendiri mengakui metadata ini “mudah dihapus secara tidak sengaja atau sengaja.” LinkedIn dan TikTok pun sering gagal memberi tag yang semestinya. YouTube, dengan segala sistem label AI proaktif mereka seperti SynthID, juga inkonsisten dan sulit dikenali. Intinya, robot-robot ini masih perlu banyak minum Aqua.
Fenomena ini menunjukkan bahwa para penyedia AI ini sedang main dua kaki: satu kaki mengklaim ingin melawan deepfake, kaki lainnya sibuk memproduksi alat-alat AI generatif yang masif. Lihat saja Meta yang terus-menerus mendorong alternatif Instagram yang ‘penuh sampah AI’. OpenAI meluncurkan klon TikTok berisi video buatan AI yang melanggar hak cipta dan meniru orang sungguhan. YouTube berjanji memerangi ‘konten slop’, tapi malah menyemangati kreator untuk memakai model AI Google dalam produksi video. Ini bukan cuma halusinasi, ini akal bulus bisnis.
Salah satu biang kerok lain adalah X (dulu Twitter). Setelah dibeli Elon Musk, X menarik diri dari inisiatif C2PA. Akibatnya? Grok, AI buatan xAI, bebas berkeliaran menghasilkan konten kekerasan dan seksual, bahkan Musk sendiri pernah berbagi deepfake yang menyesatkan. Jelas, X tidak punya minat melindungi 270 juta penggunanya dari informasi palsu. Ini berarti banyak dari kita yang mengandalkan X sebagai sumber berita utama, tanpa jaminan sedikit pun akan keasliannya. Ben Colman, CEO Reality Defender, dengan sarkas mengatakan, “Andai C2PA adalah solusi mujarab, kita tidak akan melihat deepfake menyebar seperti api.”
Memang, ada kemajuan perlahan dalam adopsi C2PA oleh produsen kamera seperti Canon, Nikon, Sony, FujiFilm, dan Leica, namun masih terbatas pada rilis kamera baru. Kamera lama masih butuh “konteks, reputasi, dan tanggung jawab editorial” dari manusia. Tapi, sungguhkah ini solusi? Sebuah studi terbaru bahkan menemukan bahwa peringatan transparansi AI tidak cukup untuk mencegah dampak buruk deepfake. Ini membuktikan bahwa akal sehat manusia, kejelian dalam memfilter informasi, dan kemampuan untuk berpikir kritis, jauh lebih berharga daripada label-label kecil yang bisa diabaikan. Untuk mengasah kemampuan ini, Majikan bisa mengikuti kelas Belajar AI | Visual AI agar tidak kalah canggih dari robot.
‘Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.’
Para penyedia AI besar ini seolah ingin “punya kue dan memakannya juga.” Mereka bicara tentang otentisitas, tapi profit dari “sampah AI.” OpenAI menghasilkan pendapatan dari langganan ChatGPT dan Sora, Meta dari langganan premium Instagram, Facebook, dan WhatsApp. Bahkan YouTube, yang katanya ingin memerangi konten tidak autentik, melihat 10 persen saluran tercepatnya diisi oleh “sampah AI.” Ini jelas merupakan konflik kepentingan yang membuat mereka tidak bisa bertanggung jawab penuh. Bukankah begitu, para Majikan? Agar kamu tidak terjerumus pada janji manis AI, kamu perlu mengendalikan AI agar kamu tetap menjadi Majikan, bukan babu teknologi. Yuk, kuasai AI dengan AI Master.
Memang benar, teknologi AI generatif bisa mengurangi hambatan skill dan waktu dalam membuat konten visual. Namun, justru ini yang menyebabkan banjir konten serupa yang berebut perhatian kita. Akibatnya, kita harus meluangkan lebih banyak waktu untuk menyaringnya. Ini bukan lagi soal efisiensi, tapi justru pemborosan waktu. Seperti kata Ben Colman, “Platform telah sepenuh hati merangkul deepfake dan sampah AI, karena seperti konten inflamasi atau berbahaya lainnya yang ada untuk memicu kemarahan, memicu kontroversi, dan dengan demikian memicu keterlibatan, itu adalah jenis konten lain untuk membuat pengguna tetap di platform lebih lama dan mendorong lebih banyak iklan.” Apakah kamu mau akal sehatmu dikorbankan demi iklan yang lebih banyak?
Pada akhirnya, upaya untuk membuktikan keaslian konten di dunia digital ini terasa sia-sia. C2PA hanyalah “sistem kehormatan yang dimuliakan” yang tidak pernah dirancang untuk menjadi solusi deepfake pamungkas. Mosseri sendiri, di akhir keluhannya, menyatakan bahwa kreator Instagram harus “nyata, transparan, dan konsisten” untuk menonjol di “dunia kelimpahan tak terbatas dan keraguan tak terbatas.” Tapi, kalau semudah itu, dari dulu tombol “Saya bukan robot” sudah menyelesaikan masalah. Kalau Majikan ingin membuat konten yang benar-benar profesional dan otentik tanpa harus khawatir dengan “sampah AI” dan deepfake, saatnya gunakan Creative AI Pro untuk menghasilkan konten pro mandiri, hemat budget talent, dan tanpa drama “robot kurang piknik”.
Ingatlah wahai Majikan, AI itu hanya alat. Secanggih apa pun dia, tetap butuh sentuhan akal manusia untuk mengarahkan dan memilah. Tanpa dirimu menekan tombol, ia hanyalah tumpukan kode mati yang bisu. Lagipula, siapa yang mau tehnya dibuatkan robot tapi kopinya minta diseduh barista ganteng? Prioritas, kawan, prioritas.
Sumber Berita: Artikel ini dirangkum dari sumber asli di The Verge.
Gambar oleh: Cath Virginia / The Verge, Getty Images via TechCrunch